
sawitsetara.co - JAKARTA – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia hingga November 2025 kembali menegaskan peran strategis komoditas unggulan nasional. Di tengah dinamika ekonomi global, kelapa sawit bersama nikel dan produk turunannya tampil sebagai dua pilar utama yang menopang surplus neraca perdagangan Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 membukukan surplus sebesar US$2,66 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, mencerminkan daya tahan ekspor nasional di tengah tekanan eksternal.

Surplus tersebut terutama bersumber dari sektor nonmigas yang pada November 2025 mencatat kelebihan perdagangan sebesar US$4,64 miliar. Di dalamnya, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati—yang didominasi produk kelapa sawit—menjadi penyumbang terbesar, disusul besi dan baja serta nikel dan produk turunannya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa kontribusi komoditas berbasis sumber daya alam masih sangat dominan dalam menjaga kinerja perdagangan Indonesia. Sawit berperan sebagai penopang utama surplus, sementara nikel semakin strategis seiring meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku industri dan energi baru.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar. Surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh sektor nonmigas yang mencapai US$56,15 miliar, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit US$17,61 miliar akibat tingginya impor minyak mentah dan hasil minyak.

Berdasarkan kelompok barang, lemak dan minyak hewan atau nabati mencatat surplus nonmigas terbesar dengan nilai mencapai US$30,29 miliar. Di saat yang sama, nikel dan produk turunannya kembali menjadi salah satu kontributor utama ekspor bernilai tinggi, memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global, khususnya untuk industri baja tahan karat dan kendaraan listrik.
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Ke India, surplus perdagangan antara lain ditopang oleh ekspor minyak nabati, bahan bakar mineral, serta produk berbasis logam termasuk nikel. Sementara ke Filipina, ekspor bahan bakar mineral, kendaraan, dan minyak nabati memberi kontribusi signifikan.
Di sisi lain, defisit perdagangan nonmigas masih tercatat dalam hubungan dagang dengan Tiongkok, terutama akibat tingginya impor mesin mekanis, peralatan elektrik, serta kendaraan dan komponennya. Meski demikian, kinerja ekspor sawit dan nikel dinilai mampu menahan tekanan defisit tersebut.

“Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan barang Indonesia Januari hingga November 2025 mencapai US$38,54 miliar, meningkat US$9,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Konsistensi ini tidak terlepas dari peran sawit dan nikel sebagai komoditas unggulan ekspor nasional,” ujar Pudji.
Dengan kombinasi sawit sebagai penopang utama dan nikel sebagai motor baru ekspor bernilai tambah, struktur perdagangan Indonesia dinilai semakin kokoh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *