
sawitsetara.co - BOGOR – Industri kelapa sawit dinilai tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga memiliki sejumlah keunggulan ekologis yang kerap luput dari perhatian publik.
Guru Besar IPB University, Prof. Hariyadi, memaparkan sejumlah hasil riset yang menunjukkan kelapa sawit memiliki efisiensi penggunaan air, kemampuan menghasilkan oksigen, hingga kapasitas menyimpan karbon yang kompetitif dibandingkan sejumlah komoditas perkebunan lain.
Paparan itu disampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University bertajuk “Nexus Baru dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan”, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Prof. Hariyadi , industri sawit telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia karena menyediakan lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ia menyebut luas perkebunan sawit nasional mencapai sekitar 17 juta hektare, terdiri atas lebih dari 7 juta hektare kebun rakyat, lebih dari 8 juta hektare perkebunan swasta, dan sekitar 1,2 juta hektare perkebunan milik BUMN.
“Sawit juga sebagai sumber pendapatan masyarakat juga mendukung industri hilir, pembangunan daerah dan program bioenergi,” ujar Prof. Hariyadi.

Produksi Oksigen Mendekati Hutan Tropis
Salah satu temuan yang dipaparkan berkaitan dengan kemampuan kelapa sawit menghasilkan oksigen. Berdasarkan data penelitian Henson (1999) serta PPKS (2004, 2005), hutan tropis menghasilkan sekitar 25,3 ton oksigen per hektare per tahun, sedangkan kebun kelapa sawit berumur di atas 12 tahun mampu menghasilkan 21,2 ton per hektare per tahun.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tanaman budidaya lain seperti padi yang menghasilkan sekitar 12,5 ton, serta tanaman karet sekitar 18,5 ton oksigen per hektare per tahun.
Prof. Hariyadi menjelaskan tingginya produksi oksigen hutan tropis berkaitan dengan biomassa dan keanekaragaman hayati yang lebih besar. Namun, dari sisi tanaman budidaya, sawit menunjukkan produktivitas biologis yang relatif tinggi.
Efisien Menggunakan Air
Prof. Hariyadi juga menanggapi anggapan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman yang boros air. Ia mengatakan berbagai hasil penelitian justru menunjukkan sawit memiliki efisiensi penggunaan air yang baik apabila diukur berdasarkan hasil produksi.
Merujuk penelitian Gibbs-Lopez et al. (2009), kebutuhan air untuk menghasilkan satu ton tandan buah segar (TBS) sawit berada pada kisaran 700–1.300 meter kubik per ton produksi.
Sebagai pembanding, padi membutuhkan sekitar 1.800–3.000 meter kubik, jagung 800–1.500 meter kubik, kedelai 2.000–4.000 meter kubik, dan karet 2.500–7.000 meter kubik air untuk setiap ton hasil produksinya.
Data tersebut, menurut Prof. Hariyadi , menunjukkan sawit termasuk tanaman dengan kebutuhan air per satuan produksi yang relatif rendah dibandingkan sejumlah komoditas pertanian lainnya.

Simpan Karbon Lebih Tinggi Dibanding Sejumlah Tanaman Perkebunan
Hasil riset juga memaparkan kemampuan kebun sawit menyimpan karbon. Temuan itu ditampilkan dalam perbandingan stok karbon berbagai tipe penggunaan lahan berdasarkan penelitian Prof. Hariyadi et al. (2005) dan Syahputra et al. (2025). Hutan primer tercatat memiliki stok karbon tertinggi, yakni 219,37 ton karbon per hektare.
Sementara itu, kebun kelapa sawit berumur 15 tahun memiliki stok karbon sekitar 70,25 ton per hektare atau sekitar 32 persen dari hutan primer. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan teh budidaya umur 15 tahun (18,22 ton), cengkeh hutan umur 15 tahun (34,65 ton), maupun pala umur 15 tahun (20,82 ton).
Prof. Hariyadi juga menyebut angka simpanan karbon sawit lebih rendah dibanding kebun campuran atau agroforestri (108,82 ton) dan hutan pinus berumur 20 tahun (87,93 ton), namun tetap menunjukkan kapasitas penyerapan karbon yang cukup besar untuk tanaman perkebunan.
Ia menambahkan, pada umur tanaman yang sama, yakni 15 tahun, biomassa sawit yang tumbuh cepat dan padat menjadikannya unggul dalam penyerapan karbon dibandingkan beberapa komoditas perkebunan sejenis.

Pendekatan Baru untuk Keberlanjutan
Prof. Hariyadi menekankan bahwa keunggulan produktivitas dan aspek ekologis sawit harus ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan yang lebih luas.
““Nexus Baru” harus mengintegrasikan berbagai aspek—mulai dari produktivitas, ketahanan iklim, ekonomi sirkular, hingga digitalisasi—untuk menjawab tantangan global seperti emisi karbon, perubahan iklim, dan standar environment, social, governance (ESG),” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Prof. Hariyadi menilai pengelolaan perkebunan kelapa sawit tidak lagi cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus mampu menjawab tuntutan keberlanjutan yang semakin mengemuka di tingkat global.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *