KONSULTASI
Logo

Wacana Naiknya HET MINYAKITA

3 Mei 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Wacana Naiknya HET MINYAKITA
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA – Jelang implementasi B50, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan penyesuaian harga eceran teringgi (HET) MINYAKITA tidak akan mempengaruhinya. Penyesuaian HET lebih didasari naiknya harga bahan baku dalam hal ini crude palm oil (CPO) dan biaya produksi diantaranya naiknya harga plastic untuk pengemasan.

“Ini kan faktor karena harga CPO naik, biaya produksi naik. Jadi kami kan harus menyesuaikan semua,” kata Menteri Perdagangan, Budi Santoso.

Meski begitu, menurut Budi wacana naiknya HET MINYAKITA masih dalam pembahasan. Sebab, saat ini pemerintah sedang memastikan kondisi harga dan pasokan MINYAKITA secara nasional. Namun dipastikan kebutuhan untuk MINYAKITA tidak akan mempengaruhi program B50

Akan tetapi harus diakui bahwa dibeberapa daerah harga MINYAKITA melebihi HET yakni diatas Rp15.700/liter, diantaranya Papua, bahka di Jabodetbek pun terkadan masih ada harga MINYAKITA diatas HET.

‎“Memang ada daerah tertentu yang agak mahal misalnya kayak di Papua. Karena faktor distribusi. Nah kami sudah minta ke Bulog untuk mendistribusikan ke Papua,” jelas Budi.


Sawit Setara Default Ad Banner

Sementara itu, sebelumnya Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman menekankan menekankan bahwa pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah menjaga sisi produksi komoditas strategis, termasuk minyak goreng, agar tetap aman dan mencukupi kebutuhan nasional. Sawit dan turunannya merupakan komoditas penting yang menopang ketahanan pangan dan energi nasional.

“Produksi kita jaga. Menjadi komoditas strategis nasional yang krusial untuk swasembada pangan dan energi. Tapi kalau di hilir ada lagi MINYAKITA yang seperti ini lagi tidak sesuai ketentuan, kita tindak lagi,” unngkap Amran.

Melalui sinergi lintas Kementerian/Lembaga (K/Ll) seperti Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Satgas Pangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustria dan aparat penegak hukum, pemerintah siap menstabilkan harga MINYAKITA.

Amran juga kembali mengingatkan bahwa regulasi sudah jelas, termasuk ketentuan harga di bawah HET maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) yang wajib dipatuhi seluruh pelaku usaha sektor pangan.


Sawit Setara Default Ad Banner

Sekedar catatan, Salah satu langkah untuk meredam harga MINYAKITA salah satunya yakni dengan Domestic Market Obligation (DMO) yang semakin efektif dalam menjaga pasokan MINYAKITA agar harga harga tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.700/liter sesuai yang ditetapkan pemerintah.

"Penurunan harga MINYAKITA merupakan bukti bahwa kebijakan DMO yang dilakukan pemerintah semakin efektif dalam menjaga pasokan MGS untuk memenuhi HET," ujar Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung.

Penurunan harga MINYAKITA di pasaran terbukti terjadi pada periode Januari 2026 hingga minggu ke-3 April 2026 dari Rp16.865/liter menjadi Rp15.949/liter, mendekati HET Rp15.700/liter.

Sementara itu dalam periode yang sama harga minyak goreng premium naik dari Rp21.166/liter menjadi Rp21.793/liter. Kemudian harga m,inyak goreng curah naik dari Rp17.790/liter menjadi Rp19.486/liter.


Sawit Setara Default Ad Banner

Tungkot menerangkan, ada tiga jenis minyak goreng sawit yang dikonsumsi oleh masyarakat di dalam negeri, yakni minyak goreng kemasan premium dengan berbagai merek, minyak goreng dengan merk MINYAKITA yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan segmen masyarakat berpendapatan rendah dan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), serta minyak goreng curah untuk industri pangan.

Dari ketiga jenis minyak goreng sawit tersebut, pemerintah bisa mengendalikan harga dan ketersediaan MGS MinyaKita. Adapun, harga dan ketersediaan MGS premium dan curah dikendalikan oleh pasar.

"Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi)," ungkap Tungkot.



Berita Sebelumnya
Petani Sawit Sulteng: Demi Harga yang Kompetitif, Jangan Tutup PKS Tanpa Kebun

Petani Sawit Sulteng: Demi Harga yang Kompetitif, Jangan Tutup PKS Tanpa Kebun

Siswanto menegaskan bahwa selama ini hubungan antara petani dengan PKS tanpa kebun berjalan baik dan saling menguntungkan. “Selama ini, pengalaman kami, dengan adanya PKS tanpa kebun itu yang pertama, harga jadi lebih kompetitif,” ujarnya di Palu.

2 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *