
sawitsetara.co - JAKARTA — Tiga bulan setelah mandatori biodiesel B50 mulai berlaku, pasar saham mencatat pergerakan yang jauh lebih agresif dibandingkan harga minyak sawit mentah atau CPO. Kenaikan sejumlah saham emiten sawit bahkan mencapai puluhan persen sejak kebijakan B50 diterapkan pada 1 Juli 2026.
Data historis Investing.com menunjukkan saham PT Prime Agri Resources Tbk atau SGRO menjadi yang mengalami kenaikan terbesar. Pada penutupan 30 Juni 2026, saham SGRO berada di level Rp2.510. Pada penutupan 28 September, harganya mencapai Rp4.210, atau naik 67,7 persen.
Kenaikan itu jauh di atas harga CPO berjangka di Bursa Malaysia. Dalam periode yang sama, harga CPO hanya naik 2 persen menjadi 4.649 ringgit per ton. Sementara itu, IHSG menguat 8,9 persen.
SGRO bukan satu-satunya saham sawit yang mencatat kenaikan signifikan. Eagle High Plantations (BWPT) naik 47,9 persen menjadi Rp108, sedangkan Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) menguat 47,6 persen menjadi Rp1.070.
Dharma Satya Nusantara (DSNG) naik 40,4 persen menjadi Rp1.565, Triputra Agro Persada (TAPG) 38,1 persen menjadi Rp1.995, dan Astra Agro Lestari (AALI) 31,5 persen menjadi Rp7.825.
Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR) menguat 29 persen, Sumber Tani Agung Resources (STAA) 18,5 persen, London Sumatra Indonesia (LSIP) 18,1 persen, serta Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS) 18,1 persen.
Salim Ivomas Pratama (SIMP) naik 8,6 persen dan Austindo Nusantara Jaya (ANJT) 6,9 persen. Adapun Tunas Baru Lampung (TBLA) menjadi satu-satunya dari 13 emiten dalam daftar yang mengalami penurunan, yakni 1,7 persen.
Namun, lonjakan tiga bulan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh saham telah memulihkan penurunan sebelumnya. SGRO, misalnya, masih sekitar 45 persen di bawah posisi penutupan akhir 2025.
B50 Mulai Terserap
Pergerakan saham tersebut berlangsung ketika implementasi B50 mulai menunjukkan realisasi di lapangan. Kebijakan yang mewajibkan pencampuran solar dengan 50 persen biodiesel berbasis sawit berlaku sejak 1 Juli 2026, setelah pemerintah menerapkan B40 sepanjang semester pertama.
Kementerian ESDM mencatat alokasi biodiesel sepanjang 2026 sekitar 17,6 juta kiloliter. Hingga 7 September 2026, penyaluran B50 telah mencapai 3,4 juta kiloliter.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut total serapan biodiesel sepanjang tahun mencapai 10,69 juta kiloliter. Angka itu termasuk sekitar 7,27 juta kiloliter dari fase B40.
Dari sisi distribusi, B50 telah tersedia di 6.050 SPBU atau sekitar 94 persen dari total SPBU.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut B50 sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan impor solar. Di pasar modal, program tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan saham perusahaan sawit. Namun, kenaikan harga saham yang jauh lebih tinggi daripada CPO menunjukkan pasar tidak hanya bergerak mengikuti harga komoditas.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *