KONSULTASI
Logo

Alarm Bahaya untuk Sawit? Ekspor Anjlok, Harga CPO Malaysia Tertekan Pekan Ini

24 Februari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Alarm Bahaya untuk Sawit? Ekspor Anjlok, Harga CPO Malaysia Tertekan Pekan Ini

sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah kembali tergelincir. Di tengah penguatan mata uang domestik dan lesunya performa ekspor, kontrak berjangka crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Senin, (24/2/2026).

Dilansir dari Bernama.com, tekanan datang dari dua arah: kurs dan permintaan. Ringgit yang menguat ke level 3,8885/3,8925 per dolar AS—dibanding penutupan Jumat pekan lalu di kisaran 3,8995/3,9055—membuat harga CPO Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Efeknya langsung terasa pada minat beli negara tujuan utama seperti Cina dan India.

Pedagang proprietary dari Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menilai penguatan mata uang lokal meredam minat beli sekaligus memperlambat laju pengapalan. “Data ekspor yang lebih lunak mempertegas kekhawatiran atas prospek permintaan jangka pendek, terutama dari pasar besar seperti Cina dan India,” ujarnya kepada Bernama.com.

Promosi ssco

Sinyal pelemahan itu bukan tanpa angka. Kepala riset komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengungkapkan ekspor sawit Malaysia periode 1–20 Februari 2026 turun dibanding periode 1–20 Januari 2026.

Lembaga survei independen Intertek Testing Services (ITS) memperkirakan ekspor mencapai 863.358 ton, merosot 8,92 persen. Sementara AmSpec mencatat volume lebih rendah lagi, 779.834 ton, atau turun 12,62 persen.

Di saat yang sama, sentimen global ikut menekan. Bagani menyebut momentum penurunan berlanjut sejak Jumat pekan lalu setelah terjadi aksi likuidasi panjang (long liquidation) pada kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT). Pergerakan minyak kedelai kerap menjadi referensi bagi minyak sawit karena keduanya bersaing di pasar minyak nabati global.

Promosi ssco

Pada penutupan perdagangan, kontrak Maret 2026 turun RM12 menjadi RM4.051 per ton. April 2026 melemah RM6 ke RM4.081, sedangkan Mei 2026 terkoreksi RM9 menjadi RM4.083. Kontrak Juni 2026 turun lebih dalam, RM14 ke RM4.082 per ton. Sementara Juli dan Agustus 2026 masing-masing anjlok RM26 menjadi RM4.074 dan RM4.073 per ton.

Aktivitas pasar juga mendingin. Volume perdagangan menyusut menjadi 62.122 lot dari 81.717 lot pada Jumat sebelumnya. Minat terbuka (open interest) turun ke 221.427 kontrak dari 228.011 kontrak. Harga fisik CPO untuk pengiriman Maret Selatan tetap di level RM4.100 per ton.

Kombinasi ringgit yang perkasa, ekspor yang melemah, dan tekanan dari pasar minyak nabati global membuat pelaku pasar memilih menepi. Untuk sementara, arah harga CPO masih dibayangi pertanyaan lama: seberapa cepat permintaan pulih di tengah dinamika kurs dan kompetisi minyak nabati dunia?

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Kelapa sawit telah menjadi salah satu komoditas paling menentukan dalam perjalanan ekonomi Indonesia kontemporer. Ia hadir bukan hanya sebagai sumber devisa dan penggerak ekspor, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk ulang struktur agraria, tata ruang wilayah, hubungan sosial pedesaan, dan arah pembangunan nasional.

| Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *