
sawitsetara.co - PEKANBARU — Beasiswa SDM Sawit tidak lahir begitu saja. Program pendidikan bagi anak-anak pekebun sawit tersebut berawal dari gagasan untuk mengembalikan manfaat sektor sawit kepada keluarga petani yang menjadi bagian penting dalam industri kelapa sawit.
Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, mengatakan, gagasan beasiswa bagi anak petani sawit mulai diperjuangkan salah satunya oleh APKASINDO sejak 2017.
Menurut Dr. Gulat, pada awalnya muncul gagasan agar petani sawit ikut berkontribusi untuk membantu pendidikan anak-anak pekebun. Kontribusi tersebut disebut sebesar Rp100 per kilogram hasil sawit.
“Ini sebenarnya ide dari APKASINDO tahun 2017,” kata Dr. Gulat dalam kegiatan pelepasan penerima Beasiswa SDM Sawit dari Provinsi Riau di Asrama Haji Pekanbaru, Senin (21/9/2026).
Gagasan tersebut kemudian berkembang hingga akhirnya diadopsi menjadi program nasional oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), kini BPDP. Beasiswa selanjutnya diberikan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga pekebun dan pekerja sektor kelapa sawit.
Dr. Gulat menegaskan, penerima beasiswa tidak seharusnya memandang bantuan pendidikan tersebut sebagai pemberian semata. Sebab, menurut dia, dana yang mendukung program tersebut berkaitan dengan kontribusi dari sektor kelapa sawit dan petani.
“Jangan anggap beasiswa ini hasil “mengemis”, sebab dananya dipungut dari dana BPDP yang bersumber dari pungutan ekspor. Lantas apa hubungannya dengan petani sawit? Karena biaya pungutan ekspor itu diambil dari harga TBS petani sawit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sektor sawit memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan para penerima beasiswa. Karena itu, anak-anak petani yang mendapatkan kesempatan pendidikan tersebut diharapkan memahami bahwa program itu memiliki hubungan dengan kontribusi orang tua dan sektor tempat mereka berasal.
Dr. Gulat juga mengingatkan mahasiswa penerima beasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Beasiswa tersebut, kata dia, mencakup pendidikan hingga sertifikasi, sehingga harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
“Jangan lihat D-1, D-2, D-3, D-4 atau S-1. Tetapi lihatlah programnya,” katanya.
Menurut Dr. Gulat, jenjang pendidikan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penerima beasiswa. Yang lebih penting adalah kompetensi yang diperoleh dan manfaatnya setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia mencontohkan, lulusan pendidikan vokasi dapat langsung memasuki dunia kerja di sektor perkebunan. Karena itu, mahasiswa diminta serius menjalani pendidikan dan memahami peluang yang tersedia setelah lulus.
Dr. Gulat juga menyampaikan bahwa tidak semua anak petani mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh beasiswa. Karena itu, mahasiswa yang telah terpilih diminta bersyukur sekaligus menjaga prestasi selama menjalani pendidikan. “Banyak yang belum mendapatkan kesempatan,” ujarnya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *