
sawitsetara.co - JAKARTA — Harga minyak sawit dunia berpeluang mencuat pada 2027 dan kembali mengungguli minyak kedelai. Prospek itu muncul ketika pasokan sawit Indonesia diperkirakan menyusut, sementara kebutuhan untuk biodiesel di dalam negeri terus meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi mengubah peta persaingan harga minyak nabati dunia. Indonesia sebagai salah satu pemasok utama minyak sawit global diperkirakan memiliki lebih sedikit pasokan untuk pasar ekspor tahun depan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 turun 3,7 persen menjadi 56,6 juta ton. Penurunan produksi itu dipengaruhi potensi cuaca kering akibat fenomena El Niño.
Di saat yang sama, kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel diproyeksikan melonjak 18,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 17,4 juta ton. Angka tersebut menjadi rekor baru kebutuhan sawit untuk biodiesel.
Dua kondisi tersebut menjadi faktor penting bagi arah harga CPO tahun depan. Produksi yang lebih rendah bertemu dengan konsumsi domestik yang meningkat. Akibatnya, volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar internasional berpotensi semakin terbatas.
Pasokan Indonesia Menyusut
Indonesia memiliki posisi penting dalam perdagangan minyak sawit dunia. Berdasarkan data produksi 2025/2026 yang tercantum dalam laporan, Indonesia menyumbang sekitar 58 persen produksi CPO global dengan volume 46,7 juta ton.
Malaysia berada di posisi kedua dengan kontribusi 25 persen atau 20,2 juta ton. Negara produsen lainnya antara lain Thailand, Kolombia, Nigeria, Guatemala, Papua Nugini, Brasil, Pantai Gading, dan Honduras.
Dengan posisi tersebut, perubahan produksi Indonesia dapat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak nabati global.
Ekspor minyak sawit Indonesia pada 2027 diperkirakan turun 14,9 persen menjadi 26,5 juta ton. Jika terealisasi, volume tersebut menjadi yang terendah sejak 2016.
Penurunan ekspor terjadi ketika kebutuhan domestik meningkat. Artinya, sebagian produksi yang sebelumnya tersedia untuk pasar internasional akan terserap di dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan biodiesel.
Bagi pasar global, berkurangnya pasokan dari eksportir terbesar dunia dapat memperketat ketersediaan minyak sawit. Kondisi itu berpotensi memberikan dukungan terhadap harga CPO pada 2027.
Bisa Kembali di Atas Minyak Kedelai
Minyak sawit selama ini bersaing langsung dengan minyak kedelai dari Amerika Selatan dan minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Jika pasokan sawit mengetat, harga CPO berpeluang kembali diperdagangkan lebih tinggi dibandingkan minyak kedelai. Kondisi serupa pernah terjadi pada 2024.
Peluang tersebut menjadi semakin relevan karena konsumsi biodiesel Indonesia diperkirakan mencapai 17,4 juta ton pada 2027. Kenaikan konsumsi domestik membuat persaingan memperoleh bahan baku sawit semakin besar.
Namun, prospek kenaikan harga tersebut belum tercermin dalam perdagangan CPO saat ini.
CPO Masih Tertekan pada Akhir September
Harga CPO justru masih bergerak melemah pada perdagangan akhir September 2026. Data Refinitiv menunjukkan harga CPO pada Rabu, 30 September 2026 pukul 16.16 WIB berada di MYR4.592 per ton. Harga tersebut turun 0,7 persen dan telah melemah selama empat hari berturut-turut.
Posisi itu sekaligus menjadi harga terendah sejak 17 Juli 2026. Tekanan berasal dari sejumlah faktor jangka pendek, termasuk penurunan harga minyak nabati di Bursa Dalian dan ekspektasi kenaikan stok sawit Malaysia pada September.
Seorang pedagang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan kepada Reuters, “sentimen pasar tertekan oleh perkiraan tingginya stok akhir, seiring produksi yang kuat dan melemahnya ekspor September.” Estimasi Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–25 September turun sekitar 15,1–24,3 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Sementara itu, persediaan sawit Malaysia pada akhir Agustus telah mencapai level tertinggi dalam delapan bulan. Pergerakan minyak kedelai juga menjadi perhatian. Kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian turun 0,09 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 1,14 persen. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai justru naik 0,44 persen.
Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan persaingan antarminyak nabati masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga CPO. Dalam jangka pendek, tekanan stok dan ekspor masih membayangi pasar. Namun untuk 2027, perhatian pasar mulai bergeser pada risiko El Niño dan meningkatnya kebutuhan sawit untuk biodiesel Indonesia.
Jika produksi turun sementara konsumsi domestik meningkat, ruang pasokan untuk ekspor akan semakin sempit. Kondisi tersebut membuka peluang harga minyak sawit kembali berada di atas minyak kedelai pada 2027.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *