KONSULTASI
Logo

RSPO Ungkap Pekebun Swadaya Perlu Diperkuat agar Tak Tersisih dari Pasar Global

1 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorEditor
RSPO Ungkap Pekebun Swadaya Perlu Diperkuat agar Tak Tersisih dari Pasar Global

sawitsetara.co - NUSANTARA — Pekebun swadaya menjadi salah satu mata rantai penting dalam industri kelapa sawit Indonesia. Namun, daya saing mereka masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan dan informasi pasar, kelembagaan yang belum kuat, hingga tuntutan sertifikasi dan regulasi keberlanjutan di pasar global.

Hal tersebut disampaikan Guntur Cahyo Prabowo dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dalam International Oil Palm Smallholder Forum (IOPS Forum) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).

Dalam paparannya bertajuk “Daya Saing Minyak Sawit Pekebun Swadaya Indonesia”, Guntur menggambarkan kondisi sekitar 2,4 juta petani sawit yang umumnya mengelola kebun dengan luasan sekitar dua hektare per petani. Sebagian pekebun masih belum terpetakan, memiliki akses pembiayaan yang rendah dan menghadapi persoalan regenerasi karena usia petani yang semakin menua.

“Selain persoalan struktural, pekebun swadaya juga menghadapi keterbatasan dari sisi operasional. Manajemen kebun yang terbatas, orientasi usaha jangka pendek dan minimnya informasi menjadi tantangan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat posisi tawar petani,” katanya.

DPP

Dari sisi kelembagaan, ketergantungan terhadap pihak lain, rendahnya kepercayaan dan belum kuatnya suara petani dalam rantai pasok turut menjadi persoalan. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan daya saing pekebun swadaya.

Sertifikasi dan Akses Pasar

Guntur juga menyoroti aspek sertifikasi sebagai bagian dari tantangan sekaligus peluang bagi pekebun. Dalam materi RSPO disebutkan sekitar 40 persen petani telah tersertifikasi. Angka tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang besar untuk memperluas keterlibatan pekebun dalam sistem produksi sawit berkelanjutan.

Namun, persoalan tidak berhenti pada sertifikasi. Pasar minyak sawit berkelanjutan juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain konsentrasi pembeli yang hanya sekitar dua hingga tiga pembeli yang konsisten, tren penurunan harga kredit IS, serta ketergantungan yang lebih dari 70 persen terhadap kredit dibandingkan produk fisik.

“Hanya ada dua sampai tiga pembeli yang konsisten, sementara harga kredit IS menunjukkan tren penurunan,” menjadi salah satu catatan dalam paparan RSPO mengenai kondisi pasar sawit berkelanjutan.

Guntur juga menyoroti masih terbatasnya informasi pasar yang dapat menjadi dasar pengadaan sawit dari pekebun kecil. Kondisi tersebut membuat petani belum sepenuhnya memiliki gambaran mengenai kebutuhan pasar dan peluang yang tersedia bagi produk sawit berkelanjutan.

DPP

EUDR Berpotensi Jadi Tantangan

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Regulasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan kesiapan data dan ketelusuran dari rantai pasok sawit.

Dalam paparannya, RSPO secara tegas mencatat “EUDR = potential for exclusion”, atau EUDR berpotensi menimbulkan eksklusi terhadap pekebun.

Persoalan tersebut semakin penting karena pekebun swadaya harus berhadapan dengan tuntutan ketelusuran, sertifikasi dan standar keberlanjutan yang semakin menentukan akses terhadap pasar internasional.

Karena itu, penguatan daya saing petani tidak cukup dilakukan melalui peningkatan produksi. Pekebun juga membutuhkan dukungan dalam pemetaan dan pendataan kebun, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, peningkatan kapasitas manajemen, sertifikasi serta akses terhadap informasi dan pasar.

Guntur juga mencatat bahwa prinsip tanggung jawab bersama (shared responsibility) dalam rantai pasok masih lebih banyak menjadi wacana, sementara pengaruh broker atau perantara pasar terhadap rantai pasok pekebun belum sepenuhnya diketahui.

DPP

Petani Harus Memiliki Posisi Tawar

IOPS Forum 2026 menjadi momentum untuk membahas bagaimana pekebun swadaya dapat memperoleh posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai sawit. Penguatan organisasi petani dan koperasi menjadi penting agar pekebun tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi pasar, regulasi dan tuntutan keberlanjutan.

Dengan kelembagaan yang lebih kuat, petani memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pembiayaan, informasi pasar, sertifikasi dan pembeli. Pada saat yang sama, peningkatan kapasitas manajemen dan pemanfaatan teknologi dapat membantu petani memperbaiki produktivitas serta memenuhi tuntutan ketelusuran.

Tantangan regenerasi juga perlu dijawab. Generasi muda harus diberikan peluang untuk melihat perkebunan sebagai usaha yang memiliki masa depan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital, pengembangan bisnis dan akses pasar yang lebih luas.

Tags:

RSPOIOPSInternational Oil Palm Smallholder ForumBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui pengelolaan lahan yang lebih produktif, termasuk pengembangan tanaman pangan seperti jagung dan singkong melalui pola tumpangsari, serta pemanfaatan lahan secara berkelanjutan untuk peternakan dan hortikultura.

31 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *