KONSULTASI
Logo

El Niño Mengancam Produksi Sawit 2027, Harga CPO Berpotensi Tembus RM5.000

25 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
El Niño Mengancam Produksi Sawit 2027, Harga CPO Berpotensi Tembus RM5.000

sawitsetara.co – JAKARTA — Produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia diperkirakan menyusut pada 2027 seiring dampak kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Niño. Penurunan produksi dari dua negara produsen sawit terbesar dunia ini berpotensi memperketat pasokan global dan menopang harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Berdasarkan publikasi pada Jumat (25/8/2026), survei Bloomberg News terhadap tujuh analis menunjukkan produksi gabungan Indonesia dan Malaysia diperkirakan turun sekitar 3 persen. Produksi Indonesia diproyeksikan mencapai 49 juta ton, sedangkan Malaysia sekitar 19,5 juta ton.

Tekanan produksi tersebut diperkirakan semakin kuat karena Indonesia terus meningkatkan penggunaan sawit untuk biodiesel. Kondisi itu berlangsung ketika produktivitas perkebunan juga menghadapi persoalan tanaman tua yang mengalami penurunan hasil.

Tiga analis memperkirakan kombinasi faktor tersebut dapat mendorong harga acuan minyak sawit mendekati RM5.000 atau sekitar US$1.226 per ton pada 2027. Namun, tekanan harga tersebut belum sepenuhnya terlihat di pasar karena pasokan saat ini masih relatif melimpah.

Senior Analyst Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, mengatakan dampak El Niño terhadap produksi sawit biasanya baru terlihat dengan jeda waktu.

“Fenomena El Niño yang terjadi saat ini secara luas diperkirakan berdampak terhadap produksi 2027. Namun, besar dampaknya bergantung pada tingkat keparahan dan lamanya fenomena tersebut,” kata Sathia Varqa

apkasindo

Di Indonesia, musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang lebih lambat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut awal musim hujan di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis. BMKG juga menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat, yang diperkuat kondisi Indian Ocean Dipole (IOD), dapat memperpanjang periode kekeringan.

Kondisi kering tersebut mulai menimbulkan persoalan di sejumlah sentra sawit. Di Kalimantan, misalnya, titik panas meningkat dan kebakaran serta kabut asap mengganggu aktivitas perkebunan, mulai dari pemupukan hingga panen dan pengangkutan buah.

Trader Eco Palm International Sdn., Warren Tay, memperkirakan Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang paling besar menyumbang penurunan produksi tahun depan.

“Kalimantan terdampak parah oleh kabut asap. Kami memperkirakan wilayah tersebut akan menyumbang porsi terbesar terhadap penurunan produksi tahun depan,” ujar Warren Tay.

Meski demikian, penurunan produksi Indonesia diperkirakan tidak separah proyeksi awal. Asosiasi sawit Indonesia memperkirakan produksi 2027 turun sekitar 3 persen, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencapai 5 persen.

apkasindo

Dampak El Niño terhadap sawit juga tidak langsung tercermin pada produksi tahun berjalan. Kondisi kering dapat memengaruhi pembentukan dan perkembangan tandan, sementara dampaknya terhadap hasil panen baru terlihat beberapa bulan kemudian. GAPKI sebelumnya memperkirakan produksi sawit Indonesia 2027 turun sekitar 2,9 persen menjadi 56,8 juta ton.

Di tengah ancaman penurunan produksi tersebut, pasar sawit saat ini justru menghadapi tekanan dari sisi stok. Kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia pada Jumat turun hingga 2,3 persen ke level terendah dalam dua bulan.

Persediaan minyak sawit Malaysia juga berada pada level tinggi. Stok diperkirakan menembus tiga juta ton pada akhir tahun ketika produksi memasuki periode puncak, sementara permintaan masih relatif lemah.

Analis Bloomberg Intelligence, Alvin Tai dan Jason F Miner, mengatakan kenaikan persediaan menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan harga dalam jangka pendek.

“Kenaikan persediaan minyak sawit, yang dapat mencapai rekor tertinggi dalam satu hingga tiga bulan ke depan, diperkirakan membatasi kenaikan harga tahun ini,” tulis Alvin Tai dan Jason F Miner dalam catatan analisnya.

apkasindo

Dengan demikian, pasar sawit menghadapi dua kondisi berbeda. Pasokan jangka pendek masih cukup kuat akibat tingginya persediaan, sementara pasokan 2027 menghadapi risiko penurunan akibat El Niño, tanaman tua, serta meningkatnya kebutuhan domestik Indonesia untuk biodiesel.

Perubahan keseimbangan tersebut menjadi perhatian karena Indonesia dan Malaysia merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Kajian Marex menyebut kedua negara menyumbang sekitar 88 persen produksi sawit global, sehingga perubahan produksi beberapa persen saja dapat memengaruhi keseimbangan pasar minyak nabati dunia.

Bagi pasar sawit, perkembangan cuaca dalam beberapa bulan ke depan menjadi salah satu indikator penting. Jika kekeringan berlangsung lebih panjang, efeknya terhadap produktivitas berpotensi semakin terasa pada siklus produksi 2027.

Tags:

CPOBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Gulat Dorong APKASINDO Melawi Perkuat Kelembagaan dan Perjuangkan Harga TBS Petani

Gulat Dorong APKASINDO Melawi Perkuat Kelembagaan dan Perjuangkan Harga TBS Petani

Gulat menyampaikan apresiasi atas terbentuk dan dilantiknya kepengurusan DPD APKASINDO Melawi. Menurutnya, penguatan organisasi di tingkat kabupaten menjadi penting agar petani memiliki posisi tawar dalam berkomunikasi dengan pemerintah maupun pelaku industri sawit.

24 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *