
sawitsetara.co - JAKARTA — Ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang 2025 melonjak tajam. Nilainya mencapai US$ 35,87 miliar atau sekitar Rp 590 triliun, naik 29,23% dibandingkan 2024 yang sebesar US$ 27,76 miliar.
Lonjakan ini mencerminkan kombinasi kenaikan volume dan harga global yang lebih tinggi. Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menyebut dua faktor tersebut sebagai pendorong utama kinerja ekspor tahun lalu.
“Nilai ekspor tahun 2025 naik 29,23% dibandingkan 2024 yang sebesar US$ 27,76 miliar. Ini dipengaruhi kombinasi volume ekspor yang meningkat dan harga yang lebih baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).

Secara volume, ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai 32,34 juta ton, tumbuh 9,51% dari 29,53 juta ton pada 2024. Produk olahan masih mendominasi dengan kontribusi 22,73 juta ton, diikuti oleokimia 5,08 juta ton, CPO 2,96 juta ton, dan olahan minyak inti sawit 1,56 juta ton.
Kenaikan ekspor terutama ditopang permintaan dari kawasan Afrika, China, Malaysia, Bangladesh, dan Pakistan. Sebaliknya, pengiriman ke India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat justru menurun.
Dari sisi harga, rata-rata CIF Rotterdam sepanjang 2025 tercatat US$ 1.221 per ton, naik dari US$ 1.084 per ton pada 2024. Kenaikan harga ini turut mengerek nilai ekspor secara signifikan.

Di dalam negeri, produksi juga meningkat. Produksi crude palm oil (CPO) mencapai 51,66 juta ton atau naik 7,26%, sementara palm kernel oil (PKO) tumbuh 6,41% menjadi 4,89 juta ton. Total produksi keduanya mencapai 56,55 juta ton, naik 7,18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Konsumsi domestik ikut meningkat 3,82% menjadi 24,77 juta ton. Sektor biodiesel menjadi pendorong utama dengan lonjakan 10,97% menjadi 12,70 juta ton, seiring peningkatan mandatori campuran dari 35% ke 40%.
“Program biodiesel masih menjadi penopang utama penyerapan sawit di dalam negeri. Dan dengan B50, serapan dlama negeri diperkirakan akan meningkat tahun ini,” kata Mukti.
Di sisi lain, konsumsi oleokimia hanya naik tipis 1,22% menjadi 2,23 juta ton, sementara sektor pangan justru turun 3,64% menjadi 9,83 juta ton.
Seiring meningkatnya ekspor dan konsumsi, stok akhir CPO dan PKO turun menjadi 2,07 juta ton pada 2025, atau menyusut 19,79% dibandingkan 2,58 juta ton pada 2024.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *