
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR – Pemulihan ekonomi Sri Lanka mulai menunjukkan arah yang lebih pasti. Negara Asia Selatan tersebut diproyeksikan mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 3,3 persen pada 2025 dan berpotensi melampaui 4 persen pada 2026.
Momentum ini ditopang oleh menguatnya sektor pariwisata, konsumsi domestik yang pulih, serta meningkatnya daya saing ekspor. Namun, geliat ekonomi itu tidak hanya tercermin pada indikator makro.
Transformasi juga terjadi di sektor pangan, seiring urbanisasi yang kian cepat, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta ekspansi sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA). Kondisi ini mendorong permintaan bahan baku pangan yang stabil dan efisien, khususnya minyak dan lemak nabati.

Dilansir InfoSAWIT dari tulisan Roshan Martin dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Minggu (4/1/2026), konsumsi minyak dan lemak pangan Sri Lanka saat ini berada di kisaran 230.000 hingga 250.000 ton per tahun.
Di sisi lain, kapasitas produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 65.000 hingga 70.000 ton, sehingga defisit pasokan harus dipenuhi melalui impor.
Dalam struktur pasokan tersebut, minyak sawit memegang peran strategis, berada tepat di belakang minyak kelapa sebagai sumber utama minyak nabati. Posisi ini semakin menguat dengan dominasi pasokan dari Malaysia yang dalam lima tahun terakhir konsisten menjadi pemasok terbesar minyak sawit ke Sri Lanka.
Bagi industri pangan Sri Lanka, minyak sawit asal Malaysia dinilai tidak hanya unggul dari sisi kesinambungan pasokan, tetapi juga dari fleksibilitas produk. Sawit Malaysia membuka peluang pemanfaatan specialty fats, bahan fungsional, hingga solusi bernilai tambah berbasis sawit yang semakin dibutuhkan industri makanan modern.

Prospek permintaan juga diperkuat oleh pertumbuhan pasar makanan praktis dan layanan berbasis digital. Data Statista mencatat, pasar makanan praktis di Sri Lanka diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar US$2,64 miliar pada 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 7,91 persen hingga 2029. Tren ini didorong kebutuhan masyarakat urban akan makanan cepat saji yang tetap memenuhi aspek gizi.
Sementara itu, pasar layanan pesan-antar makanan daring diperkirakan mencapai €968,10 juta pada 2025, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 16,05 persen sepanjang 2025–2028. Digitalisasi konsumsi pangan ini menjadi sinyal kuat perubahan struktural perilaku konsumen sekaligus peluang bagi industri jasa boga.
Pasar Kecil, Permintaan Stabil
Meski secara volume impor relatif lebih kecil dibandingkan negara Asia lainnya, Sri Lanka dikenal sebagai pasar minyak sawit yang stabil dan konsisten. Impor sawit tahunan tercatat berada di kisaran 80.000 hingga 100.000 ton. Produk refined, bleached, and deodorised (RBD) palm olein masih menjadi tulang punggung sektor HORECA, terutama untuk kebutuhan penggorengan.
Di luar itu, minat terhadap specialty fats untuk industri bakery serta produk non-dairy mulai menunjukkan pertumbuhan. Perkembangan ini membuka ruang diversifikasi yang lebih luas bagi pemasok minyak sawit, baik dari Malaysia maupun Indonesia, seiring transformasi industri pangan Sri Lanka yang semakin bernilai tambah.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *