
sawitsetara.co - JAKARTA — Narasi tentang hubungan antara perkebunan sawit dan bencana tanah longsor kembali diuji oleh data resmi pemerintah. Di balik anggapan yang kerap beredar, statistik justru menunjukkan cerita yang berbeda—lebih kompleks, dan jauh dari simplifikasi.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, sepanjang 2010 hingga 2021 terjadi 3.952 kejadian tanah longsor di seluruh Indonesia. Namun, dari ribuan peristiwa itu, tidak ditemukan keterkaitan langsung dengan keberadaan perkebunan kelapa sawit.
Temuan ini sejalan dengan rujukan dalam Industri Minyak Sawit Indonesia Dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, yang merangkum distribusi kejadian longsor selama lebih dari satu dekade terakhir. Alih-alih terkonsentrasi di wilayah sentra sawit, sebagian besar bencana justru terjadi di daerah yang tidak memiliki basis perkebunan tersebut.
Jawa Tengah, misalnya, muncul sebagai episentrum longsor nasional. Provinsi ini mencatat 2.655 kejadian—sekitar 63 persen dari total nasional. Angka yang mencolok ini menempatkan wilayah yang dikenal padat penduduk dan bergunung-gunung itu sebagai kawasan paling rentan, meski bukan daerah pengembangan sawit.
Di luar Jawa, pola serupa juga terlihat. Bali menempati posisi kedua dengan 219 kejadian atau sekitar 5 persen. Pulau yang identik dengan pariwisata ini pun tidak memiliki perkebunan sawit skala luas.
Sementara itu, dari lima besar wilayah dengan frekuensi longsor tertinggi, hanya satu yang termasuk sentra sawit: Kalimantan Timur, dengan 177 kejadian atau sekitar 4 persen. Selebihnya, Sulawesi Selatan (156 kejadian) dan DI Yogyakarta (132 kejadian) kembali menegaskan dominasi wilayah non-sentra.
Perbandingan ini menghadirkan kontras yang tajam. Di satu sisi, daerah non-sawit mendominasi statistik bencana. Di sisi lain, wilayah sentra sawit justru hanya menyumbang porsi relatif kecil.
Data tahun 2022 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana semakin mempertegas pola tersebut. Distribusi longsor tersebar merata dari barat hingga timur Indonesia, dengan banyak daerah tanpa perkebunan sawit justru mengalami intensitas kejadian lebih tinggi.
Provinsi lain seperti Sumatera Utara (99 kejadian), Sumatera Selatan (91), Banten (84), hingga Nusa Tenggara Timur (82) mencatat angka di bawah lima persen, namun tetap memperlihatkan bahwa kerentanan longsor tidak bergantung pada satu jenis penggunaan lahan.
Fenomena ini mengarah pada kesimpulan yang lebih mendasar: tanah longsor adalah hasil interaksi berbagai faktor. Topografi curam, struktur geologi, serta curah hujan tinggi menjadi variabel yang jauh lebih menentukan dibanding sekadar jenis komoditas yang ditanam di atasnya.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *