
sawitsetara.co - JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan masih berada di level tinggi pada Agustus 2026. Namun, ruang penguatan harga komoditas tersebut dinilai terbatas karena permintaan yang melemah dan tingginya persediaan minyak nabati di pasar utama.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysia Palm Oil Council/MPOC) memproyeksikan harga CPO Malaysia bergerak dalam kisaran 4.400-4.650 ringgit per metrik ton pada Agustus 2026.
Proyeksi tersebut disampaikan MPOC dalam pernyataannya pada Rabu (22/7/2026), seperti dilansir Reuters. Harga CPO diperkirakan mendapat dukungan dari implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia yang mulai berlaku sejak Juli 2026, penguatan pasar energi, serta membaiknya keekonomian produksi biodiesel.
Dorongan terhadap harga CPO juga datang dari kenaikan harga gasoil. MPOC mencatat, ketegangan yang kembali meningkat antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga gasoil naik sekitar 30 persen pada periode awal hingga pertengahan Juli.
Kenaikan tersebut membuat harga gasoil berada di atas harga minyak sawit maupun minyak kedelai. Kondisi ini meningkatkan daya tarik penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit.
Meski demikian, MPOC memperkirakan penguatan harga CPO tidak akan berlangsung tanpa batas. Faktor permintaan dan persediaan minyak nabati menjadi tantangan bagi kenaikan harga lebih lanjut.
“Namun, kenaikan harga lebih lanjut kemungkinan dibatasi oleh permintaan yang melemah serta tingginya stok minyak nabati di pasar-pasar konsumen utama,” tulis MPOC dalam laporannya.
Dari sisi pasokan, prospek produksi minyak sawit Malaysia dalam jangka pendek masih dinilai kondusif. Data MPOC menunjukkan produksi minyak sawit Malaysia relatif stabil sepanjang semester pertama 2026.
Pada saat yang sama, stok CPO Malaysia meningkat menjadi 2,5 juta ton pada Juni 2026. Kenaikan persediaan tersebut berpotensi menahan laju penguatan harga apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan.
Di sisi lain, pasar India berpeluang memberikan tambahan permintaan bagi minyak sawit Malaysia. MPOC memperkirakan permintaan dari negara tersebut dapat meningkat menjelang perayaan Diwali, ketika India biasanya meningkatkan impor minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan musiman.
Harga pasar saat ini juga menunjukkan bahwa CPO Malaysia telah berada dekat dengan batas atas proyeksi MPOC. Pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, harga kontrak CPO Malaysia terakhir berada di level 4.599 ringgit per ton.
Dengan demikian, harga CPO telah mendekati batas atas kisaran proyeksi 4.400-4.650 ringgit per ton untuk Agustus. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi antara permintaan biodiesel, perkembangan harga energi, kondisi geopolitik, serta keseimbangan pasokan dan stok minyak nabati global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *