KONSULTASI
Logo

Sungai Kapuas Mengering, Sejumlah PKS di Sekadau Setop Terima TBS Sawit

7 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Sungai Kapuas Mengering, Sejumlah PKS di Sekadau Setop Terima TBS Sawit

sawitsetara.co - Badai El Nino mulai menekan rantai pasok kelapa sawit di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terpaksa menghentikan sementara operasional penerimaan Tandan Buah Segar (TBS) dari petani karena tangki penyimpanan Crude Palm Oil (CPO) telah penuh.

Kondisi tersebut terjadi setelah distribusi CPO dari PKS menuju tempat penampungan berikutnya mengalami hambatan. Jalur sungai yang selama ini menjadi salah satu akses utama pengangkutan CPO, yakni Sungai Kapuas, mengalami kekeringan sehingga kapal pengangkut tidak dapat beroperasi secara optimal.

Situasi ini membuat petani sawit di Sekadau mulai diliputi kecemasan. Pasalnya, ketika PKS berhenti menerima TBS, buah sawit yang sudah memasuki masa panen berisiko tidak terserap dan akhirnya membusuk di pohon.

Sekretaris Aspek-Pir Kalbar, Prasetijo Hermawan, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar lima hari. Dari sekitar delapan PKS yang beroperasi di wilayah Sekadau, rata-rata sudah tidak menerima TBS dari petani.

“Di sini ada delapan PKS, rata-rata sudah tidak menerima TBS dari petani. Ini berlaku sejak lima hari lalu,” ujar Prasetijo dikutip dari elaeis.co.

Menurut Prasetijo, sejumlah PKS sebenarnya telah berupaya mencari jalan keluar dengan mengalihkan distribusi CPO dari jalur sungai ke jalur darat.

apkasindo

Namun, solusi tersebut menghadapi kendala lain. Ketersediaan truk tangki pengangkut CPO di Kalimantan Barat dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh PKS yang terdampak.

“Mereka sedang berupaya mengirimkan CPO via truk tangki. Tetapi kendalanya di Kalbar ini jumlah truk tangki tidak memadai, sehingga semua pabrik berebutan untuk mendapatkan truk tangki CPO,” jelasnya.

Keterbatasan armada membuat proses pengosongan tangki penyimpanan CPO berjalan lambat. Padahal, pengosongan tangki menjadi kunci agar PKS dapat kembali menerima TBS dari petani.

Di sisi lain, kondisi ini mulai dirasakan langsung oleh petani. Prasetijo menyebut sebagian petani terpaksa membiarkan buah sawit yang sudah matang tetap berada di pohon karena tidak ada PKS yang bersedia menerima TBS.

“Petani terpaksa membiarkan TBS kelapa sawitnya busuk di pohon. Sebab tidak ada PKS yang menerima, kecuali sebagian petani binaan PKS sendiri,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani swadaya yang tidak memiliki hubungan kemitraan langsung dengan PKS. Ketika jalur pemasaran terganggu, petani tidak memiliki banyak pilihan untuk menjual hasil panennya.

Di Sekadau terdapat lebih dari 20 koperasi perkebunan kelapa sawit. Menurut Prasetijo, hampir seluruh koperasi ikut terdampak, meski dampaknya relatif lebih ringan bagi koperasi yang memiliki hubungan kemitraan dengan PKS.

Prasetijo memperingatkan persoalan tersebut berpotensi berlangsung cukup lama apabila kondisi Sungai Kapuas tidak segera membaik.

Menurut dia, penutupan penerimaan TBS bahkan bisa berlangsung hingga satu bulan. Pasalnya, PKS membutuhkan waktu untuk mengosongkan tangki penyimpanan CPO, sementara armada truk tangki yang tersedia juga terbatas.

apkasindo

“Jika kondisi Sungai Kapuas terus seperti ini, bisa jadi penutupan itu sampai satu bulan. Sebab untuk mengosongkan tangki penyimpanan CPO juga memakan waktu, terlebih armada untuk pengangkutan juga terbatas,” pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada produksi perkebunan, tetapi juga dapat mengganggu mata rantai distribusi sawit dari kebun hingga industri. Bagi petani, terhentinya penerimaan TBS di PKS berarti ancaman langsung terhadap kepastian pasar dan pendapatan mereka.


Berita Sebelumnya
Lahan Terbatas, Nilai Tak Terbatas: Pakar  Ekonomi Dorong Transformasi Sawit Menuju Kedaulatan Petani

Lahan Terbatas, Nilai Tak Terbatas: Pakar Ekonomi Dorong Transformasi Sawit Menuju Kedaulatan Petani

Pakar ekonomi sekaligus Rektor Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN), Prof. Agus Pakpahan, menilai pengembangan industri kelapa sawit Indonesia perlu segera bergeser dari orientasi ekspansi lahan menuju peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan petani.

5 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *