KONSULTASI
Logo

Unilak Buka Jalur RPL untuk Pekebun Sawit, Pengalaman Kerja Bisa Diakui Jadi SKS

5 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Unilak Buka Jalur RPL untuk Pekebun Sawit, Pengalaman Kerja Bisa Diakui Jadi SKS

sawitsetara.co - PEKANBARU — Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning (Unilak) menawarkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi pekebun dan pelaku usaha kelapa sawit yang ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana.

Dekan Fakultas Pertanian Unilak, Dr. Amalia, S.P., M.M., mengatakan program tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan, khususnya bagi pekebun yang telah memiliki pengalaman kerja di lapangan.

Melalui skema RPL, pengalaman kerja dan kompetensi yang dimiliki calon mahasiswa dapat direkognisi atau diakui sebagai bagian dari satuan kredit semester (SKS).

“Pekebun atau anak-anak kita yang mempunyai pengalaman kerja di lapangan dapat meraih sarjana, tidak perlu empat tahun lagi. Cukup dua tahun atau empat semester karena pengalaman kerjanya akan diakui menjadi SKS,” kata Amalia dalam kegiatan penyambutan dan kuliah umum mahasiswa penerima Beasiswa BPDP 2026 di Unilak, Senin (5/10/2026).

apkasindo

Menurut Amalia, program tersebut memberikan peluang bagi pekebun maupun pekerja sektor sawit untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan tanpa harus meninggalkan aktivitas mereka di lapangan dalam waktu yang panjang.

Pelaksanaan RPL di Fakultas Pertanian Unilak juga dirancang dengan pendekatan hybrid, yakni kombinasi pembelajaran secara daring dan luring. Skema tersebut dinilai lebih fleksibel bagi peserta yang telah bekerja dan memiliki aktivitas di perkebunan.

Amalia mengatakan peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh keluarga besar petani dan pelaku usaha sawit, termasuk melalui kerja sama dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).

“Ini merupakan peluang yang sangat bagus. Kami mohon bantuannya untuk disebarkan. Kami bisa bantu untuk peningkatan SDM tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, Fakultas Pertanian Unilak sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan APKASINDO. Ke depan, kerja sama tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas pendidikan bagi pekebun dan keluarga petani sawit melalui program RPL.

Amalia menilai kebutuhan SDM perkebunan kelapa sawit ke depan tidak lagi sebatas tenaga yang mampu bekerja di kebun. Industri sawit membutuhkan SDM yang memahami produksi, teknologi, ekonomi, manajemen, hilirisasi, keberlanjutan, digitalisasi, hingga persoalan lingkungan.

Karena itu, pendidikan di Fakultas Pertanian Unilak tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan (knowledge), tetapi juga keterampilan, sikap, kepemimpinan, kewirausahaan, dan inovasi.

“Kami ingin lulusan Fakultas Pertanian Unilak menjadi SDM yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan dan memberikan solusi,” kata Amalia.

apkasindo

Ia juga mendorong mahasiswa penerima beasiswa BPDP untuk memiliki visi lebih besar setelah menyelesaikan pendidikan. Mahasiswa, menurutnya, tidak harus berhenti sebagai pencari kerja, tetapi dapat menjadi problem solver, pengusaha, inovator, peneliti, pemimpin, maupun profesional di sektor sawit.

Khusus mahasiswa penerima beasiswa BPDP, Fakultas Pertanian Unilak juga menyiapkan program pengembangan kemampuan di luar perkuliahan, termasuk kepemimpinan, kewirausahaan, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin.

Amalia berharap lulusan nantinya dapat kembali membantu mengembangkan usaha perkebunan keluarga sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan industri sawit Indonesia.

“Bantu orang tua kalian untuk mengembangkan kebunnya,” pesannya kepada mahasiswa penerima beasiswa BPDP 2026.

Hadir Wakil Rektor I Unilak Dr. Zamzami M.Kom., Wakil Bupati Rokan Hulu H. Safaruddin Poti, S.H., M.M., Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, serta perwakilan Dinas Perkebunan Provinsi Riau dan jajaran APKASINDO.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
142 Desa Masih Masuk Kawasan Hutan, Bappeda Riau Soroti Tantangan ISPO Sawit

142 Desa Masih Masuk Kawasan Hutan, Bappeda Riau Soroti Tantangan ISPO Sawit

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Riau, Purnama Irawansyah, S.Hut., MM., menyebut masih terdapat 142 desa di Riau yang berada dalam kawasan hutan. Kondisi tersebut turut memengaruhi kepastian ruang dan legalitas lahan masyarakat, termasuk kebun yang telah lama dikelola.

3 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *