KONSULTASI
Logo

Impor Minyak Sawit Pakistan Pecahkan Rekor, Indonesia Kuasai Hingga 90 Persen Pasokan

3 Agustus 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Impor Minyak Sawit Pakistan Pecahkan Rekor, Indonesia Kuasai Hingga 90 Persen Pasokan

sawitsetara.co - Pakistan mencatat rekor tertinggi impor minyak sawit sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2025/2026 (FY26). Lonjakan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok utama minyak sawit bagi negara Asia Selatan tersebut dengan pangsa mencapai 80-90 persen dari total kebutuhan impornya.

Berdasarkan data Pakistan Bureau of Statistics (PBS), impor minyak sawit Pakistan sepanjang Juli 2025 hingga Juni 2026 mencapai 3,482 juta ton dengan nilai US$3,785 miliar atau sekitar Rp68,13 triliun (kurs Rp18.000 per dolar AS).

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun fiskal sebelumnya (FY25) yang mencatat impor sebesar 3,214 juta ton senilai US$3,4 miliar. Seiring meningkatnya permintaan, harga rata-rata impor minyak sawit juga naik menjadi US$1.078 per ton pada FY26 dari US$1.056 per ton pada FY25.

Ketua Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA), Sheikh Umer Rehan, mengatakan lonjakan impor dipicu meningkatnya konsumsi minyak goreng dan ghee akibat pertumbuhan jumlah penduduk, sementara produksi bahan baku minyak nabati dalam negeri, seperti biji kapas, terus menurun.

DPP

Menurutnya, konsumsi minyak nabati Pakistan kini telah mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun, meningkat dari sekitar 4 juta ton lima tahun lalu.

Di sisi lain, Rehan mengkritik pemerintah Pakistan yang dinilai belum memiliki kebijakan nasional mengenai pengembangan minyak nabati sejak negara tersebut merdeka.

Ia juga menyoroti kebijakan baru Federal Board of Revenue (FBR) yang mewajibkan produsen membayar General Sales Tax (GST) berdasarkan harga eceran atau Maximum Retail Price (MRP), bukan lagi berdasarkan harga pabrik (ex-mill price).

Perubahan mekanisme perpajakan yang diberlakukan dalam Anggaran FY27 tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan harga minyak goreng dan ghee sebesar Rs10 hingga Rs15 per kilogram serta meningkatkan beban industri minyak nabati.

Sebelumnya, PVMA telah meminta pemerintah memangkas beban pajak sektor minyak nabati dan ghee agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

Data Sensitive Price Index (SPI) menunjukkan harga minyak goreng dan ghee di Pakistan memang terus mengalami kenaikan dalam satu tahun terakhir.

DPP

Harga rata-rata minyak goreng kemasan lima liter kini berada pada kisaran Rs2.975-Rs3.110 atau sekitar Rp194.862 hingga Rp203.705, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar Rs2.800-Rs3.000.

Sementara itu, harga ghee kemasan 2,5 kilogram meningkat menjadi Rs1.500-Rs1.565 dari sebelumnya Rs1.425-Rs1.485. Adapun ghee kemasan satu kilogram kini dijual sekitar Rs590-Rs610, naik dari kisaran Rs550-Rs580 pada tahun sebelumnya.

Ketergantungan Impor Semakin Tinggi

Rekor impor tersebut menunjukkan ketergantungan Pakistan terhadap minyak nabati impor semakin besar. Sebagai importir minyak sawit terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Uni Eropa, Pakistan hanya mampu memenuhi sekitar 12-15 persen kebutuhan minyak nabatinya dari produksi domestik.

Ironisnya, kondisi itu terjadi meski Pakistan merupakan negara agraris dengan lebih dari 37 persen tenaga kerja bekerja di sektor pertanian.

Persoalan utama dinilai bersifat struktural. Pakistan hampir tidak membudidayakan tanaman penghasil minyak dalam skala komersial dan membubarkan satu-satunya lembaga khusus pengembangan tanaman minyak setelah Amandemen ke-18 Konstitusi pada 2011.

DPP

Akibatnya, nilai impor minyak nabati negara tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun fiskal 2020. Dengan konsumsi minyak nabati mencapai sekitar 24 kilogram per kapita per tahun, salah satu yang tertinggi di Asia Selatan, permintaan diperkirakan akan terus meningkat.

Sejumlah solusi mulai diusulkan untuk mengurangi ketergantungan impor. Salah satunya meniru keberhasilan India melalui National Mission on Edible Oils yang mampu menggandakan produksi crude palm oil (CPO) domestik sepanjang 2014-2025 melalui perluasan areal tanam, jaminan harga, dan dukungan kelembagaan yang berkelanjutan.

Selain itu, para peneliti di Ayub Agricultural Research Institute (AARI) memperkirakan pengalihan sebagian lahan surplus gandum dan tebu menjadi perkebunan kanola serta bunga matahari berpotensi memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan minyak nabati Pakistan.

Indonesia Semakin Dominan

Di tengah meningkatnya kebutuhan tersebut, Indonesia tetap menjadi pemasok utama minyak sawit ke Pakistan dengan pangsa mencapai sekitar 80-90 persen dari total impor negara tersebut.

DPP

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan dalam lima tahun terakhir meningkat sekitar 29,5 persen dari sisi volume, sementara nilainya melonjak hingga 98,2 persen.

Bahkan, berdasarkan data Januari-Mei 2026, Pakistan telah menggeser China sebagai tujuan ekspor minyak sawit terbesar kedua Indonesia. India masih mempertahankan posisinya sebagai pasar ekspor terbesar bagi minyak sawit Indonesia.

Kondisi tersebut memperlihatkan semakin strategisnya pasar Pakistan bagi industri sawit nasional. Di tengah meningkatnya konsumsi domestik Pakistan dan keterbatasan produksi minyak nabati dalam negeri, permintaan terhadap minyak sawit Indonesia diperkirakan masih akan tetap kuat dalam beberapa tahun mendatang.

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan mencatat rekor tertinggi impor minyak sawit sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2025/2026 (FY26), mencerminkan semakin besarnya ketergantungan negara tersebut terhadap pasokan minyak nabati dari luar negeri. Indonesia tetap menjadi pemasok utama, memenuhi sekitar 80-90 persen kebutuhan impor minyak sawit Pakistan.

1 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *