KONSULTASI
Logo

Kajian IPB: Degradasi Hutan di Indonesia Terjadi Sebelum Sawit Masuk

29 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Kajian IPB: Degradasi Hutan di Indonesia Terjadi Sebelum Sawit Masuk
HOT NEWS

sawitsetara.co - BOGOR — Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Yanto Santoso, menyatakan bahwa kerusakan dan degradasi hutan di banyak wilayah Indonesia telah berlangsung jauh sebelum kelapa sawit dibudidayakan. Fakta ini menunjukkan bahwa sawit tidak dapat diposisikan sebagai penyebab tunggal hilangnya hutan primer.

Penjelasan tersebut didasarkan pada kajian riwayat perubahan tutupan lahan di berbagai provinsi yang dilakukan oleh International Panel on Social, Sustainability, and Environmental Studies (IPOSS). Kajian tersebut menelusuri kondisi awal lahan sebelum dikembangkan menjadi perkebunan sawit, baik oleh perusahaan maupun pekebun rakyat.

“Degradasi hutan di banyak lokasi sudah terjadi lebih dulu, sebelum sawit ditanam. Itu yang sering tidak terlihat dalam perdebatan publik,” kata Yanto Santoso, disarikan dari laman IPOSS, Kamis (29/1/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar 3 persen areal kelapa sawit di Indonesia yang berasal dari konversi langsung hutan primer. Sebaliknya, sebagian besar perkebunan sawit dikembangkan di atas lahan yang telah mengalami gangguan ekologis sebelumnya.

Sekitar 76 persen areal sawit berasal dari hutan yang sudah terdegradasi, sementara sisanya berasal dari bekas program transmigrasi, lahan pertanian masyarakat, serta penggunaan sektor lain. Kondisi lahan-lahan tersebut umumnya telah kehilangan sebagian fungsi ekologisnya akibat aktivitas terdahulu.

“Anggapan bahwa seluruh sawit dibangun di atas hutan alami yang masih utuh tidak sesuai dengan temuan lapangan,” ujar Yanto.

Sawit Setara Default Ad Banner

Di sejumlah wilayah, khususnya Pulau Sumatera, perubahan tutupan lahan bahkan diawali oleh kegiatan pertanian komoditas lain seperti tembakau dan tanaman pangan. Sawit kemudian hadir sebagai tanaman pengganti pada lahan yang telah lama dimanfaatkan.

“Perubahan tutupan lahan itu adalah proses panjang yang melibatkan banyak sektor ekonomi sebelum sawit masuk,” kata Yanto.

Ia menjelaskan bahwa dampak ekologis dari pembukaan lahan sangat bergantung pada status awal tutupan lahan tersebut. Konversi hutan primer membawa risiko kehilangan keanekaragaman hayati paling besar, sementara perubahan pada hutan sekunder atau lahan terbuka memiliki dampak yang relatif lebih rendah.

“Karena itu, diskusi soal deforestasi tidak boleh dilepaskan dari konteks sejarah penggunaan lahan,” ujarnya.

Yanto menilai, pemahaman berbasis data ilmiah ini penting untuk merumuskan kebijakan pengelolaan sawit yang lebih adil dan bertanggung jawab, sekaligus membangun narasi lingkungan yang lebih proporsional dan berimbang.

Tags:

Lahan Sawit

Berita Sebelumnya
Dari Raja Rempah ke Raja Sawit: Indonesia Masih Terjebak sebagai Pemasok Dunia

Dari Raja Rempah ke Raja Sawit: Indonesia Masih Terjebak sebagai Pemasok Dunia

Indonesia telah menjadi pusat komoditas global selama lebih dari seribu tahun, dari kejayaan rempah-rempah pada abad pertengahan hingga dominasi kelapa sawit di abad ke-21.

28 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *