KONSULTASI
Logo

LAM Riau Apresiasi Masyarakat dan Pekebun Sawit, Riau Minim Kebakaran Berkat Kepedulian Bersama

5 November 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
LAM Riau Apresiasi Masyarakat dan Pekebun Sawit, Riau Minim Kebakaran Berkat Kepedulian Bersama

sawitsetara.co – PEKANBARU — Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau mengapresiasi upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilakukan masyarakat, pekebun, perusahaan, dan pemerintah di Provinsi Riau. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan perkebunan sekaligus menghindarkan Riau dari persoalan kabut asap yang selama ini menjadi perhatian nasional.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, Datuk Seri Marjohan Yusuf, mengatakan pengelolaan perkebunan yang baik harus selalu diikuti tanggung jawab terhadap lingkungan. Menurut dia, produktivitas kebun tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pencegahan kebakaran.

Pernyataan tersebut disampaikan Marjohan saat menerima kunjungan Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, di Gedung LAM Riau, Pekanbaru, Kamis (5/11/2026). Marjohan mengingatkan seluruh pihak agar tidak menunggu kebakaran terjadi sebelum melakukan tindakan. Ia menilai pencegahan harus menjadi prioritas dalam tata kelola perkebunan, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran.

“Satu hal yang perlu saya garis bawahi di sini, untuk menghasilkan kebun yang baik, tentu diperlukan tata kelola yang baik juga. Jangan sampai terjadi kebakaran-kebakaran di kebun kita. Pencegahan itu jauh lebih baik daripada kita harus melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi,” kata Marjohan.

Ia mengatakan upaya menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masyarakat, pekebun, perusahaan perkebunan, pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat harus memiliki kepedulian yang sama. Menurut Marjohan, selama ini berbagai pihak telah menunjukkan perhatian terhadap persoalan kebakaran. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah terhadap potensi munculnya titik api.

Ia juga menyinggung adanya sejumlah kejadian kebakaran yang perlu menjadi perhatian bersama. Karena itu, pengawasan dan langkah antisipasi harus tetap dilakukan secara konsisten.

“Kita tetap harus aware dan memperhatikan masalah ini. Bagaimanapun juga, jangan sampai muncul kesan bahwa karena kita berkebun, kebun kemudian tidak ditata sebagaimana mestinya. Saya yakin masyarakat, perusahaan, pemerintah daerah, serta tokoh adat sudah memiliki kepedulian. Tinggal bagaimana kepedulian itu terus kita jaga dan tingkatkan,” ujarnya.

Marjohan berharap Riau tidak kembali mendapatkan citra sebagai daerah penyumbang asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Ia menilai pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga reputasi daerah. “Saya yakin dan percaya, dengan pembinaan serta kerja sama seluruh pihak, kesan bahwa Riau menjadi penyumbang asap dan penyumbang api tidak perlu terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang,” katanya.

HUT APKASINDO - DPW SUMUT

Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat Medali Emas Manurung menyampaikan apresiasi kepada LAM Riau atas keterlibatannya dalam menyosialisasikan pencegahan karhutla.

Dr. Gulat mengatakan peran lembaga adat sangat penting karena memiliki jaringan hingga tingkat kabupaten dan kedekatan langsung dengan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pesan pencegahan dapat disampaikan lebih luas kepada masyarakat di sekitar perkebunan.

Menurut Dr. Gulat, keberhasilan menjaga Riau dari persoalan kebakaran tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Pekebun sawit juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan kegiatan perkebunan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Ada apresiasi luar biasa dari Datuk LAM Riau terhadap generasi dan masyarakat Riau yang tahun ini menunjukkan kepedulian terhadap pencegahan kebakaran. Apresiasi itu tentu juga kami sampaikan kepada LAM Riau yang sejak awal ikut menyosialisasikan pencegahan, mulai dari LAM kabupaten sampai kepada masyarakat Melayu di seluruh Provinsi Riau,” kata Dr. Gulat.

Ia menegaskan pencegahan kebakaran harus menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar kegiatan yang dilakukan ketika musim kemarau tiba atau ketika muncul ancaman kebakaran.

“Datuk tadi sudah menyampaikan, lebih baik mencegah daripada memadamkan. Ini harus dipahami seluruh stakeholder sawit. Jangan sampai kita baru bergerak ketika sudah ada titik api. Pencegahan harus dilakukan sejak awal melalui pengawasan, pembinaan, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Dr. Gulat menilai pendekatan kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam membangun kesadaran masyarakat. LAM Riau dapat menjadi mitra strategis dalam mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

HUT APKASINDO - DPW SUMUT

Sementara itu, Ketua Umum DPH LAM Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, mengatakan LAM memiliki tanggung jawab untuk mengawal keberadaan perkebunan sawit demi kepentingan masyarakat.

Ia menilai sawit telah memberikan kemajuan ekonomi bagi Riau. Namun, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan yang memperhatikan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

“Sebagai lembaga yang merepresentasikan masyarakat di Provinsi Riau, kami tentu sangat berhati-hati dalam mengawal keberadaan sawit. Pengawalan ini untuk kepentingan masyarakat Riau dan kepentingan bangsa secara umum. Sinergi harus terus dibangun agar apa yang sudah baik bisa semakin baik,” kata Taufik.

Taufik juga menekankan bahwa perkebunan memiliki hubungan dengan alam dan kebudayaan masyarakat Melayu. Karena itu, pengembangan perkebunan harus menjadi agenda bersama yang memperhatikan keberlanjutan.

Pertemuan APKASINDO dan LAM Riau tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pencegahan karhutla. Keterlibatan lembaga adat, masyarakat, pekebun, perusahaan, dan pemerintah diharapkan dapat memperkuat pengawasan di wilayah perkebunan.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, langkah pencegahan perlu terus diperkuat. Riau membutuhkan komitmen bersama agar kegiatan perkebunan tetap produktif tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Tags:

Berita SawitKebakaran Hutan

Berita Sebelumnya
BPDP Paparkan Enam Program Unggulan di INDOVEX 2026 untuk Dorong Hilirisasi Perkebunan dan UMKM Naik Kelas

BPDP Paparkan Enam Program Unggulan di INDOVEX 2026 untuk Dorong Hilirisasi Perkebunan dan UMKM Naik Kelas

Pengembangan ekonomi desa melalui pemberdayaan UMKM berbasis kelapa sawit menjadi salah satu upaya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan nasional.

4 November 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *