
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Pengelolaan air dan konservasi kelembapan tanah menjadi perhatian pemerintah Malaysia untuk menghadapi ancaman El Nino terhadap produktivitas kelapa sawit. Pemerintah mendorong pengelolaan perkebunan yang adaptif terhadap perubahan cuaca guna menekan risiko penurunan produksi.
Dilansir dari Bernama.com, Wakil Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Huang Tiong Sii, mengatakan pengelola kebun perlu menyiapkan langkah mitigasi, terutama untuk menghadapi periode kering berkepanjangan.
Menurut Huang, langkah yang dapat diterapkan meliputi pemeliharaan sistem drainase dan irigasi, penyediaan tempat penampungan air, serta penggunaan bahan organik untuk menjaga kelembapan tanah.
Pelepah kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai mulsa untuk mengurangi kehilangan air dari permukaan tanah. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengelolaan perkebunan yang perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca.
“Selain itu, praktik agronomi yang baik sangat penting agar tindakan pengelolaan dapat dilakukan sejak dini ketika terjadi periode kering berkepanjangan,” kata Huang dalam sidang tanya jawab lisan di Dewan Rakyat Malaysia, Kamis (8/10/2026).
Dampak Cuaca terhadap Produksi Sawit
Huang menilai pengelolaan perkebunan secara berkelanjutan dan responsif terhadap cuaca dapat memperkuat ketahanan tanaman sawit terhadap tekanan iklim.
“Pendekatan pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kondisi cuaca ini dapat meningkatkan ketahanan tanaman kelapa sawit terhadap tekanan iklim serta membantu mengurangi risiko penurunan produktivitas akibat El Nino,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjawab pertanyaan tambahan dari Roy Angau anak Gingkoi, anggota parlemen dari daerah pemilihan Lubok Antu yang mewakili Gabungan Parti Sarawak (GPS).
Roy menanyakan dampak jangka panjang fenomena El Nino terhadap produktivitas perkebunan dan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Ia juga meminta penjelasan mengenai langkah mitigasi serta dukungan pemerintah bagi pekebun kecil untuk mempertahankan produktivitas dan pendapatan.
Huang menjelaskan, 2025 dipandang sebagai periode dengan risiko signifikan terhadap produksi CPO. Risiko tersebut berkaitan dengan dampak tertunda dari tekanan cuaca yang terjadi pada 2024.
Adapun 2026 berpotensi menjadi periode pemulihan atau kelanjutan dampak cuaca sebelumnya. Kondisi ini bergantung pada perkembangan cuaca serta pemulihan distribusi curah hujan sepanjang 2025.
“Pada saat yang sama, 2026 lebih berpeluang menjadi periode pemulihan atau kelanjutan dampak tersebut, bergantung pada kondisi cuaca dan pemulihan distribusi curah hujan sepanjang 2025,” kata Huang.
Pernyataan pemerintah Malaysia ini menegaskan pentingnya pengelolaan kebun yang mempertimbangkan perubahan iklim. Ketersediaan air, pemeliharaan tanah, dan penerapan praktik agronomi yang tepat menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sawit ketika menghadapi periode kering.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *