
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mengakhiri perdagangan Jumat (20/2/2026) dengan langkah tertatih. Setelah mencatat reli kuat sehari sebelumnya, pasar berbalik arah. Pelemahan harga minyak kedelai di Chicago dan penguatan mata uang ringgit menjadi dua faktor utama yang menekan pergerakan harga.
Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO ditutup melemah 0,66 persen ke level 4.090 ringgit Malaysia per ton. Aktivitas transaksi terpantau tidak terlalu ramai. Salah satu penyebabnya, bursa komoditas Dalian di Cina tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek, sehingga referensi regional dan minat transaksi ikut berkurang.
Dilansir dari Sawit Indonesia, tekanan terbesar datang dari sisi eksternal. Harga minyak kedelai—komoditas substitusi utama CPO—mengalami penurunan di pasar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali berhitung, terutama di tengah penguatan ringgit yang berpotensi menggerus daya saing ekspor Malaysia di pasar global.
Kekhawatiran pasar semakin menguat setelah data ekspor terbaru dirilis. Laporan AmSpec Agri Malaysia mencatat pengiriman minyak sawit Malaysia periode 1–20 Februari turun 12,6 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Penurunan ini mempertegas sinyal perlambatan permintaan jangka pendek.
Menurut analisis Trading Economics, pelemahan ekspor tersebut berkaitan dengan siklus musiman. Menjelang Ramadan dan perayaan Idul Fitri, sejumlah negara importir cenderung menahan pembelian sambil menunggu stabilisasi harga dan pasokan. Pola ini berulang hampir setiap tahun dan kerap menimbulkan tekanan sementara di pasar.
Meski demikian, koreksi harian belum sepenuhnya menghapus sentimen positif. Dalam hitungan mingguan, harga CPO justru masih menguat 1,09 persen. Kenaikan ini sekaligus memutus tren pelemahan yang terjadi selama dua pekan berturut-turut, menandakan pasar masih menyimpan optimisme di balik volatilitas jangka pendek.
Dukungan utama datang dari sisi permintaan dan pasokan global. India, sebagai salah satu pembeli terbesar minyak sawit dunia, meningkatkan impor pada Januari hingga 51 persen secara bulanan. Lonjakan ini membawa volume impor India ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, memberikan bantalan permintaan yang signifikan bagi pasar.
Di saat bersamaan, pasokan dari Malaysia menunjukkan tanda-tanda pengetatan. Data terbaru memperlihatkan persediaan minyak sawit Malaysia turun 7,7 persen, sementara produksi merosot 13,8 persen. Kombinasi ini mempersempit ruang suplai dan menjadi faktor penyeimbang di tengah tekanan ekspor.
Sentimen positif juga datang dari sisi kebijakan perdagangan. Indonesia—yang memiliki peran kunci dalam pasar global—berhasil mencapai kesepakatan dagang baru dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut mempertahankan tarif impor pada level 19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan usulan awal sebesar 32 persen. Bahkan, sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit, mendapatkan akses bebas tarif.
Bagi pelaku pasar, kondisi ini menempatkan harga CPO dalam posisi menunggu. Tekanan jangka pendek dari ekspor dan fluktuasi mata uang berhadapan dengan dukungan struktural berupa permintaan India, penurunan stok, serta kebijakan perdagangan yang lebih ramah. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kecepatan pemulihan ekspor Asia Tenggara dan stabilitas pasar minyak nabati global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *