KONSULTASI
Logo

Dr. Mulono Apriyanto: Masa Depan Sawit Indonesia Ditentukan oleh Produktivitas, Kelestarian Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat

25 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Dr. Mulono Apriyanto: Masa Depan Sawit Indonesia Ditentukan oleh Produktivitas, Kelestarian Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat

sawitsetara.co - PEKANBARU – Industri kelapa sawit Indonesia perlu mengedepankan keseimbangan antara produktivitas, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial untuk memastikan keberlanjutan sektor tersebut di tengah semakin ketatnya tuntutan pasar global. Upaya tersebut harus dimulai dari penerapan praktik perkebunan yang baik hingga penguatan komitmen terhadap aspek lingkungan dan sosial.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris V Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Mulono Apriyanto, S.TP., MP., C.APO., saat menjadi narasumber dalam Seminar Pengelolaan Sawit Berkelanjutan di Provinsi Riau yang diselenggarakan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau di Pekanbaru, Kamis (25/6/2026).

Dalam pemaparannya bertajuk “Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia yang Baik, Berkelanjutan dan Berdaya Saing: Konsep, Strategi dan Implementasi”, Mulono menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas sawit tidak dapat dilepaskan dari penerapan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya yang baik.

Menurutnya, GAP merupakan fondasi utama dalam membangun perkebunan sawit yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.

“Peningkatan produktivitas harus dimulai dari kebun. Karena itu, penerapan Good Agricultural Practices menjadi kunci agar perkebunan sawit mampu menghasilkan produksi yang optimal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” kata Mulono.

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia menjelaskan bahwa terdapat empat komponen utama dalam penerapan GAP. Pertama adalah penggunaan bibit unggul bersertifikat yang memiliki produktivitas tinggi, tahan terhadap penyakit, serta memiliki asal-usul yang jelas.

Menurut Mulono, penggunaan bibit unggul menjadi faktor mendasar karena kualitas tanaman akan menentukan produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Kedua adalah penerapan pemupukan tepat 5T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat. Penerapan prinsip tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sekaligus mengurangi pemborosan biaya produksi.

“Pemupukan yang tepat bukan hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan pupuk yang berlebihan,” ujarnya.

Komponen ketiga adalah pengendalian hama terpadu yang mengutamakan pendekatan hayati dan budidaya dibandingkan ketergantungan pada penggunaan bahan kimia. Sistem ini dilakukan melalui pemantauan rutin serta tindakan pengendalian yang cepat dan tepat.

Sementara komponen keempat adalah panen tepat waktu dengan memastikan tandan buah segar dipanen pada tingkat kematangan optimal sehingga kualitas minyak sawit yang dihasilkan tetap terjaga.

“Panen yang tepat waktu akan mengurangi kehilangan hasil, menjaga kualitas crude palm oil, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani,” kata Mulono.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain aspek produktivitas, Mulono menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan telah menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari oleh industri sawit Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pengelolaan perkebunan modern harus memperhatikan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) serta kawasan stok karbon tinggi atau High Carbon Stock (HCS).

Menurutnya, perlindungan kawasan tersebut penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, mempertahankan fungsi ekologis, serta mencegah pembukaan lahan pada wilayah yang memiliki nilai konservasi tinggi.

“Keberlanjutan lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Industri sawit harus mampu menunjukkan bahwa produksi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga alam dan keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Mulono juga menyoroti pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pemanfaatan energi terbarukan seperti biogas, biomassa, dan energi surya. Selain itu, peningkatan efisiensi proses produksi dinilai dapat membantu mendukung target pembangunan rendah karbon yang saat ini menjadi perhatian dunia.

Dalam pengelolaan limbah, ia menjelaskan bahwa limbah sawit tidak seharusnya dipandang sebagai beban, melainkan sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi.

Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), tandan kosong, cangkang, hingga abu boiler dapat diolah kembali menjadi berbagai produk yang bermanfaat seperti kompos, energi biogas, maupun bahan baku industri lainnya.

“Prinsip ekonomi sirkular harus mulai diterapkan secara lebih luas dalam industri sawit. Limbah yang dikelola dengan baik bukan hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru,” katanya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain itu, Mulono menekankan pentingnya efisiensi penggunaan air melalui pengolahan dan daur ulang air, pemantauan kualitas air secara berkala, serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan industri sawit berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi dan lingkungan, tetapi juga oleh aspek sosial.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan dan pelaku usaha perkebunan perlu memastikan kesejahteraan pekerja melalui pemberian upah yang layak, jaminan sosial, kesempatan pengembangan kompetensi, serta penciptaan lingkungan kerja yang aman dan inklusif.

“Pekerja merupakan aset penting dalam industri sawit. Karena itu kesejahteraan dan perlindungan mereka harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Mulono juga menyoroti pentingnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di seluruh aktivitas perkebunan maupun industri pengolahan sawit. Penyediaan alat pelindung diri, pelatihan keselamatan secara berkala, dan pengawasan standar kerja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola perkebunan modern.

Di sisi lain, kemitraan yang kuat dengan petani rakyat juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan keberlanjutan industri sawit nasional. Melalui kemitraan yang transparan dan saling menguntungkan, petani dapat memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, informasi pasar, serta pendampingan teknis.

“Petani harus menjadi bagian utama dalam transformasi sawit berkelanjutan. Tanpa keterlibatan petani, target peningkatan produktivitas dan keberlanjutan akan sulit tercapai,” katanya.

Ia juga mendorong perusahaan perkebunan untuk terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat melalui dukungan pendidikan, pelatihan, pengembangan ekonomi lokal, peningkatan layanan kesehatan, serta pelestarian budaya dan lingkungan sosial di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Menurut Mulono, pendekatan tersebut akan menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan, petani, pekerja, dan masyarakat sekitar.

“Keberlanjutan sesungguhnya adalah ketika produktivitas meningkat, lingkungan tetap terjaga, dan masyarakat memperoleh manfaat yang nyata. Ketiga aspek tersebut harus berjalan bersama dan saling menguatkan,” tegasnya.

Ia optimistis industri sawit Indonesia akan mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin dunia apabila seluruh pemangku kepentingan berkomitmen menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik, keberlanjutan lingkungan, dan tanggung jawab sosial secara konsisten.

“Jika produktivitas, lingkungan, dan kesejahteraan sosial dapat berjalan seimbang, maka sawit Indonesia akan semakin kuat, berdaya saing, dan diterima oleh pasar global,” kata dia.


Berita Sebelumnya
Beasiswa SDM Sawit 2026: Tes Akademik hingga Pengetahuan Sawit Jadi Penentu Kelulusan

Beasiswa SDM Sawit 2026: Tes Akademik hingga Pengetahuan Sawit Jadi Penentu Kelulusan

Pendaftaran beasiswa SDM Sawit 2026 telah ditutup pada 20 Juni 2026, selamat kepada pendaftar yang dinyatakan lulus administrasi. Untuk selanjutnya, para calon penerima beasiswa SDM Sawit akan mengikuti proses seleksi melalui tes pada Juli mendatang.

24 Juni 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *