KONSULTASI
Logo

BPS: Tahun 2025 Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor

5 Januari 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
BPS: Tahun 2025 Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA – Berdasarkan catatan Badan Pusatt Statistik (BPS) ekspor menurut sektor, Selama Januari–November 2025, ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor industri pengolahan meningkat 14% dibanding Januari–November 2024 yang disumbang oleh meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit.

Ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 24,63% yang disebabkan oleh meningkatnya ekspor kopi, sementara itu ekspor produk pertambangan dan lainnya turun 24,24 persen yang disumbang oleh menurunnya ekspor batubara.

“Nilai ekspor Indonesia Januari–November 2025 mencapai USD256,56 miliar atau naik 5,61% dibanding periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai USD244,75 miliar atau naik 7,07%,” saat konfrensi pers, di Jakarta, Senin (5/1/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Lebih lanjut, BPS mengungkapkan bahwa Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia pada periode Januari - November 2025.

"Pada Januari – November 2025, Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor yang memiliki peranan terbesar yaitu sebesar USD58,24 miliar (23,80%), diikuti oleh Amerika Serikat USD28,14 miliar (11,50%), dan India sebesar USD16,44 miliar (6,72%)," ujar Pudji.

Sebelumnya, Mukti Sardjono, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memaparkan, produksi CPO bulan Oktober 2025 mencapai 4.352 ribu ton, naik 10,68% dari bulan sebelumnya 3.932 ribu ton. Produksi PKO bulan Oktober juga naik menjadi 405 ribu ton dari 366 ribu ton. Secara YoY sampai dengan bulan Oktober, produksi CPO+PKO tahun 2025 mencapai 48.092 ribu ton atau naik sekitar 9,85% lebih tinggi dari produksi tahun 2024 sebesar 43.780 ribu ton.

“Total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan dari 2.053 ribu ton di bulan September menjadi 2.227 ribu ton pada bulan Oktober. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang naik menjadi 1.200 ribu ton atau 12,15% dari bulan sebelumnya sebesar 1.070 ribu ton. Konsumsi pangan juga naik menjadi 835 ribu ton dari 793 ribu ton pada bulan sebelumnya atau naik sebesar 5,30% sedangkan konsumsi oleokimia naik 1,05% menjadi 192 ribu ton dari 190 ribu ton pada bulan sebelumnya,” papar Mukti.


Sawit Setara Default Ad Banner

Setelah mengalami penurunan cukup besar pada bulan September, lanjut Mukti, total ekspor produk sawit pada bulan Oktober naik menjadi 2.796 ribu ton atau 27,09% dari ekspor bulan September sebesar 2.200 ribu ton. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 2.043 ribu ton dari 1.573 ribu ton pada bulan Oktober (29,88%) diikuti oleh oleokimia yang naik menjadi 506 ribu ton dari 443 ribu ton (14,22%), CPO naik menjadi 138 ribu ton dari 91 ribu ton (51,65%) dan olahan inti minyak sawit yang naik menjadi 108 ribu ton dari 93 ribu ton (16,13%).

“Secara YoY sampai dengan bulan Oktober, ekspor produk kelapa sawit tahun 2025 mencapai 27.691 ribu ton atau naik sekitar 11,49% lebih tinggi dari ekspor tahun 2024 sebesar 24.837 ribu ton,” pungkas Mukti.




Berita Sebelumnya
GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyampaikan pandangannya terkait sejumlah isu krusial dalam industri kelapa sawit. Mulai dari lambatnya peremajaan sawit rakyat (PSR) hingga potensi dampak kebijakan B50 terhadap ekspor dan harga minyak goreng dalam negeri.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *