
sawitsetara.co - JAKARTA - Selama hampir dua abad, kelapa sawit Indonesia berjalan dalam satu arah yang sama: tumbuh luas, tetapi tak pernah benar-benar dewasa secara kelembagaan. Sejak diperkenalkan pada 1848, sawit telah menjadi raksasa agraria yang didominasi perusahaan perkebunan besar.
Kehadiran petani yang masif baru dimulai pada era 1970an ketika Pemerintah mengembangkan model Perusahaan Inti-Rakyat (PIR). Sekarang, perkebunan kelapa sawit petani sudah mencapai lebih dari 6 juta hektar, jutaan petani, ratusan triliun rupiah nilai produksi. Namun di balik skala itu, struktur ekonominya tetap dangkal. Petani berada di hulu, terputus dari hilir, dan terperangkap pada peran sebagai price taker dalam rantai nilai global.
Di titik inilah paradoks sejarah muncul. Di satu sisi ada 177 tahun tropikanisasi sawit yang berjalan timpang—sumber daya tropis dikelola lama tetapi tidak naik kelas. Di sisi lain, ada kisah yang jauh lebih singkat namun mengganggu kenyamanan teori pembangunan: perjalanan Credit Union Keling Kumang. Dalam 32 tahun, lembaga akar rumput ini mampu membangun ekosistem ekonomi yang tidak hanya inklusif, tetapi juga kompleks, disiplin, dan modern.
Pertanyaannya sederhana namun radikal: bagaimana jika DNA kelembagaan Keling Kumang—kepercayaan, demokrasi ekonomi, pendidikan, dan akumulasi modal bersama—ditransplantasikan ke ekosistem sawit petani Indonesia? Mungkinkah 32 tahun sejarah baru mengoreksi 177 tahun sejarah lama?

Sawit yang Besar tetapi Dangkal
Masalah sawit Indonesia bukan rendahnya pendapatan semata. Rata-rata Rp 4 juta lebih per bulan per petani bukan angka yang memalukan. Persoalannya adalah struktur nilai. Petani berhenti di tandan buah segar, sementara lonjakan nilai sesungguhnya terjadi setelahnya—di pabrik, di laboratorium, di pasar global. Dari TBS ke CPO, dari CPO ke oleokimia, dari energi ke material maju, nilai berlipat justru dinikmati pihak lain.
Yang stagnan bukan hanya teknologi, tetapi kelembagaan. Selama puluhan tahun, petani sawit diperlakukan sebagai individu terfragmentasi atau plasma yang bergantung. Tidak ada akumulasi modal sosial yang sungguh-sungguh dikonversi menjadi kekuatan ekonomi kolektif.
Pelajaran dari Keling Kumang
Model Keling Kumang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus dimulai dari pabrik atau subsidi, tetapi dari kepercayaan dan disiplin kelembagaan. Dari komunitas petani subsisten, tumbuh koperasi dengan aset triliunan, risiko kredit rendah, dan bahkan institusi pendidikan sendiri. Modal sosial diubah menjadi modal finansial, lalu menjadi modal intelektual, dan akhirnya menjadi kapasitas industri.
Ini bukan keajaiban budaya lokal. Ini adalah desain.

Membayangkan Sawit yang Berdaulat
Jika logika ini diterapkan pada sawit, peta jalannya jelas: konsolidasi petani dalam koperasi primer yang serius, integrasi vertikal menuju pabrik, lalu diversifikasi hilir. Dalam skenario realistis, nilai yang selama ini bocor keluar bisa ditahan di dalam ekosistem petani—bukan sebagai mimpi, tetapi sebagai arsitektur ekonomi.
Dalam tiga dekade, sawit petani tidak lagi berhenti di TBS, tetapi bergerak ke energi, pangan, kimia hijau, dan ekonomi sirkular. Model ini bukan utopia. Jejaknya bisa dilihat pada koperasi agroindustri di negara lain seperti Nonghyup di Korea Selatan, Zen-Noh di Jepang, atau CHS di Amerika Serikat.

Dari Tropikanisasi Semu ke Tropikanisasi Sejati
Selama ini, tropikanisasi dipahami sebagai eksploitasi sumber daya tropis. Tropikanisasi sejati seharusnya berarti penguasaan pengetahuan tropis—bioteknologi sawit, oleokimia, agroforestri, dan ekonomi sirkular. Dan itu hanya mungkin jika kooperatisasi tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi mesin pengelola kompleksitas.
Kooperasi dalam konteks ini bukan nostalgia ekonomi rakyat. Ia adalah laboratorium demokrasi ekonomi, wahana inovasi teknologi, dan sekaligus aktor geopolitik nilai tambah.
Pilihan Sejarah
Indonesia kini berada di persimpangan. Kita bisa terus membiarkan sawit berjalan di jalur lama—besar, tetapi rapuh dan timpang. Atau kita berani membuka jalur baru: sawit petani yang terkooperasikan, terindustrialisasi, dan berdaulat.
Pelajaran dari Keling Kumang tegas: waktu bukan musuh. Desainlah yang menentukan. Tiga dekade dengan desain kelembagaan yang tepat bisa jauh lebih transformatif daripada hampir dua abad tanpa arah yang jelas.
Sejarah tidak pernah netral. Ia menunggu untuk ditulis ulang. Pertanyaannya bukan apakah perubahan itu mungkin, tetapi apakah kita cukup berani untuk memulainya—hari ini.
*Penulis adalah Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, Ph.D., Rektor IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *