KONSULTASI
Logo

Minyak Bunga Matahari Langka akibat Perang, Minyak Sawit Jadi Rebutan India

19 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Minyak Bunga Matahari Langka akibat Perang, Minyak Sawit Jadi Rebutan India

sawitsetara.co – JAKARTA — Perang Rusia-Ukraina mengubah arus perdagangan minyak nabati India. Gangguan pengiriman dari kawasan Laut Hitam membuat impor minyak bunga matahari merosot ke level terendah dalam lebih dari empat tahun. Kilang pengolahan minyak nabati India pun meningkatkan pembelian minyak sawit sebagai pengganti.

Dilansir dari The Edge, Asosiasi Ekstraktor Pelarut India (Solvent Extractors’ Association of India/SEA) mencatat impor minyak bunga matahari India hanya mencapai 108.837 ton pada September 2026. Angka tersebut anjlok 32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak April 2022.

Di tengah penurunan itu, impor minyak sawit justru meningkat. India mendatangkan 817.884 ton minyak sawit pada September, naik 4,5 persen dibandingkan Agustus. Volume tersebut menjadi yang tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Peralihan pembelian ini membuka peluang bagi Indonesia dan Malaysia. Kedua negara merupakan pemasok utama minyak sawit untuk India sekaligus produsen terbesar komoditas tersebut di pasar global.

Peningkatan permintaan dari India berpotensi membantu mengurangi persediaan minyak sawit di kedua negara. Kondisi ini juga dapat menopang harga kontrak berjangka minyak sawit di tengah dinamika pasar minyak nabati dunia.

apkasindo

Pasokan Terganggu, Pengiriman Minyak Bunga Matahari Tersendat

Seorang pedagang di Mumbai yang bekerja untuk perusahaan perdagangan global mengatakan pasokan minyak bunga matahari sebenarnya masih cukup tersedia. Namun, eksportir kesulitan mengirimkan produk tersebut ke India akibat gangguan logistik.

Kerusakan infrastruktur pelabuhan di kawasan Laut Hitam menghambat pengiriman minyak nabati. Serangan Rusia dan Ukraina terhadap sejumlah pelabuhan dalam beberapa pekan terakhir juga mengganggu kegiatan pemuatan komoditas.

Pekan sebelumnya, seorang pejabat industri dan sejumlah sumber perdagangan menyebut satu pengiriman minyak bunga matahari Rusia ke India dibatalkan. Sementara itu, pengiriman lainnya mengalami keterlambatan setelah serangan terhadap pelabuhan Laut Hitam mengganggu ekspor dari Rusia, salah satu pemasok utama India.

Gangguan tersebut mempersempit kelancaran pasokan ke pasar India. Padahal, negara itu masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati domestik.

Musim Perayaan Dorong Pembelian Minyak Sawit

Tekanan pasokan minyak bunga matahari terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan selama musim perayaan di India. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong kilang memperbesar pembelian minyak sawit sebagai bahan substitusi. Selain minyak bunga matahari, impor minyak kedelai India juga mengalami penurunan. SEA mencatat volumenya turun 2,2 persen secara bulanan menjadi 614.965 ton pada September.

Secara keseluruhan, impor minyak nabati India turun 1,76 persen menjadi 1,54 juta ton. Penurunan pengiriman minyak bunga matahari dan minyak kedelai menjadi faktor utama penyusutan tersebut. India memperoleh sebagian besar minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Adapun minyak kedelai dan minyak bunga matahari terutama dipasok Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina.

Perubahan komposisi impor tersebut menunjukkan posisi minyak sawit sebagai alternatif ketika pasokan minyak nabati lain menghadapi hambatan. Namun, dampaknya terhadap pasar global masih bergantung pada keberlanjutan gangguan ekspor di Laut Hitam dan perkembangan permintaan India setelah musim perayaan.

Bagi industri sawit Indonesia, kenaikan pembelian India menjadi peluang untuk memperkuat penyerapan ekspor. Jika permintaan bertahan, tambahan pembelian dari salah satu importir terbesar dunia itu berpotensi mendukung pergerakan harga CPO dan membantu mengurangi stok di negara produsen.

Tags:

minyak sawit

Berita Sebelumnya
Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku alternatif untuk budidaya jamur tiram. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan pemanfaatan limbah sawit tersebut sebagai upaya membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

17 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *