KONSULTASI
Logo

Narasi vs Data: Sawit Hanya 12 Persen dari Daratan Kalimantan

19 Maret 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Narasi vs Data: Sawit Hanya 12 Persen dari Daratan Kalimantan

sawitsetara.co - JAKARTA — Pulau Kalimantan kerap dijuluki paru-paru dunia. Julukan itu bukan tanpa alasan. Dari total luas daratan sekitar 53 juta hektare, sebagian besar wilayahnya masih didominasi kawasan hutan.

Data terbaru menunjukkan, penggunaan ruang untuk kawasan hutan—baik yang masih berhutan maupun tidak—mencapai 36,5 juta hektare. Angka ini merepresentasikan sekitar 77,4 persen dari total luas daratan Pulau Borneo.

Idul Fitri

Di tengah narasi global tentang ekspansi perkebunan, luas kebun kelapa sawit di Kalimantan justru masih relatif terbatas. Merujuk pada buku Industri Minyak Sawit Indonesia Dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global edisi keempat, total arealnya tercatat 5,82 juta hektare. Itu hanya sekitar 12,3 persen dari seluruh daratan.

Perkebunan sawit memang tumbuh pesat, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Namun, tudingan bahwa ekspansi sawit menjadi penyebab utama hilangnya habitat keanekaragaman hayati dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan distribusi penggunaan lahan yang ada.

Pemerintah Indonesia, di sisi lain, tetap mengunci ruang konservasi dalam skala besar. Kawasan hutan lindung dan konservasi di seluruh Kalimantan mencapai sekitar 12 juta hektare. Upaya pelestarian dilakukan melalui pendekatan in situ—di habitat asli—dan ex situ di luar habitat.

Idul Fitri

Benteng utama perlindungan itu berada di taman-taman nasional. Taman Nasional Betung Kerihun membentang sekitar 8.000 kilometer persegi. Taman Nasional Kayan Mentarang bahkan lebih luas, mencapai 13.605 kilometer persegi. Sementara Taman Nasional Tanjung Puting mencakup 4.150 kilometer persegi.

Di kawasan-kawasan inilah satwa langka bertahan: orangutan Kalimantan, bekantan, beruang madu, hingga burung enggang. Flora khas seperti ulin, anggrek, dan kantong semar juga tetap menemukan ruang hidupnya.

Kalimantan Timur memberi contoh lebih rinci. Provinsi ini mengalokasikan sekitar 1,5 juta hektare untuk dua taman nasional, ditambah dua cagar alam seluas 178,5 ribu hektare, serta satu suaka margasatwa seluas 103 hektare.

Beberapa kawasan memiliki kekhasan tersendiri. Cagar Alam Padang Luwai dikenal sebagai habitat anggrek hitam dan pasak bumi. Cagar Alam Muara Kaman Sedulang melindungi pesut Mahakam dan monyet ekor panjang. Sementara Cagar Alam Teluk Apar menjadi rumah bagi ekosistem mangrove dan burung raja udang.

Struktur ruang ini menunjukkan satu hal: hutan masih menjadi wajah utama Kalimantan. Di saat yang sama, industri kelapa sawit tetap berkembang. Keduanya berjalan berdampingan—menyisakan narasi bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak selalu harus saling meniadakan.


Berita Sebelumnya
Ahok Bongkar “Borok” Inti Plasma Sawit: Tawarkan Model Koperasi Desa Lebih Adil untuk Petani

Ahok Bongkar “Borok” Inti Plasma Sawit: Tawarkan Model Koperasi Desa Lebih Adil untuk Petani

Menurut Ahok, konsep inti plasma yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi pemberdayaan petani justru kerap menyimpang dalam implementasinya. Ia bahkan menuding adanya praktik-praktik yang merugikan masyarakat, salah satunya melalui penggunaan sistem nominee.

18 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *