KONSULTASI
Logo

HUT RI ke-81, Pengamat Sawit Dorong Pemerintah Selamatkan Petani Sawit Swadaya dari Gurita Regulasi

17 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
HUT RI ke-81, Pengamat Sawit Dorong Pemerintah Selamatkan Petani Sawit Swadaya dari Gurita Regulasi

sawitsetara.co - JAKARTA — Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menjadi pengingat atas panjangnya perjuangan petani kelapa sawit swadaya di berbagai daerah. Di tengah tuntutan peningkatan kesejahteraan, petani masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari gejolak harga tandan buah segar (TBS) hingga kompleksitas regulasi dan kebijakan pemerintah.

Pengamat Sawit DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Dermawan Harry Oetomo mengatakan perjuangan petani sawit swadaya selama ini tidak terlepas dari pengorbanan besar untuk mempertahankan kehidupan dan keberlanjutan usaha perkebunan mereka.

Menurut dia, petani sawit swadaya terus berjuang dengan mengandalkan hasil kebun di tengah kondisi harga TBS yang sangat dipengaruhi harga crude palm oil (CPO). Kondisi tersebut dinilai masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya memberikan kepastian bagi petani.

“Nilai perjuangan petani sawit swadaya se-Indonesia dengan tetesan keringat, air mata dan darah terus berjuang demi kepentingan hidup menuju kesejahteraan dan kemakmuran,” kata Dermawan, Senin (17/8/2026).

DPP

Ia menilai persoalan harga TBS masih menjadi salah satu tantangan utama petani sawit swadaya. Harga yang diterima petani sangat berkaitan dengan harga CPO hasil tender, sementara mekanisme yang dapat memberikan transparansi dan kepastian harga bagi petani masih dinantikan.

Salah satu solusi yang kembali disorot ialah pembentukan Bursa Sawit Indonesia. Menurut Dermawan, keberadaan bursa tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen yang memberikan referensi harga yang lebih transparan dan adil bagi pelaku usaha sawit, khususnya petani.

“Gejolak harga TBS yang tergantung dengan harga CPO hasil tender ternyata belum juga bisa direalisasikannya Bursa Sawit Indonesia yang akan menjadi solusi ke depannya,” ujarnya.

Dermawan berharap pemerintah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi hambatan bagi petani sawit swadaya. Menurut dia, kebijakan yang menyangkut petani perlu diarahkan untuk menciptakan kepastian usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan pedesaan sawit.

Ia juga menaruh harapan pada implementasi kebijakan biodiesel B50. Program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung terhadap petani melalui peningkatan permintaan bahan baku sawit.

“Semoga segera ada kemudahan atas segala apa saja yang menjadi hambatan petani sawit swadaya se-Indonesia sebagai solusi menyiasati harga TBS yang sesuai diharapkan rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan di era B-50,” kata Dermawan.

DPP

Menurutnya, peningkatan harga TBS yang lebih baik akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian daerah sentra sawit. Sebab, sebagian besar petani menggunakan pendapatan dari kebun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mempertahankan produktivitas kebun.

Karena itu, momentum kemerdekaan dinilai menjadi kesempatan untuk kembali menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap petani sawit swadaya. Kemerdekaan, dalam konteks tersebut, tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan kebijakan yang mampu menciptakan kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi petani.

Dermawan berharap era B50 dapat menjadi momentum perbaikan ekosistem sawit nasional, terutama bagi petani swadaya yang menjadi bagian penting dari rantai pasok industri sawit Indonesia.

“Era B-50 diharapkan bisa mendongkrak harga TBS di kawasan sentra sawit di pedesaan,” ujarnya.

Bagi petani sawit swadaya, peningkatan harga TBS dan kepastian pasar bukan sekadar persoalan bisnis. Hal tersebut berkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan jutaan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari perkebunan kelapa sawit.

Di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, harapan agar kebijakan pemerintah semakin memberikan kepastian, keadilan, dan kesejahteraan bagi petani sawit pun kembali mengemuka. Dermawan menilai penyelesaian persoalan regulasi, transparansi harga, serta penguatan pasar sawit menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Tags:

APKASINDO

Berita Sebelumnya
45 Tahun Petani Menjadi Bagian dari Kejayaan Sawit Indonesia,Sudahkah Petani Sawit Merdeka?

45 Tahun Petani Menjadi Bagian dari Kejayaan Sawit Indonesia,Sudahkah Petani Sawit Merdeka?

Selama lebih dari tiga dekade, petani sawit tidak sekadar menjadi penerima manfaat pembangunan perkebunan, tetapi telah bertransformasi menjadi salah satu fondasi utama industri sawit nasional. Dari kebun-kebun rakyat TBS diproduksi, PKS memperoleh bahan baku, industri hilir mendapatkan CPO, ekspor menghasilkan devisa, dan berbagai aktivitas ekonomi di pedesaan tumbuh.

16 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *