KONSULTASI
Logo

B50 Sudah Berlaku, Petani Sawit Bangka Belum Rasakan Manfaatnya, APKASINDO Soroti Harga TBS Masih Tertahan

21 Juli 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
B50 Sudah Berlaku, Petani Sawit Bangka Belum Rasakan Manfaatnya, APKASINDO Soroti Harga TBS Masih Tertahan

sawitsetara.co - PANGKALPINANG - Tiga pekan sejak pemerintah resmi memberlakukan program biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026, harapan petani kelapa sawit akan terdongkraknya harga tandan buah segar (TBS) di Pulau Bangka belum juga menjadi kenyataan.

Padahal, kebijakan B50 yang menggunakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar konvensional diyakini akan meningkatkan penyerapan crude palm oil (CPO) di dalam negeri, sehingga berdampak positif terhadap harga TBS di tingkat petani.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Bangka Belitung, Jamaludin, mengatakan hingga saat ini mayoritas perusahaan kelapa sawit di Pulau Bangka belum melakukan penyesuaian harga yang signifikan.

“Kami berharap dengan kondisi saat ini seharusnya terjadi kenaikan harga TBS. Harga CPO naik, nilai tukar dolar juga meningkat, begitu juga harga di luar negeri. Kondisi di Malaysia pun sejalan dengan tren kenaikan tersebut,” ujar Jamaludin.

Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi masih sangat minim. Beberapa perusahaan hanya menaikkan harga sekitar Rp30 per kilogram, sementara sebagian lainnya masih mempertahankan harga lama.

“Masih stagnan. Kalaupun ada kenaikan hanya sekitar Rp30 per kilogram dan tidak semua perusahaan menaikkan harga,” katanya.

Apj

Jamaludin menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan perkembangan pasar global yang sedang menunjukkan tren positif. Kenaikan harga CPO internasional seharusnya menjadi momentum bagi perusahaan untuk menyesuaikan harga pembelian TBS dari petani.

Berbeda dengan situasi di Pulau Bangka, harga TBS di Pulau Belitung justru terus mengalami peningkatan. Bahkan, harga TBS petani swadaya kini hampir menyamai harga yang diterima petani plasma.

“Di Belitung harga terus naik mengikuti perkembangan. Bahkan harga sawit petani mandiri hampir menyamai harga sawit plasma setelah kembali naik hari ini,” jelasnya.

Per 21 Juli 2026, harga pembelian TBS di Pulau Belitung telah mencapai Rp3.670 per kilogram. Sementara di Pulau Bangka, harga masih berkisar antara Rp3.050 hingga Rp3.250 per kilogram.

Melihat adanya selisih harga yang cukup lebar, APKASINDO Bangka Belitung berharap perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Pulau Bangka segera menyesuaikan harga agar petani dapat merasakan manfaat dari kebijakan B50 dan membaiknya kondisi pasar sawit dunia.

Apj

“Sampai hari ini kami belum mendapat informasi apa alasan perusahaan-perusahaan di Bangka belum menaikkan harga. Kami berharap mereka bisa segera menyesuaikan harga sesuai kondisi pasar,” tutup Jamaludin.

Program B50 sendiri merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, kebijakan ini juga diharapkan mampu meningkatkan permintaan CPO domestik dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani sawit.

Tags:

APKASINDO

Berita Sebelumnya
B50 Jalan, Pemerintah Pastikan Ekspor CPO Tetap Terjaga

B50 Jalan, Pemerintah Pastikan Ekspor CPO Tetap Terjaga

Pemerintah memastikan implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai berlaku pada Juli 2026 tidak akan mengganggu kinerja ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia.

20 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *