KONSULTASI
Logo

Limbah Sawit Diolah Jadi Bioavtur, Mahasiswa ITN Malang Raih Juara 3 Nasional

23 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Limbah Sawit Diolah Jadi Bioavtur, Mahasiswa ITN Malang Raih Juara 3 Nasional

sawitsetara.co – MALANG — Limbah cair dan tandan kosong kelapa sawit berpotensi menjadi bahan baku bahan bakar pesawat. Gagasan pengolahan limbah menjadi biofuel rendah karbon itu mengantarkan tiga mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang meraih juara ketiga dalam kompetisi energi terbarukan tingkat nasional.

Tim bernama ChENergix tersebut meraih penghargaan dalam Renewable Energy Action Competition (REACT) 2026 di Telkom University, Bandung, pada 17–18 Oktober 2026. Mereka menawarkan inovasi pengolahan limbah sawit menjadi minyak mentah hayati yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan bakar penerbangan atau avtur dan bensin rendah karbon.

Kompetisi yang diselenggarakan Society of Renewable Energy (SRE) Telkom University itu mengusung tema “Green Energy Revolution: Transforming Crisis Into Opportunity”. Ajang ini diikuti 35 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Setelah melewati seleksi berkas, lima tim terbaik berhak melaju ke babak final presentasi. ITN Malang bersaing dengan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan Telkom University.

tamplate

Integrasikan Dua Jenis Limbah Sawit

Tim ChENergix terdiri atas Firmanta Waruwu, Azareel Sharon Ronauli Sihombing, dan Bunga Cinta Lestari. Ketiganya mengembangkan karya ilmiah berjudul “AQUA-FUEL LOOP: Integrasi Hydrothermal Liquefaction – Wet Oxidation Berbasis POME dan TKKS untuk Produksi Biofuel Sirkular dan Rendah Karbon”.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan pengelolaan limbah perkebunan kelapa sawit. Firmanta melihat potensi pemanfaatan limbah sawit yang belum diolah secara optimal, terutama di daerah asalnya, Sumatera Utara.

Selama ini, limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) umumnya dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Namun, menurut Firmanta, pemanfaatan tersebut menghadapi risiko kebocoran gas. Sementara itu, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) masih kerap dibakar sehingga berpotensi mencemari udara.

Melalui AQUA-FUEL LOOP, tim menawarkan pendekatan circular biorefinery yang mengintegrasikan pengolahan limbah basah dan padat. Mereka menggunakan teknologi Hydrothermal Liquefaction (HTL), yakni proses yang memanfaatkan suhu dan tekanan tinggi untuk mengubah bahan organik menjadi minyak mentah hayati atau biocrude.

Teknologi ini memungkinkan pengolahan campuran limbah tanpa melalui tahap pengeringan terlebih dahulu. Minyak mentah hayati yang dihasilkan kemudian berpotensi diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar, termasuk avtur dan bensin.

Inovasi mereka tidak berhenti pada produksi minyak hayati. Tim juga merancang pemanfaatan kembali fase air yang tersisa dari proses HTL. Fase air atau aqueous phase tersebut mengandung senyawa organik. Tim mengolahnya bersama POME dan oksigen melalui proses oksidasi basah atau Wet Oxidation (WO).

Proses itu bertujuan mengoksidasi senyawa organik sekaligus menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk pemanasan awal campuran TKKS atau slurry. Sistem tersebut membentuk sirkulasi energi tertutup atau closed-loop system. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi karbon dalam produksi biofuel.

tamplate

Menunggu Pengujian Laboratorium

Meski meraih penghargaan nasional, AQUA-FUEL LOOP masih berada pada tahap pengembangan konsep. Firmanta mengatakan, rancangan inovasi tersebut telah disusun hingga skema validasi empat tahap, termasuk pengujian dalam skala laboratorium. Ia berharap dukungan fasilitas dan pendanaan dapat membantu tim melanjutkan gagasan tersebut menjadi penelitian nyata.

“Harapan kami, karya ini tidak berhenti di sini. Semoga ada dukungan fasilitas laboratorium maupun pendanaan, baik dari pihak kampus maupun pemerintah, agar bisa direalisasikan menjadi riset nyata untuk menekan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil,” kata Firmanta saat ditemui di Kampus 2 ITN Malang, Rabu (21/10/2026).

Dosen pembimbing tim, Dr. Ir. Jimmy, ST., MT., MM., mengapresiasi kemampuan mahasiswa merumuskan gagasan transisi energi yang menghubungkan produksi biofuel, pengolahan residu cair, dan pemulihan energi.

“Melalui AQUA-FUEL LOOP, Tim ChENergix mengusulkan integrasi produksi biofuel, pengolahan residu cair, dan pemulihan energi. Saya mengapresiasi kerja keras, kreativitas, dan kolaborasi seluruh anggota tim. Harapannya, gagasan ini berkembang menjadi riset terukur yang memberi manfaat bagi industri dan masyarakat,” ujar Jimmy.

Kolaborasi Mahasiswa Beda Semester

Bagi Firmanta, juara ketiga REACT 2026 menjadi pencapaian penting setelah beberapa kali mengikuti perlombaan dan hanya berhasil masuk lima besar finalis. Ia menemukan informasi kompetisi tersebut melalui Instagram. Dari tiga cabang yang tersedia, tim memilih kategori esai mahasiswa karena sesuai dengan latar belakang keilmuan mereka.

Menariknya, Firmanta menggandeng Azareel dan Bunga yang masih duduk di semester tiga. Ketiganya mengenal satu sama lain melalui aktivitas di Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK), khususnya Departemen Informasi dan Komunikasi.

Azareel mengatakan, keikutsertaannya dalam kompetisi menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman. Firmanta menangani penulisan esai, sedangkan Azareel dan Bunga membantu menyusun poster, presentasi PowerPoint, serta mendalami materi.

“Dari awal masuk kuliah, saya pengen banget ikut lomba buat menambah pengalaman. Pas diajak Mas Firman, langsung coba ikut,” kata Azareel.

Ia mengakui sesi presentasi dan tanya jawab menjadi tantangan tersendiri. Salah satu kesulitan muncul ketika juri mengajukan pertanyaan di luar perkiraan, terutama mengenai kelemahan teknologi HTL yang mereka usulkan.

“Yang paling sulit tentu menjawab pertanyaan juri yang di luar dugaan, terutama saat ditanya soal kelemahan konsep HTL yang kami ajukan. Apalagi kami masih belajar materi dasar di semester awal, jadi sempat grogi dan nge-blank sedikit,” ujarnya.


Pengalaman serupa dirasakan Bunga. REACT 2026 menjadi kompetisi esai tingkat nasional pertamanya. Ia sempat pesimistis terhadap hasil presentasi tim sebelum pengumuman pemenang.


“Agak speechless dan awal-awal sempat pesimis karena merasa belum memberikan yang maksimal. Tapi begitu diumumkan dapat Juara 3, senang sekali. Ke depan kalau ada peluang lomba lain, saya pengen coba ikut lagi untuk menambah pengalaman,” kata Bunga.


Prestasi ChENergix menunjukkan potensi pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan baku energi alternatif. Namun, realisasi AQUA-FUEL LOOP masih membutuhkan pengujian laboratorium untuk menilai kinerja proses, efisiensi energi, dan kelayakan penerapannya.


Dukungan riset menjadi langkah penting agar gagasan tersebut dapat berkembang dari konsep akademik menjadi teknologi yang terukur dan berpotensi mendukung pengembangan biofuel rendah karbon di Indonesia.

Tags:

Berita Sawitlimbah sawit

Berita Sebelumnya
Penas III Jadi Momentum Konsolidasi Program APKASINDO, KH Suher Harap Petani Sawit Makin Sejahtera

Penas III Jadi Momentum Konsolidasi Program APKASINDO, KH Suher Harap Petani Sawit Makin Sejahtera

Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia ke-III (Penas III) diharapkan menjadi momentum konsolidasi program kerja Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Forum ini diharapkan menghasilkan rumusan bersama untuk memperkuat perjuangan dan kesejahteraan petani sawit nasional.

22 Oktober 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *