KONSULTASI
Logo

Pemerintah Siapkan Roadmap B50-B60, Sawit Didorong Jadi Pilar Kemandirian Energi

17 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Pemerintah Siapkan Roadmap B50-B60, Sawit Didorong Jadi Pilar Kemandirian Energi
HOT NEWS

sawitsetara.co – Pemerintah mulai mematangkan langkah menuju implementasi biodiesel B50 hingga B60 dengan menyiapkan roadmap dan berbagai aspek teknis. Pengembangan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Prof. Eniya Listiani Dewi mengatakan, sawit memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai sumber energi bagi sektor transportasi.

Menurut Eniya, kontribusi sektor sawit terhadap kebutuhan minyak nasional saat ini telah mencapai sekitar 300.000 barel per hari, sementara total kebutuhan minyak Indonesia berada di kisaran 1,6 juta barel per hari.

“Ini merupakan sumber daya besar bagi Indonesia. Langkah diversifikasi industri sawit ke sektor transportasi ini menjadi lompatan besar untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi,” ujar Eniya dalam sambutannya pada The 6th Palm Biodiesel Conference di Bali, Kamis (17/9/2026).

Pengembangan biodiesel nasional sebelumnya telah melalui penerapan B35 dan kemudian diperkuat menjadi B40. Pemerintah kini mulai menyiapkan tahapan lanjutan menuju penggunaan biodiesel dengan bauran sawit yang lebih tinggi, yakni B50 hingga B60.

Eniya menjelaskan, pemerintah tengah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun roadmap sekaligus memastikan kesiapan teknis sebelum peningkatan mandatori tersebut diterapkan.

turut berduka

Kesiapan yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku. Pemerintah juga memperhitungkan kapasitas industri pengolahan, rantai pasok pascapanen atau off-farm, hingga kesiapan kendaraan dan berbagai moda transportasi.

“Persiapan tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan baku, tetapi juga kapasitas industri dan kesiapan kendaraan serta moda transportasi,” kata Eniya.

Penggunaan biofuel juga mulai diarahkan lebih luas, mencakup transportasi darat, perkeretaapian, hingga sektor maritim. Dengan demikian, peningkatan bauran biodiesel tidak hanya dipandang sebagai kebijakan energi, tetapi juga bagian dari upaya memperluas pemanfaatan produk sawit di dalam negeri.

Di balik agenda menuju B50 dan B60, program biodiesel selama ini juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar. Pemerintah mencatat implementasi program biodiesel telah menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp117 triliun. Selain itu, program tersebut turut meningkatkan nilai tambah industri CPO hingga sekitar Rp23,4 triliun.

Dampaknya juga dirasakan pada penyerapan tenaga kerja. Rantai pasok kelapa sawit dan industri biofuel diperkirakan telah menyerap lebih dari 2,1 juta tenaga kerja.

Dari sisi lingkungan, penggunaan biodiesel juga disebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Pemerintah mencatat reduksi emisi yang dikaitkan dengan program biodiesel telah mencapai lebih dari 44,5 juta ton CO2.

Strategi pengembangan energi berbasis sumber daya domestik pemerintah tidak berhenti pada biodiesel. Pemerintah juga tengah mengembangkan bahan bakar nabati lainnya, termasuk bioetanol dan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Untuk bioetanol, pemerintah menargetkan roadmap pengembangannya dapat dimatangkan pada 2028. Pemerintah juga menyambut rencana penyediaan lahan hingga 2 juta hektare yang dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mendukung pengembangan bahan baku.

turut berduka

Lahan tersebut diarahkan untuk budidaya tebu, termasuk pemanfaatan molases atau tetes tebu, serta komoditas jagung dan singkong sebagai bahan baku bioetanol.

Sementara untuk sektor penerbangan, pemerintah mendorong pengembangan bioavtur sebagai bagian dari upaya meningkatkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.

PT Pertamina (Persero) tengah menyiapkan fasilitas penyimpanan khusus bioavtur di dua bandara utama, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali.

Pemerintah juga merencanakan penerapan mandat penggunaan bioavtur sebesar 1% pada sektor penerbangan nasional.

Eniya menilai pengembangan berbagai jenis bahan bakar nabati tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mengoptimalkan sumber daya domestik dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

“Kita memiliki kekayaan alam yang melimpah. Dengan inovasi dan komitmen bersama seluruh stakeholders, Indonesia optimistis mampu mewujudkan kemandirian energi penuh dari hasil bumi sendiri,” pungkas Eniya.

Tags:

B50

Berita Sebelumnya
PASPI: Pencurian TBS Tak Bisa Serta-merta Dikaitkan dengan PKS Tanpa Kebun

PASPI: Pencurian TBS Tak Bisa Serta-merta Dikaitkan dengan PKS Tanpa Kebun

Tingginya harga tandan buah segar (TBS) dapat menjadi pemicu meningkatnya pencurian di perkebunan sawit. Ada dugaan hasil curian kemudian dijual ke pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun. Hal ini dapat terjadi lantaran PKS tanpa kebun tidak menerapkan syarat ketat bagi pemasok.

16 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *