KONSULTASI
Logo

Pilih Underplanting atau PSR? Petani Sawit di Rohil Ceritakan Perbedaan Hasilnya

9 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Pilih Underplanting atau PSR? Petani Sawit di Rohil Ceritakan Perbedaan Hasilnya
HOT NEWS

sawitsetara.co - ROKAN HILIR — Di antara barisan pohon sawit, dua cara peremajaan memperlihatkan perbedaan. Sebagian petani menyisipkan bibit baru tanpa menumbangkan tanaman lama. Sebagian lainnya memilih menebang sawit tua dan menanam kembali melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Bagi petani, pilihan itu bukan perkara sederhana. Menebang sawit berarti kehilangan sumber pendapatan utama selama tanaman baru belum menghasilkan. Namun, mempertahankan sawit tua sambil menyisipkan bibit juga memiliki konsekuensi terhadap pertumbuhan tanaman.

Warsito, petani peserta PSR di Bagan Sinembah, Rokan Hilir, Riau, memahami kekhawatiran tersebut. Ia merupakan anggota Koperasi Produsen Gabungan Petani Sawit Rakyat binaan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).

Menurut Warsito, sebagian petani memilih underplanting karena masih membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Biaya sekolah anak dan belanja sehari-hari membuat keputusan menumbangkan sawit tua terasa berat.

WhatsApp Image 2026-10-09 at 10.39.23.jpeg

Namun, dari pengamatannya, menyisipkan bibit di antara pohon lama justru membuat tanaman muda tumbuh lebih lambat. Pohon lama yang masih berdiri turut membatasi ruang tumbuh tanaman muda. Persaingan mendapatkan cahaya dan unsur hara dapat memengaruhi perkembangan tanaman yang disisipkan.

Warsito memperkirakan sawit yang ditanam melalui cara tersebut baru mulai menghasilkan pada umur lima hingga enam tahun. Sementara itu, kebun yang menjalani PSR dipersiapkan melalui penumbangan tanaman lama dan penanaman kembali menggunakan bibit unggul sesuai ketentuan program.

“Kalau seperti ini, dia paling enggak baru berproduksi lima sampai enam tahun baru produksi. Ya, berebut makanannya itu karena lindung dia,” ujarnya.

Bagi Warsito, perbedaan itu menjadi salah satu alasan petani perlu mempertimbangkan peremajaan secara terencana. Meski demikian, ia memahami bahwa keputusan mengikuti PSR tetap membutuhkan kesiapan, terutama untuk menghadapi masa ketika sawit belum menghasilkan.

apkasindo

Menanam di sela masa tunggu

Kebun Warsito memberikan gambaran tentang pilihan yang diambilnya. Setelah menjalani PSR, tanaman sawitnya kini berumur sekitar delapan tahun.

Ia mengingat produksi kebunnya sebelum peremajaan hanya sekitar satu ton setiap dua minggu. Setelah mengikuti program PSR, hasil panennya meningkat menjadi sekitar dua ton dalam periode yang sama. Artinya, berdasarkan pengalamannya, produksi kebun Warsito kini mencapai sekitar empat ton per bulan.

“Sebelum saya melakukan program PSR, hasil kebun sawit saya hanya setengah bulan sekali dan mendapat satu ton. Sekarang setelah melakukan program PSR, hasil kebun sawit saya meningkat menjadi dua ton per setengah bulan sekali,” kata Warsito.

WhatsApp Image 2026-10-09 at 10.39.23 (1).jpeg

Peningkatan tersebut menjadi pengalaman yang ia rasakan setelah meremajakan kebun. Hasilnya tentu tidak otomatis sama pada setiap petani karena produktivitas dipengaruhi kualitas bibit, kondisi lahan, pemeliharaan, dan faktor budidaya lainnya.

Tetapi ada satu persoalan yang harus dihadapi setiap petani ketika memulai peremajaan: bagaimana memenuhi kebutuhan rumah tangga sebelum sawit kembali menghasilkan? Warsito memilih tidak membiarkan lahannya kehilangan fungsi ekonomi selama masa tunggu. Ia menanam tanaman palawija, seperti kacang panjang dan jagung, serta pepaya.

“Sebelum ada produksinya, mengikuti program PSR ini saya menanam-menanam palawija. Seperti kacang panjang, jagung, ada pepaya,” ujarnya.

WhatsApp Image 2026-10-08 at 11.17.00.jpeg

Tanaman sela tersebut menjadi salah satu cara untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga ketika pendapatan dari sawit belum tersedia. Petani tetap memanfaatkan lahan sambil menunggu tanaman utama tumbuh dan memasuki masa produksi.

Strategi ini juga menjawab salah satu kekhawatiran yang kerap muncul ketika petani mempertimbangkan PSR. Penumbangan sawit memang menghentikan panen dari tanaman lama, tetapi bukan berarti lahan harus dibiarkan kosong tanpa sumber penghasilan alternatif.

apkasindo

Tak hanya menumbangkan pohon tua

Peremajaan sawit membutuhkan perencanaan. Petani harus mempersiapkan administrasi, memilih bibit yang sesuai, merawat tanaman, dan mengatur kebutuhan rumah tangga selama masa tunggu. Warsito juga mengapresiasi dukungan APKASINDO, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta PT Koeboeraya Bangun Perkasa dalam pelaksanaan PSR yang diikutinya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada BPDP yang telah membantu program PSR ini untuk petani,” katanya.

Pengalaman Warsito memperlihatkan bahwa keputusan meremajakan sawit tidak berhenti pada penebangan pohon tua. Petani juga perlu memikirkan cara menjaga penghidupan sampai tanaman baru menghasilkan. Di satu sisi, ada kebutuhan keluarga yang tidak bisa menunggu. Di sisi lain, kebun membutuhkan peremajaan agar dapat kembali produktif.

Bagi Warsito, tanaman sela menjadi salah satu jembatan di antara dua kebutuhan tersebut. Sawit muda terus tumbuh, sementara jagung, kacang panjang, dan pepaya membantu mengisi masa penantian. Sebab, meremajakan kebun bukan sekadar mengakhiri masa produksi tanaman lama. Bagi petani, langkah itu juga berarti mempersiapkan sumber penghidupan untuk tahun-tahun berikutnya.

Tags:

Berita SawitPSRperemajaan sawit rakyat

Berita Sebelumnya
DPP APKASINDO Minta Raperda Babel Permudah PSR dan Perkuat Manfaat DBH Sawit

DPP APKASINDO Minta Raperda Babel Permudah PSR dan Perkuat Manfaat DBH Sawit

Persoalan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), legalitas kebun dan pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH) sawit menjadi perhatian DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) saat menerima kunjungan kerja Panitia Khusus (Pansus) Raperda Penataan Usaha Perkebunan Kelapa Sawit (PUPKS) DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

8 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *