KONSULTASI
Logo

Kemarau Berkepanjangan Ancam Sawit, Kementan Perkuat Mitigasi

31 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Kemarau Berkepanjangan Ancam Sawit, Kementan Perkuat Mitigasi

sawitsetara.co - JAKARTA — Kementerian Pertanian menyiapkan serangkaian langkah mitigasi untuk menghadapi musim kemarau berkepanjangan akibat perubahan iklim. Strategi tersebut difokuskan pada menjaga produktivitas perkebunan kelapa sawit, mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mempertahankan pendapatan pekebun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan perubahan iklim menjadi tantangan yang harus dihadapi melalui pengelolaan perkebunan yang lebih adaptif. Menurut dia, musim kemarau yang berlangsung lebih lama berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan ketersediaan air, hingga meningkatkan ancaman kebakaran lahan.

“Perubahan iklim tidak boleh menjadi alasan turunnya produksi. Mitigasi harus dilakukan secara terencana dan konsisten melalui penerapan teknologi, konservasi sumber daya, serta pengelolaan kebun yang adaptif,” ujar Amran, dikutip dari laman Kementerian Pertanian.

Apj

Sebagai tindak lanjut, Direktorat Jenderal Perkebunan menyusun pedoman teknis budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim, memperkuat pendampingan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Climate Smart Agriculture (CSA), serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor perkebunan.

Upaya tersebut dilakukan karena dampak kekeringan berkepanjangan dapat menghambat pembentukan bunga betina, meningkatkan gugurnya bunga dan buah, serta menekan produksi tandan buah segar (TBS) maupun rendemen minyak sawit.

Salah satu fokus mitigasi adalah penguatan konservasi air. Kementerian Pertanian mendorong pembangunan rorak, embung, sumur resapan, parit konservasi, guludan, dan terasering untuk meningkatkan infiltrasi air, mengurangi limpasan permukaan, sekaligus memperkuat cadangan air tanah selama musim kemarau.

Apj

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto menilai keberhasilan mitigasi sangat ditentukan oleh penerapan praktik budidaya yang baik di tingkat kebun.

“Mitigasi kemarau harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari. Melalui pengelolaan air yang baik, konservasi tanah, pemanfaatan informasi iklim, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran, produktivitas sawit dapat tetap terjaga meski di tengah tantangan perubahan iklim,” kata Heru.

Selain pengelolaan air, pemerintah juga mendorong perbaikan kualitas tanah melalui pemanfaatan pelepah sawit sebagai mulsa, aplikasi tandan kosong (empty fruit bunch atau EFB), penanaman Legume Cover Crop (LCC), serta penggunaan kompos dan biochar. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kelembapan tanah, memperbaiki strukturnya, dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

Strategi pengelolaan tata air juga dibedakan berdasarkan karakteristik lahan. Pada lahan mineral, langkah yang dilakukan meliputi pembangunan embung, pemanfaatan pompa air, penyiraman tanaman belum menghasilkan, serta pemanenan air hujan. Adapun pada lahan gambut, pemerintah memprioritaskan pengaturan tinggi muka air sekitar 40 sentimeter di bawah permukaan tanah, pemeliharaan sekat kanal, pemantauan muka air melalui sumur pantau, dan penutupan kanal yang tidak lagi digunakan.

Apj

Kementerian Pertanian juga menyesuaikan waktu pemupukan dengan kondisi curah hujan agar penyerapan unsur hara lebih optimal. Penggunaan pupuk organik terus didorong untuk menjaga kesuburan tanah, sementara pengendalian gulma diprioritaskan pada jenis yang menjadi kompetitor air. Di sisi lain, vegetasi penutup tanah seperti LCC tetap dipertahankan untuk mendukung konservasi kelembapan.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, Kementerian Pertanian menggelar rapat koordinasi bersama perusahaan pemegang Izin Usaha Perkebunan (IUP), termasuk perusahaan kelapa sawit. Pemerintah juga melakukan inspeksi mendadak di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Siak, Riau, guna memastikan kesiapan sarana, personel, serta sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Mitra Plasma Sumut Turun Tipis, Usia 10–20 Tahun Dipatok Rp3.962,27/Kg

Harga TBS Mitra Plasma Sumut Turun Tipis, Usia 10–20 Tahun Dipatok Rp3.962,27/Kg

Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Produksi Mitra Plasma Provinsi Sumatera Utara menetapkan harga TBS untuk periode 29 Juli–4 Agustus 2026. Penetapan dilakukan berdasarkan rapat tim pada 29 Juli 2026 di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara.

30 Juli 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *