
sawitsetara.co – Sektor kelapa sawit kembali menunjukkan peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah. Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi motor utama realisasi investasi yang mencapai Rp41,05 miliar pada Triwulan III 2026.
Dari total investasi tersebut, sektor perkebunan dan pertanian kelapa sawit menyumbang nilai terbesar, yakni Rp24,5 miliar. Sementara itu, industri CPO mencatatkan investasi sebesar Rp13,956 miliar. Jika digabungkan, kedua sektor berbasis kelapa sawit ini berkontribusi sekitar Rp38,46 miliar atau lebih dari 93% terhadap total investasi yang dilaporkan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Nagan Raya yang juga menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah, Hizbulwatan, mengatakan realisasi investasi pada periode tersebut menunjukkan dominasi sektor sawit dalam struktur penanaman modal daerah.
“Dari total investasi tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp21,319 miliar atau sekitar 52%. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp19,734 miliar atau sekitar 48%,” ujar Hizbulwatan.
Menurutnya, besarnya kontribusi perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan CPO menegaskan posisi komoditas tersebut sebagai salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi di Nagan Raya.
Selain perkebunan dan industri CPO, investasi di Nagan Raya juga mengalir ke sejumlah sektor usaha lainnya. Pembangkitan tenaga listrik mencatatkan investasi sebesar Rp1,57 miliar, disusul angkutan bermotor untuk barang umum sebesar Rp381,10 juta dan pertambangan batu bara sebesar Rp286,09 juta.
Investasi lainnya berasal dari industri produk berbasis batu bara senilai Rp282,47 juta, perdagangan besar bahan bakar sebesar Rp55,36 juta, serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian sebesar Rp6,30 juta.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa investasi di Nagan Raya tidak hanya bertumpu pada sektor perkebunan, tetapi juga mencakup energi, transportasi, perdagangan, dan pertambangan. Meski demikian, kelapa sawit masih menjadi sektor yang paling menonjol dalam menarik penanaman modal.
Berdasarkan tahapan kegiatan usaha, realisasi PMDN pada tahap konstruksi mencapai Rp11,52 miliar atau sekitar 54%. Adapun investasi pada tahap produksi tercatat sebesar Rp9,80 miliar atau sekitar 46% dari total PMDN.
Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, mengatakan capaian investasi tersebut merupakan hasil sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.
“Capaian ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun iklim investasi yang kondusif,” kata Teuku Raja Keumangan.
Bupati yang akrab disapa TRK itu menegaskan, pemerintah daerah akan terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada investor, terutama melalui proses perizinan yang cepat, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, peningkatan investasi harus memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar tercermin dari besarnya nilai penanaman modal.
“Fokus kami tidak hanya pada nilai investasi, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Pemkab Nagan Raya berharap investasi yang masuk dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.
Pemerintah daerah juga berkomitmen menjaga iklim usaha yang kondusif guna meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong masuknya penanaman modal pada periode berikutnya.
Dengan dominasi sektor perkebunan kelapa sawit dan industri CPO, perkembangan investasi di Nagan Raya sekaligus memperlihatkan pentingnya penguatan sektor hilir agar aktivitas ekonomi berbasis sawit dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah dan masyarakat.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *