KONSULTASI
Logo

SF Hariyanto Ungkap Kekuatan Perkebunan Riau: Sawit Dominan, Kelapa Hadapi Tantangan

18 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
SF Hariyanto Ungkap Kekuatan Perkebunan Riau: Sawit Dominan, Kelapa Hadapi Tantangan

sawitsetara.co – Sektor perkebunan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Provinsi Riau. Dengan jutaan hektare areal perkebunan dan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, dan sagu, sektor ini dinilai memiliki ruang besar untuk terus dikembangkan.

Namun, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menilai besarnya potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah persoalan, mulai dari peremajaan tanaman, tata air di kawasan pesisir, hingga penguatan hilirisasi agar komoditas perkebunan menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Hal tersebut disampaikan SF Hariyanto saat memberikan paparan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Kota Pekanbaru, Rabu (16/9/2026).

“Kalau kita melihat Riau dari kekuatan dasarnya, salah satu yang terbesar adalah perkebunan,” kata SF Hariyanto.

Menurutnya, Riau memiliki sekitar 3,88 juta hektare perkebunan kelapa sawit dengan produksi sekitar 9,4 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun. Luas tersebut setara sekitar 21 persen dari total areal perkebunan sawit nasional. Sementara kontribusi produksinya mencapai sekitar 20 persen terhadap produksi CPO nasional.

Yang menarik, sebagian besar perkebunan sawit di Riau merupakan perkebunan rakyat. SF Hariyanto menyebut sekitar 61 persen dari keseluruhan areal sawit Riau merupakan perkebunan rakyat.

apkasindo

“Artinya, sawit bukan hanya komoditas utama, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat,” ujarnya.

Besarnya porsi perkebunan rakyat tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri sawit di Riau tidak hanya berkaitan dengan kinerja komoditas, tetapi juga berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor perkebunan.

Selain sawit, kelapa juga menjadi salah satu komoditas penting Riau. Berdasarkan paparan SF Hariyanto, luas perkebunan kelapa di Riau mencapai sekitar 441 ribu hektare, dengan produksi lebih dari 406 ribu ton kopra atau setara sekitar 2,2 miliar butir kelapa per tahun.

Namun, sektor ini menghadapi persoalan produktivitas tanaman. Sekitar 80 ribu hektare atau 18,3 persen tanaman kelapa di Riau disebut telah berada dalam kondisi tua dan rusak.

“Di sinilah persoalan kita mulai terlihat. Pada komoditas kelapa, misalnya, sekitar 80 ribu hektare atau 18,3 persen tanaman kita sudah berada dalam kondisi tua dan rusak,” katanya.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap produksi. SF Hariyanto mencatat produksi kelapa Riau yang pernah mencapai sekitar 2,9 miliar butir pada 2010, turun menjadi sekitar 2,1 miliar butir pada 2020.

Menurutnya, persoalan kelapa di Riau tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti tanaman tua. Kawasan produksi, terutama di wilayah pesisir, juga menghadapi persoalan tata air, abrasi, dan intrusi air laut.

“Persoalannya bukan hanya peremajaan. Di kawasan pesisir kita menghadapi persoalan tata air, abrasi dan intrusi air laut. Di sisi lain, akses pasar dan hilirisasi produk kelapa kita juga masih perlu diperkuat,” ujarnya.

apkasindo

SF Hariyanto menilai potensi besar sektor perkebunan harus diikuti dengan upaya meningkatkan nilai tambah. Artinya, komoditas tidak berhenti pada penjualan produk mentah, tetapi perlu didorong masuk ke industri pengolahan.

Selain kelapa sawit dan kelapa, Riau juga memiliki potensi sagu yang besar. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan bersamaan dengan penguatan industri pengolahan dan akses pasar.

Pemerintah Provinsi Riau pun mendorong sejumlah langkah, mulai dari optimalisasi lahan, peremajaan tanaman kelapa yang dibarengi pembenahan tata air, penyediaan benih, hingga penguatan industri pengolahan.

Di sektor pangan, SF Hariyanto juga menyoroti upaya peningkatan produksi beras Riau. Pada 2025, produksi beras Riau tercatat sekitar 133 ribu ton, yang baru memenuhi sekitar 23 persen kebutuhan konsumsi beras daerah.

Namun, produksi padi menunjukkan peningkatan pada 2026. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas panen padi mencapai sekitar 45 ribu hektare dengan produksi lebih dari 175 ribu ton gabah kering giling (GKG).

“Alhamdulillah, produksi pangan terus kita tingkatkan. Pada Januari sampai Agustus 2026, luas panen padi telah mencapai sekitar 45 ribu hektare, dengan produksi lebih dari 175 ribu ton gabah kering giling, tumbuh sekitar 6,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata SF Hariyanto.

Menurutnya, peningkatan produksi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia.

Dengan basis perkebunan yang kuat, komoditas yang beragam, serta peningkatan produksi pangan, Riau memiliki modal besar untuk memperkuat ekonomi daerah. Tantangannya kini adalah memastikan produktivitas, keberlanjutan, akses pasar, dan hilirisasi berjalan beriringan sehingga potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.


Berita Sebelumnya
Sawit Tetap Jadi Minyak Nabati Strategis, Ini Tiga Keunggulannya

Sawit Tetap Jadi Minyak Nabati Strategis, Ini Tiga Keunggulannya

Popularitas minyak sawit tidak terlepas dari karakteristik tanamannya yang produktif, fleksibel dalam pemanfaatan serta memiliki nilai ekonomi yang besar bagi negara produsen, termasuk Indonesia.

17 September 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *