KONSULTASI
Logo

G100, Bensin 100 Persen Sawit yang Pernah Diuji di Kilang Plaju

10 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
G100, Bensin 100 Persen Sawit yang Pernah Diuji di Kilang Plaju

sawitsetara.co - JAKARTA — Minyak kelapa sawit tidak hanya berpotensi menjadi bahan baku biodiesel. Komoditas strategis Indonesia itu juga dapat diolah menjadi bahan bakar bensin melalui teknologi yang dikenal sebagai G100 atau bensin sawit.

G100 merupakan konsep bahan bakar bensin yang seluruh bahan bakunya berasal dari minyak kelapa sawit, bukan minyak bumi. Teknologi ini menjadi salah satu peluang hilirisasi sawit karena dapat memperluas pemanfaatan minyak sawit untuk sektor energi.

Dilansir dari laman Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pengembangan bensin berbasis sawit di Indonesia telah dilakukan sejak akhir 2018 melalui pengujian di Kilang Plaju, Sumatera Selatan.

Dalam pengembangannya, minyak sawit dalam bentuk Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) digunakan sebagai bahan baku dalam proses pengolahan. RBDPO merupakan minyak sawit yang telah melalui proses pemurnian sehingga getah, warna, bau, dan berbagai pengotor telah dihilangkan.

RBDPO kemudian dimasukkan ke dalam proses pengolahan bensin di kilang melalui teknologi co-processing.

apkasindo

Hasil pengujian menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan. Ketika RBDPO digunakan sebesar 5 persen, bensin yang dihasilkan memiliki angka oktan sekitar 90,7.

Proporsi tersebut kemudian ditingkatkan menjadi 7,5 persen. Hasilnya, angka oktan bensin mencapai sekitar 91,3.

Sementara itu, penggunaan RBDPO hingga 12,5 persen diproyeksikan dapat menghasilkan bensin dengan karakteristik yang setara dengan bensin beroktan 92.

Artinya, pemanfaatan minyak sawit dalam proses produksi bensin tidak hanya memungkinkan dari sisi teknologi, tetapi juga berpotensi menghasilkan bahan bakar dengan kualitas oktan yang sesuai dengan kebutuhan kendaraan bermotor.

Pengembangan tersebut bahkan telah memasuki tahap produksi. Sejak Desember 2018, Kilang Plaju disebut telah memproduksi bensin hijau secara rutin dengan volume sekitar 405 ribu barel per bulan.

Proses tersebut juga menghasilkan produk samping berupa gas elpiji yang disebut mencapai sekitar 11.000 ton per bulan.

apkasindo

Meski demikian, capaian tersebut belum berarti Indonesia telah memiliki G100 yang seluruh bahan bakunya berasal dari sawit dan dijual secara komersial kepada masyarakat.

Teknologi yang telah diterapkan masih menggunakan pendekatan co-processing, yakni memasukkan RBDPO sebagai bagian dari bahan baku dalam proses pengolahan.

Sementara itu, G100 dalam pengertian sebenarnya membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar bensin dapat diproduksi dengan bahan baku sawit secara penuh.

Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Investasi kilang, efisiensi biaya produksi, ketersediaan bahan baku, standar kualitas bahan bakar, serta dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting untuk membawa G100 dari tahap pengembangan menuju produksi komersial.

Jika berhasil dikembangkan, G100 dapat menjadi salah satu bentuk hilirisasi lanjutan industri sawit nasional.

Selama ini, pemanfaatan sawit untuk energi lebih banyak dikenal melalui biodiesel yang digunakan sebagai substitusi solar. Dengan G100, minyak sawit berpeluang masuk ke pasar bahan bakar bensin.

Potensi tersebut sekaligus membuka pasar domestik baru bagi minyak sawit dan memperbesar nilai tambah yang dapat diperoleh dari komoditas perkebunan tersebut.

Namun, untuk saat ini, masyarakat masih harus menunggu. Bensin sawit 100 persen belum menjadi produk yang dapat ditemukan di SPBU.

Teknologinya sudah pernah diuji dan menunjukkan hasil menjanjikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut dapat dikembangkan secara ekonomis dan diterapkan dalam skala komersial.

Tags:

Bensin SawitBerita SawitSawit

Berita Sebelumnya
Sekda Riau Sebut Produktivitas Jadi Kunci Transformasi Industri Sawit, Hilirisasi Tak Cukup Hanya Bangun Pabrik

Sekda Riau Sebut Produktivitas Jadi Kunci Transformasi Industri Sawit, Hilirisasi Tak Cukup Hanya Bangun Pabrik

Pemerintah Provinsi Riau mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu kunci memperkuat industri sawit tanpa harus membuka lahan baru. Di sisi lain, industrialisasi sawit dinilai tidak cukup hanya dengan membangun pabrik, tetapi harus ditopang ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir.

8 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *