KONSULTASI
Logo

El Nino Hantam Sawit Indonesia, Produksi Terancam Anjlok dan Petani Kian Terjepit

19 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
El Nino Hantam Sawit Indonesia, Produksi Terancam Anjlok dan Petani Kian Terjepit

sawitsetara.co – JAKARTA — Produksi minyak sawit Indonesia menghadapi tekanan akibat fenomena super El Nino. Kekeringan berkepanjangan tidak hanya menghambat pengangkutan minyak sawit, tetapi juga memperlambat pematangan buah dan mengganggu aktivitas pengolahan di sejumlah daerah sentra produksi.

Analis memperkirakan produksi minyak sawit di wilayah Kalimantan berpotensi turun 12–15 persen pada kuartal IV-2026. Di tengah risiko tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah memangkas proyeksi produksi minyak sawit nasional pada 2026 sebesar 2,9 persen.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tekanan cukup besar. Menurut laporan Reuters pada Senin (19/10/2026), provinsi tersebut menyumbang sekitar 11 persen produksi minyak sawit nasional.

Kekeringan ekstrem juga menurunkan permukaan Sungai Kapuas. Gangguan itu menghambat pengiriman CPO dan membuat persediaan di pabrik menumpuk.

Gangguan Distribusi Tekan Produksi

Sungai Kapuas memiliki panjang sekitar 1.143 kilometer dan menjadi jalur utama pengangkutan minyak sawit di Kalimantan Barat. Data GAPKI menunjukkan sekitar 40 persen produksi minyak sawit provinsi tersebut diangkut melalui jalur perairan. Namun, penurunan permukaan air memunculkan gosong pasir di sepanjang sungai. Sejumlah tongkang dan kapal tunda dilaporkan kandas sehingga pengiriman minyak sawit terhambat.

Pengangkutan melalui jalur darat belum mampu menggantikan kapasitas tongkang. Selain jumlah truk yang terbatas, kemampuan angkutnya jauh lebih kecil.

Kepala GAPKI Kalimantan Barat Aris Supratman mengatakan, 13 dari 50 pabrik kelapa sawit di provinsi itu terdampak gangguan transportasi. Pabrik-pabrik tersebut mewakili sekitar separuh kapasitas pengolahan sawit di Kalimantan Barat. Aris memperkirakan pasokan minyak sawit dari provinsi tersebut turun sekitar 11 persen pada September dibandingkan Agustus. Penumpukan persediaan dan keterlambatan pengiriman menjadi faktor utama.

“Akibat gangguan tersebut, pengiriman mengalami penundaan. Ketika tangki penyimpanan mereka penuh, mau tidak mau mereka harus membatasi produksi,” ujarnya.

Keterbatasan pengiriman membuat pabrik tidak leluasa mengolah dan menerima hasil panen. Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis terhadap rantai pasok, mulai dari transportasi hingga penyerapan TBS petani.

tamplate

Kekeringan Berlangsung Lebih Lama

Petani di Kalimantan Barat menyebut kekeringan tahun ini lebih panjang dibandingkan pengalaman sebelumnya. El Nino pada 2015 dan 2018 dilaporkan menyebabkan kondisi serupa selama sekitar satu bulan.

Kali ini, penurunan permukaan Sungai Kapuas dan gangguan transportasi telah berlangsung sekitar dua bulan. BMKG memperkirakan awal musim hujan mundur dari Oktober menjadi November. Pergeseran tersebut berpotensi memperpanjang periode surutnya sungai dan menunda pemulihan transportasi.

Kekeringan juga berdampak pada kondisi lingkungan. Sungai dan sumur di sejumlah wilayah Indonesia mengering, sementara kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kalimantan serta Sumatra. Asap bahkan menyelimuti sejumlah wilayah hingga mencapai Malaysia dan Singapura.

Laporan Reuters turut menyebut Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan terparah dalam 11 tahun terakhir.

Produktivitas Kebun Rakyat Ikut Terancam

Tekanan terhadap produksi tidak hanya berasal dari gangguan pengangkutan. Cuaca kering juga dapat memperlambat pematangan buah sawit, sehingga memengaruhi hasil kebun.

Di Kalimantan Barat, kesulitan menjual TBS ikut mengurangi kemampuan petani membiayai perawatan tanaman. Indra Rustandi, kepala cabang APKASINDO Kalimantan Barat, mengatakan sebagian petani memangkas penggunaan pupuk hingga 70 persen demi menghemat biaya operasional.

Pengurangan pemupukan berpotensi menekan produktivitas apabila berlangsung lama. Dampaknya dapat berlanjut setelah gangguan distribusi berakhir, terutama jika pemeliharaan kebun tidak segera dipulihkan.

Sementara itu, petani Rahmat Wiyono mengaku kesulitan menjual hasil panen selama dua bulan terakhir. Ia terkadang harus menempuh perjalanan enam jam untuk menjual TBS seharga Rp2.650 per kilogram, lebih rendah daripada Rp3.400 per kilogram yang biasanya diterima di pabrik langganannya. Sebagian petani lain bahkan dilaporkan tidak memperoleh hasil penjualan selama dua bulan dan harus mencari sumber penghasilan tambahan.

Rangkaian kondisi tersebut memperlihatkan risiko El Nino terhadap industri sawit dari sisi produksi maupun distribusi. Jika kekeringan berlanjut dan pengiriman belum pulih, penurunan produktivitas kebun dapat beriringan dengan terbatasnya kemampuan pabrik menyerap TBS. dengan proyeksi penurunan produksi nasional sebesar 2,9 persen pada 2026, perkembangan cuaca, kondisi sungai, dan pemulihan jalur logistik menjadi faktor penting yang perlu dicermati pada kuartal IV tahun ini.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku alternatif untuk budidaya jamur tiram. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan pemanfaatan limbah sawit tersebut sebagai upaya membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

17 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *