KONSULTASI
Logo

Indonesia, Malaysia, Thailand Satukan Kekuatan Sawit untuk Hadapi Pasar Global

11 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Indonesia, Malaysia, Thailand Satukan Kekuatan Sawit untuk Hadapi Pasar Global

sawitsetara.co - MEDAN — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong Indonesia, Malaysia, dan Thailand memperkuat kerja sama industri kelapa sawit. Kolaborasi tiga negara dinilai dapat meningkatkan posisi tawar kawasan di pasar global sekaligus memperkuat rantai nilai komoditas sawit.

Dorongan itu disampaikan Airlangga dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-32 Kerja Sama Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand atau 32nd Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle Ministerial Meeting (IMT-GT MM) di Medan, Kamis (10/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, para menteri menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Kelapa Sawit IMT-GT yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kerja sama ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat koordinasi tiga negara yang selama ini memiliki peran besar dalam industri sawit dunia.

Airlangga menekankan agar kerja sama IMT-GT tidak berhenti pada dokumen dan kesepakatan. Menurut dia, setiap inisiatif harus diterjemahkan menjadi proyek yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan koridor ekonomi.

“Selama lebih dari tiga dekade, IMT-GT tidak pernah kekurangan rencana yang baik. Namun, yang ditunggu masyarakat kita adalah implementasi. Setiap inisiatif harus bergerak dari perencanaan ke eksekusi, dari dokumen ke koridor ekonomi, dan dari penandatanganan menjadi lapangan kerja nyata,” ujar Airlangga Hartarto.

apkasindo

Kerja sama sawit menjadi penting karena Indonesia, Malaysia, dan Thailand merupakan pemain utama dalam industri tersebut. Koordinasi ketiga negara dinilai dapat memperkuat posisi dalam perdagangan global, memperluas rantai nilai, serta mendorong pengembangan produk turunan bernilai tambah.

Airlangga juga menyoroti pentingnya kelancaran arus perdagangan, logistik, dan investasi di kawasan. Integrasi tersebut mencakup wilayah Sumatra, Semenanjung Malaysia, hingga Thailand Selatan yang memiliki keterkaitan ekonomi dan geografis.

“Perdagangan, logistik, dan investasi harus lebih mudah mengalir di antara Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan Thailand Selatan,” kata Airlangga Hartarto.

Selain kerja sama sawit, Pertemuan IMT-GT ke-32 membahas percepatan 92 proyek yang sedang berjalan. Pemerintah ketiga negara mendorong proyek-proyek tersebut segera memasuki tahap pelaksanaan sehingga manfaat kerja sama dapat dirasakan di lapangan.

Rangkaian agenda di Medan juga menghasilkan delapan MoU bisnis lintas negara melalui IMT-GT International Business Matching 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan 275 pelaku usaha dari tujuh sektor.

Para menteri turut menyerukan penguatan kerja sama produksi beras untuk menjaga ketahanan pangan sub-kawasan. Pertemuan kemudian mengadopsi Joint Ministerial Statement dan mengarahkan penyusunan Implement Blueprint 2027-2031 sebagai bagian dari upaya menuju Visi IMT-GT 2036.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Petani dan UMKM Sebagai Aktor Penggerak Ekonomi di Balik Industri Sawit Nasional

Petani dan UMKM Sebagai Aktor Penggerak Ekonomi di Balik Industri Sawit Nasional

Masyarakat awam masih sering mempersepsikan industri sawit hanya milik korporasi besar dengan modal investasi yang besar. Hamparan kebun sawit yang luas, pabrik-pabrik pengolahan berskala besar, dan aktivitas perdagangan sawit bernilai tinggi, semakin menguatkan opini publik terhadap industri sawit sebagai industri yang eksklusif.

10 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *