KONSULTASI
Logo

Pertamina Bidik Sawit dan Limbahnya Jadi Andalan Ketahanan Energi Nasional

30 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Pertamina Bidik Sawit dan Limbahnya Jadi Andalan Ketahanan Energi Nasional

sawitsetara.co - JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi pengembangan energi berbasis kelapa sawit untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Tidak hanya memanfaatkan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), perusahaan juga mulai mengembangkan pemanfaatan limbah tandan kosong sawit (TKS) sebagai bahan baku bioenergi.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan Indonesia memiliki modal sumber daya yang besar untuk membangun ketahanan energi berbasis biomassa. Menurut dia, potensi tersebut harus dioptimalkan agar mampu menggantikan sebagian kebutuhan energi yang selama ini masih dipenuhi dari impor.

“Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Crude Palm Oil) dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi,” ujar Oki saat menjadi pembicara dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Apj

Oki menilai bioenergi berbasis sawit merupakan salah satu solusi yang realistis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menyebut Indonesia memiliki ketersediaan biomassa dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Selain meningkatkan pasokan energi domestik, pengembangan bioenergi juga dinilai mampu mendukung target dekarbonisasi, terutama di sektor transportasi. Di saat yang sama, pengolahan biomassa menjadi energi dinilai dapat mendorong terciptanya ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Untuk mendukung agenda tersebut, Pertamina membangun ekosistem biofuel dari hulu hingga hilir. Pengembangan dilakukan mulai dari penyediaan bahan baku, penguatan teknologi pengolahan di kilang, hingga distribusi produk bioenergi kepada masyarakat.

Salah satu implementasi strategi itu adalah program biodiesel B50 yang kini dijalankan pemerintah. Program tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pemanfaatan biodiesel terbesar di dunia. Hingga saat ini, distribusi biodiesel telah menjangkau 86 dari total 121 Terminal BBM milik Pertamina di berbagai wilayah.

Apj

Selain biodiesel, Pertamina juga mengembangkan bioetanol sebagai upaya menekan impor bensin. Salah satu proyek yang tengah disiapkan ialah pembangunan fasilitas bioetanol di Glenmore dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun. Fasilitas itu diproyeksikan mendukung target implementasi pencampuran bahan bakar E10 sesuai peta jalan pemerintah.

Di sisi lain, Pertamina mulai melirik potensi limbah tandan kosong sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan potensi mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dapat diolah menjadi bioetanol.

Menurut Oki, tantangan utama saat ini terletak pada proses hilirisasi, yakni mengubah tandan kosong sawit menjadi glukosa sebelum difermentasi menjadi bioetanol.

“Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia,” kata Oki.

Pemanfaatan limbah sawit tersebut, menurut dia, tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri sawit dan masyarakat di daerah sentra perkebunan.

Tags:

limbah sawit

Berita Sebelumnya
Gubernur Kaltara Dorong Koperasi Sawit Rakyat Berbenah, Soroti Tata Kelola hingga Digitalisasi

Gubernur Kaltara Dorong Koperasi Sawit Rakyat Berbenah, Soroti Tata Kelola hingga Digitalisasi

Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang menilai penguatan koperasi kelapa sawit rakyat menjadi salah satu prasyarat untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri sawit di daerah.

29 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *