KONSULTASI
Logo

Thailand Siapkan Stok CPO Tambahan 20 Persen Hadapi Risiko El Niño

25 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Thailand Siapkan Stok CPO Tambahan 20 Persen Hadapi Risiko El Niño

sawitsetara.co – BANGKOK — Ancaman El Niño mulai mendorong negara produsen sawit memperkuat stok minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Thailand menyiapkan rencana menaikkan cadangan CPO sebesar 20 persen sebagai langkah menjaga pasokan domestik dan meredam risiko kenaikan harga akibat kekeringan.

Direktur Jenderal Department of Internal Trade (DIT) Thailand Wittayakorn Maneenet mengatakan, pemerintah juga mengusulkan peningkatan cadangan beras sebesar 30 persen melalui Strategic Rice Reserve. Kebijakan tersebut disiapkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas pasar ketika produksi pertanian terganggu akibat El Niño.

Menurut Wittayakorn, peningkatan stok diperlukan karena kenaikan persediaan pangan global belum otomatis membuat harga komoditas turun. Negara-negara mulai meningkatkan pembelian untuk membangun cadangan domestik sebagai antisipasi terhadap risiko kekeringan.

“Alasan kami mengusulkan peningkatan safety stock adalah karena pemantauan stok beras global menunjukkan volumenya saat ini lebih tinggi, tetapi secara keseluruhan harga beras belum turun. Meskipun stok beras global meningkat, harga beras tetap tinggi,” kata Wittayakorn, dilansir dari nationthailand.com, Jumat (25/9/2026).

“Kondisi ini menunjukkan negara-negara mulai membeli beras secara bertahap untuk membangun stok demi ketahanan pangan masing-masing dan menghadapi kemungkinan kekeringan. Sementara itu, harga minyak sawit mentah juga belum turun,” ujarnya.

apkasindo

Thailand menilai risiko kekurangan beras dan minyak sawit masih dapat dikendalikan karena negara tersebut merupakan salah satu produsen utama. Wittayakorn mengatakan stok yang tersedia saat ini cukup sehingga harga beras dan minyak sawit kemasan diperkirakan tidak mengalami kenaikan signifikan.

Namun, pemerintah Thailand memberi perhatian lebih terhadap komoditas yang pasokannya tidak sepenuhnya dipenuhi produksi domestik. Singkong dan jagung, misalnya, akan dipantau lebih ketat karena Thailand masih membutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi DIT menghadapi dampak kekeringan terhadap rantai pasok pangan dan bahan baku industri. Pemerintah juga memantau harga makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari, serta komoditas pertanian yang bergantung pada bahan baku dari sektor hulu.

Untuk menjaga pasokan barang kebutuhan pokok, DIT telah berdiskusi dengan produsen sabun, pasta gigi, sampo, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Pemerintah memastikan produksi tetap berjalan dan sejauh ini belum ada rencana kenaikan harga dari produsen.

Wittayakorn mengakui sebagian produk mengalami kenaikan harga setelah sejumlah program promosi dihentikan. Karena itu, peritel dan pedagang grosir diminta melakukan promosi secara bergiliran untuk menjaga daya beli masyarakat.

apkasindo

Dalam tahun fiskal 2026, DIT menjalankan empat pendekatan utama. Pertama, mengelola produksi pertanian melalui perencanaan lebih awal, memperkuat kerja sama, mengurangi produk berkualitas rendah, serta membuka saluran perdagangan baru.

Kedua, pemerintah menggunakan mekanisme rantai nilai untuk empat komoditas, yakni jagung pakan, kelapa sawit, singkong, dan pisang. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara produksi, perdagangan dan kebutuhan pasar.

Ketiga, DIT mendorong petani membangun sistem produksi yang berkelanjutan. Program yang dijalankan antara lain proyek Khao Praneet dan pembentukan pusat pembelian kelapa.

Keempat, pemerintah menekan beban biaya hidup melalui berbagai kegiatan Thong Fah atau Blue Flag dan program Thais Help Thais Plus. Program tersebut disebut telah mengurangi beban biaya hidup masyarakat hingga 816,54 juta baht.

Rencana Thailand meningkatkan stok CPO muncul ketika risiko El Niño menjadi perhatian pasar sawit global. Sejumlah laporan terbaru menyebut fenomena cuaca tersebut berpotensi menekan produksi komoditas pertanian di Asia Tenggara, termasuk sawit, sehingga negara produsen mulai memperkuat strategi menghadapi gangguan pasokan.

Bagi pasar sawit, kebijakan Thailand menunjukkan bahwa isu El Niño tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga mulai memengaruhi strategi pengelolaan stok. Pemerintah negara produsen kini menyiapkan cadangan lebih besar untuk menjaga kesinambungan pasokan ketika produksi berisiko terganggu.

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Gulat Dorong APKASINDO Melawi Perkuat Kelembagaan dan Perjuangkan Harga TBS Petani

Gulat Dorong APKASINDO Melawi Perkuat Kelembagaan dan Perjuangkan Harga TBS Petani

Gulat menyampaikan apresiasi atas terbentuk dan dilantiknya kepengurusan DPD APKASINDO Melawi. Menurutnya, penguatan organisasi di tingkat kabupaten menjadi penting agar petani memiliki posisi tawar dalam berkomunikasi dengan pemerintah maupun pelaku industri sawit.

24 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *