KONSULTASI
Logo

B60 Bisa Serap 23 Juta Ton CPO, Bagaimana Nasib Ekspor Sawit Indonesia?

9 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
B60 Bisa Serap 23 Juta Ton CPO, Bagaimana Nasib Ekspor Sawit Indonesia?

sawitsetara.co - JAKARTA — Rencana peningkatan mandatori biodiesel dari B50 menjadi B60 berpotensi mengubah peta konsumsi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia. Kebutuhan bahan baku untuk program B60 diproyeksikan mencapai sekitar 22–23 juta ton CPO per tahun.

Angka itu meningkat cukup tajam dibandingkan kebutuhan B50 yang diperkirakan berada pada kisaran 16–17 juta ton per tahun. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran sektor energi dalam menyerap produksi sawit nasional.

Jika B60 diterapkan, konsumsi CPO domestik untuk sektor energi dan pangan diperkirakan meningkat dari sekitar 29 juta ton pada skema B50 menjadi sekitar 35 juta ton.

Kenaikan konsumsi domestik ini tidak hanya berasal dari biodiesel. CPO juga tetap dibutuhkan industri pangan dan oleokimia. Kebutuhan untuk pangan diperkirakan sekitar 10 juta ton per tahun, sedangkan industri oleokimia menyerap sekitar 2,3 juta ton.

apkasindo

Ekspor Bisa Menjadi Salah Satu Dampak

Dilansir dari laman GAPKI, Peningkatan penyerapan CPO oleh sektor energi membuat ruang ekspor berpotensi menyempit. Kondisi itu terjadi jika pertumbuhan produksi sawit nasional tidak mampu mengimbangi kenaikan konsumsi dalam negeri.

Semakin besar produksi dialokasikan untuk biodiesel, semakin kecil porsi yang tersedia bagi pasar internasional. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi volume ekspor sawit Indonesia.

Dampaknya tidak berhenti pada neraca perdagangan. Penurunan ekspor juga berpotensi memengaruhi penerimaan devisa serta pendapatan negara dari pungutan ekspor produk kelapa sawit.

Di sisi lain, kebijakan biodiesel tetap menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan penggunaan energi dengan emisi yang lebih rendah.

Karena itu, kenaikan mandatori dari B50 menuju B60 akan membuat sektor energi semakin menentukan arah pemanfaatan produksi sawit Indonesia.

apkasindo

Kebutuhan B50 Masih Menjadi Pijakan

Sebelum melangkah ke B60, pemerintah masih berfokus pada penerapan penuh B50. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa implementasi penuh B50 ditargetkan mulai berlaku pada Oktober 2026.

Hingga akhir Agustus 2026, realisasi program B50 disebut telah mencapai sekitar 80 persen secara nasional. Pemerintah masih mengawasi dan mengevaluasi kesiapan badan usaha agar penerapan B50 berjalan sesuai target.

Berbagai estimasi industri dan perhitungan Kementerian ESDM menunjukkan kebutuhan CPO untuk B50 berada pada kisaran 15,2–18,7 juta ton per tahun. Kebutuhan tersebut setara dengan sekitar 19 juta kiloliter FAME.

Jika kebutuhan B50 menggunakan angka tertinggi sebesar 18,7 juta ton, peningkatan menuju B60 akan kembali menambah tekanan terhadap pasokan CPO nasional.

Produktivitas Menjadi Kunci

Kebutuhan CPO yang terus meningkat membuat produktivitas perkebunan menjadi persoalan penting. Indonesia tidak harus mengandalkan pembukaan lahan baru untuk meningkatkan produksi.

Produktivitas kebun yang sudah ada dapat ditingkatkan melalui peremajaan tanaman, perbaikan teknik budidaya, dan penggunaan material tanaman berproduktivitas tinggi.

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya tersebut. Kebun rakyat yang diremajakan diharapkan mampu menghasilkan tandan buah segar lebih banyak sehingga pasokan CPO dapat bertambah tanpa ekspansi areal.

Peningkatan produktivitas juga menjadi semakin penting karena kebutuhan CPO tidak hanya datang dari biodiesel. Sektor pangan, oleokimia, dan ekspor tetap membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.

apkasindo

Pasokan Perlu Dihitung Sebelum B60

Besarnya kebutuhan B60 membuat kesiapan pasokan bahan baku perlu dievaluasi sebelum implementasi penuh. Pemerintah perlu memastikan peningkatan serapan CPO untuk energi tidak mengganggu kebutuhan pangan dan industri hilir.

Koordinasi antara pemerintah, industri, dan petani menjadi penting untuk menjaga keseimbangan tersebut. Perencanaan pasokan perlu memperhitungkan kebutuhan biodiesel, konsumsi domestik, ekspor, serta pertumbuhan produksi sawit.

Dengan kebutuhan B60 yang diproyeksikan mencapai 22–23 juta ton CPO per tahun, kemampuan meningkatkan produktivitas akan menjadi penentu. Jika produksi tidak tumbuh seiring kenaikan permintaan domestik, kebijakan biodiesel berpotensi mengubah komposisi pemanfaatan sawit nasional dan mengurangi ruang Indonesia di pasar ekspor.

Tags:

ekspor sawitBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Swadaya Riau Naik, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.943 per Kg

Harga TBS Sawit Swadaya Riau Naik, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.943 per Kg

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya di Provinsi Riau mengalami kenaikan pada periode 9–15 September 2026. Harga tertinggi ditetapkan untuk tanaman umur 9 tahun.

8 September 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *