KONSULTASI
Logo

Lidi Sawit Jadi Pintu Masuk Hilirisasi Petani hingga Pasar Tiongkok

14 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorEditor
Lidi Sawit Jadi Pintu Masuk Hilirisasi Petani hingga Pasar Tiongkok

sawitsetara.co – JAKARTA — Produk turunan kelapa sawit mulai membuka jalur baru bagi petani untuk mendapatkan nilai tambah di luar penjualan tandan buah segar (TBS). Salah satunya lidi sawit yang kini telah menembus pasar ekspor hingga Tiongkok.

Keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi antara petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR), Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta Arra Setya Abadi (ASA). Produk yang sebelumnya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal itu dikembangkan agar memenuhi spesifikasi pasar internasional.

Potensi tersebut dibahas dalam Podcast Bincang UMKM Perkebunan di Roemah Episode II bertema “Dari Roemah ke Dunia: Cerita UMKM Perkebunan Menembus Pasar Ekspor” di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta.

DPP

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan lidi sawit memiliki peluang besar untuk menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat perdesaan. Menurut dia, produk tersebut merupakan salah satu komoditas yang relatif mudah dikembangkan dengan potensi pasar yang luas.

“Lidi sawit ini merupakan salah satu potensi yang sangat besar ini low hanging fruit yang bisa menjadi potensi untuk menggerakkan masyarakat kita, khususnya di desa-desa, untuk menjadi penghasil dolar,” ujar Helmi dalam diskusi tersebut.

BPDP kemudian memfasilitasi peningkatan kapasitas petani melalui workshop dan pendampingan ekspor. Upaya itu diarahkan agar petani tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mampu mengolah produk sampingan sawit menjadi komoditas bernilai ekonomi dan berorientasi pasar global.

Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, mengatakan proses tersebut tidak berlangsung singkat. Petani harus menyesuaikan proses pengolahan dan kualitas lidi dengan kebutuhan pasar ekspor yang berbeda dari penggunaan di dalam negeri.

“Tidak ujug-ujug bisa ekspor. Memang perjalanannya panjang,” ujar Setiyono.

DPP

Pendampingan bersama ASA dan BPDP akhirnya menghasilkan lidi sawit yang memenuhi kualifikasi eksportir. Produk tersebut kemudian dikirim ke pasar Tiongkok dalam dua kontainer berukuran 40 kaki dengan kapasitas sekitar 30 ton per kontainer.

Salah satu pengiriman berasal dari Langkat dengan volume mencapai 30.000 kilogram lidi sawit dalam satu kontainer. Capaian itu menunjukkan bahwa produk sampingan sawit dari tingkat petani memiliki peluang untuk masuk ke rantai perdagangan internasional ketika kualitas, kapasitas produksi, dan akses pasar dibangun secara bersama.

Ke depan, BPDP dan ASPEKPIR akan memperluas pendampingan kepada petani serta mengembangkan produk turunan sawit lainnya. Salah satu yang disiapkan adalah biochar, sehingga semakin banyak petani dan pelaku UMKM perkebunan dapat menghasilkan produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor.

Tags:

Berita SawitSawitlimbah sawit

Berita Sebelumnya
Mahasiswa USU Angkat Potensi POME Lewat Infografis, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Internasional

Mahasiswa USU Angkat Potensi POME Lewat Infografis, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Internasional

Dua mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) mengolah isu limbah sawit menjadi karya berbasis data. Theodora Sibuea dan Edric Roland Li, mahasiswa stambuk 2023, berhasil meraih Juara Harapan 2 sekaligus Favorite Infographic dalam Dokter Data International Statistic Competition 2026.

12 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *