
sawitsetara.co - PEKANBARU — Pengendalian penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma tidak hanya dilakukan dengan menangani tanaman yang telah terserang. Menurut praktisi perkebunan kelapa sawit Ferry Harianja, keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah juga perlu diperhatikan.
Salah satu mikroorganisme yang digunakan dalam pengendalian tersebut adalah Trichoderma. Mikroorganisme ini disebut dapat menjadi antagonis alami bagi Ganoderma sekaligus membantu memperbaiki kondisi lingkungan tanah.
Ferry mengatakan Trichoderma membutuhkan lingkungan dan sumber makanan yang sesuai agar dapat berkembang di dalam tanah.
“Trichoderma itu kita rawat, kita berikan makanan. Makanannya itu adalah bahan-bahan organik seperti tandan kosong atau kotoran hewan,” kata Ferry dalam program Sawit Talk, sawitsetara.co.
Menurut dia, ketika populasi Trichoderma dapat berkembang dengan baik, mikroorganisme tersebut menghasilkan enzim kitinase. Enzim itu disebut dapat membantu tanaman meningkatkan ketahanan terhadap serangan Ganoderma.

Pendekatan tersebut kemudian diterapkan Ferry melalui penggunaan TrichoCycle, produk pupuk organik hayati yang menurut dia mengandung Trichoderma sp. Produk tersebut ditujukan untuk membantu menekan perkembangan Ganoderma sekaligus mendukung kondisi lingkungan di sekitar perakaran.
“Ini merupakan pupuk organik yang diperkaya oleh mikroba hayati. Di dalamnya banyak spora Trichoderma dan ada sedikit nutrisinya,” ujar Ferry.
Ferry mengatakan penggunaan Trichoderma perlu memperhatikan kondisi lingkungan tempat mikroorganisme tersebut diaplikasikan. Salah satu kesalahan yang menurut dia kerap terjadi adalah menempatkan Trichoderma di permukaan tanah sehingga terpapar langsung sinar matahari.
Menurut Ferry, kondisi tersebut dapat mengganggu keberlangsungan mikroorganisme. Karena itu, bahan perlu ditempatkan di dalam tanah dan kemudian ditutup agar terlindung.
“Trichoderma itu sangat rentan dengan sinar matahari. Kita harus mengorek tanah, kemudian kita taruh ke dalam. Kita kasih juga dia nutrisinya,” kata dia.
Untuk tanaman yang telah menunjukkan gejala serangan, Ferry menjelaskan perlakuan perlu disesuaikan dengan tingkat keparahannya.
Tanaman yang masih sehat untuk tujuan pencegahan disebut dapat diberikan sekitar 500 gram. Untuk tanaman dengan gejala ringan, dosis yang disebutkan sekitar 1 kilogram. Sementara tanaman dengan kondisi lebih parah dapat diberikan hingga 2 kilogram.

Jika telah terdapat fruiting body atau tubuh buah Ganoderma pada pangkal batang, Ferry menyarankan aplikasi dilakukan pada bagian tersebut. Bahan kemudian ditutup menggunakan tandan kosong dan tanah.
“Kalau terjadi di basal stem rot-nya ini, pangkal batangnya, tabur Trichoderma TrichoCycle tadi. Kemudian kita tutup dengan tandan kosong,” ujarnya.
Menurut Ferry, perlakuan juga tidak berhenti pada satu kali aplikasi. Pemeliharaan populasi Trichoderma diperlukan agar mikroorganisme tersebut tetap berkembang di lingkungan perakaran.
Ia mengatakan pendekatan serupa dapat digunakan sejak tanaman masih sehat sebagai langkah pencegahan. Sementara pada tanaman yang telah menunjukkan gejala, perlakuan perlu disesuaikan dengan kondisi serangan.
Ferry juga menekankan bahwa penggunaan produk berbasis mikroba tidak dapat dipisahkan dari cara aplikasi. Kesalahan dalam penempatan bahan, menurut dia, dapat memengaruhi efektivitas perlakuan.
“Seharusnya kita mencegah lebih baik daripada mengobati,” kata Ferry.
Karena itu, selain mengenali gejala sejak dini, petani perlu memperhatikan kondisi tanah, keberadaan mikroorganisme di sekitar perakaran serta teknik aplikasi ketika melakukan pengendalian Ganoderma. Dalam konteks tersebut, TrichoCycle menjadi salah satu produk berbasis Trichoderma yang ditawarkan Ferry untuk membantu penanganan dan pencegahan penyakit tersebut.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *