KONSULTASI
Logo

Pakar Ilmu Tanah IPB, Basuki: Limbah Sawit Dapat Perkuat Ketahanan Ekonomi

14 April 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Pakar Ilmu Tanah IPB, Basuki: Limbah Sawit Dapat Perkuat Ketahanan Ekonomi
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Pakar ilmu tanah Institut Pertanian Bogor (IPB University) Basuki Sumawinata menilai optimalisasi pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dapat menjadi strategi nyata untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap pupuk kimia impor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Lebih lanjut, Basuki mengatakan limbah sawit limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) seharusnya tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber nutrisi strategis yang dapat dikembalikan ke sistem produksi pertanian.

"Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, limbah tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor," kata Basuki.


Sawit Setara Default Ad Banner

Basuki juga mengatakan, dengan produksi 50 juta ton minyak sawit, Indonesia menghasilkan sekitar 100 juta ton limbah per tahun dengan nilai Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata 25.000 ppm.

BOD merupakan ukuran jumlah oksigen terlarut yang digunakan oleh mikroorganisme dalam penguraian bahan organik.

"Limbah mengandung unsur hara lengkap seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium hingga unsur mikro. Ini adalah sumber nutrisi alami yang nilainya sangat besar bagi kebun sawit," ujar Basuki.

Basuki menjelaskan bahwa kandungan bahan organik yang tinggi menjadikan limbah sebagai sumber karbon organik utama bagi tanah.


Sawit Setara Default Ad Banner

Tanpa bahan organik yang cukup, tanah kehilangan daya dukung biologisnya dan produktivitas kebun dalam jangka panjang akan menurun. Akibatnya, petani maupun perusahaan perkebunan semakin bergantung pada pupuk kimia.

Karena itu, Basuki menilai kebijakan pengolahan LCPKS hingga mencapai standar sangat rendah, seperti BOD di bawah 100 mg/l, justru berpotensi menghilangkan manfaat ekonominya. Pada kondisi tersebut, hampir seluruh karbon organik telah hilang sehingga limbah tidak lagi berfungsi sebagai pupuk organik.

"Jika diterapkan (BOD di bawah 100 mg/l) pada seluruh LCPKS di Indonesia maka hal itu dapat dipandang sebagai pemborosan uang negara karena hampir seluruh kebutuhan pupuk di Indonesia berasal dari pupuk impor," kata Basuki.


Sawit Setara Default Ad Banner

Optimalisasi LCPKS, dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia sekaligus menekan biaya produksi perkebunan sawit nasional.

Efisiensi tersebut pada akhirnya memperkuat daya saing industri sekaligus menjaga stabilitas ekonomi sektor pertanian.

"Pemanfaatan LCPKS bukan sekadar solusi limbah. Ini strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui efisiensi nutrisi dan pengurangan impor," kata Basuki.

Ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor selama ini menjadi kerentanan tersendiri, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga energi.

Basuki menekankan bahwa regulasi lingkungan ideal harus mampu menyeimbangkan perlindungan ekosistem dengan kebutuhan produktivitas pertanian.

"Dengan pendekatan berbasis ilmu tanah, limbah sawit dapat berubah dari potensi masalah lingkungan menjadi aset strategis bagi keberlanjutan ekonomi Indonesia," pungkas Basuki .




Berita Sebelumnya
Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Sasaran penerima meliputi pekebun dan keluarga, karyawan atau pekerja perkebunan beserta keluarga, pengurus kelembagaan atau asosiasi pekebun, hingga aparatur sipil negara (ASN) dan penyuluh di sektor sawit.

13 April 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *