
sawitsetara.co – MALANG — Peternak kambing di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, memanfaatkan solid sawit yang difermentasi sebagai bahan pakan alternatif. Pengalaman ini menunjukkan potensi limbah industri kelapa sawit untuk menekan biaya produksi peternakan yang selama ini didominasi pengeluaran pakan.
Maulana Akbar, peternak kambing asal Tapin, mencampurkan solid sawit hasil fermentasi dengan hijauan dan konsentrat. Berdasarkan pengalamannya, penggunaan campuran tersebut mampu menurunkan biaya pakan sebesar 30–40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu.
Dalam uji coba selama 30 hari, beberapa kambing yang dipeliharanya mengalami kenaikan bobot badan 3–4 kilogram. Pasokan limbah yang berkelanjutan dari perusahaan sawit di sekitar lokasi usahanya juga membantu menjaga ketersediaan bahan baku.
Pengalaman Maulana menjadi salah satu materi dalam Workshop dan Aksi Nyata bertema “Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular”. Kegiatan ini diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Workshop berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Gedung GKSI Jawa Timur, Kabupaten Malang. Pesertanya terdiri atas peternak dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pakan ternak, peternakan, serta pengolahan hasil perkebunan.
Biaya Pakan Mendominasi Pengeluaran Peternak
Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga, Prof. Dyah Wulan Sari, mengatakan tingginya biaya pakan menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui pemanfaatan bahan baku alternatif.
Biaya pakan dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi peternakan. Ketergantungan pada bahan pakan tertentu membuat pengeluaran peternak rentan meningkat ketika harga bahan baku berubah.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber bahan baku alternatif dari industri kelapa sawit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional mencapai 47,24 juta ton pada 2025. Luas areal perkebunannya sekitar 16,16 juta hektare.
Produksi tersebut juga menghasilkan produk sampingan, seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit. Bahan-bahan itu berpotensi dimanfaatkan dalam formulasi pakan ternak melalui pengolahan yang sesuai.
“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” ujar Dyah.
Alternatif untuk Mendukung Produksi Susu
Dekan FEB Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rudi Purwono, menilai inovasi pakan alternatif juga relevan untuk mendukung peningkatan produksi susu nasional.
Menurut dia, kebutuhan susu masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya terpenuhi. Peningkatan produksi perlu disertai upaya memperbaiki kesejahteraan peternak agar usaha peternakan semakin menarik bagi generasi muda.
Diversifikasi bahan baku pakan menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan. Namun, penggunaannya perlu memperhatikan formulasi nutrisi, standar mutu, serta keamanan pakan.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan pemanfaatan produk sampingan sawit dapat memperluas manfaat komoditas tersebut di luar industri pangan.
“Kami bekerja sama dengan FEB Unair untuk kegiatan di Malang ini sebagai upaya mengenalkan kebaikan sawit jadi sawit bukan hanya dijadikan minyak goreng tetapi bagus untuk pakan ternak dari bungkil serta daunnya,” kata Helmi.
Dia juga menjelaskan bahwa salah satu hasil Grant Riset Sawit menunjukkan potensi pemanfaatan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi lemak kalsium untuk pakan sapi perah.
“Salah satu hasil Grant Riset Sawit menunjukkan pemanfaatan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi lemak kalsium untuk pakan sapi perah terbukti meningkatkan kuantitas dan kualitas susu,” ujarnya.
Peternak Belajar Mengolah Limbah Sawit
Dalam workshop tersebut, peserta memperoleh pelatihan teknis pengolahan pakan, formulasi pakan, teknologi fermentasi, serta standar mutu dan keamanan produk. Praktik pengolahan mencakup solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.
Peserta juga diajak menganalisis biaya produksi, memperkirakan keuntungan, dan menyusun model bisnis sederhana. Pendekatan ini bertujuan agar pemanfaatan limbah sawit tidak hanya diterapkan untuk kebutuhan peternakan sendiri, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai usaha.
Meski menawarkan peluang penghematan, efektivitas pakan berbasis limbah sawit tetap bergantung pada komposisi nutrisi, metode pengolahan, kondisi ternak, dan ketersediaan bahan baku.
Melalui pelatihan tersebut, BPDP dan Universitas Airlangga mendorong peternak mengenali potensi sumber pakan alternatif sekaligus mengembangkan usaha peternakan yang lebih efisien.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *