
sawitsetara.co - JAKARTA — Pusat Perkebunan Berkelanjutan Setara Indonesia (BESTARI) resmi lolos sebagai salah satu lembaga penyelenggara Program Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Tahun 2026 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Pengumuman tersebut tertuang dalam surat bernomor PENG-2/BPDP/2026 yang ditetapkan pada Senin, 7 April 2026. BESTARI menjadi satu dari 19 lembaga yang dinyatakan memenuhi kriteria untuk menyelenggarakan pelatihan sektor perkebunan.

Direktur Pusat Perkebunan BESTARI, Dr. Mulono Apriyanto, STP. MP. C. APO, mengatakan lembaga yang dipimpinnya dibentuk atas dasar kepedulian terhadap keterbatasan pendampingan bagi petani sawit swadaya.
“Selama ini kita melihat ada kebutuhan besar untuk pelatihan dan pendampingan petani swadaya, baik dari sisi budidaya, panen, manajemen hingga kelembagaan. Dari situlah Pusat Perkebunan BESTARI dibentuk,” ujar Dr. Mulono kepada sawitsetara.co, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, selain fokus pada aspek teknis budidaya, Pusat Perkebunan BESTARI juga memiliki perhatian terhadap keberlanjutan, khususnya dalam mendukung sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Pendampingan akan dilakukan mulai dari pelatihan, penyusunan dokumen, hingga proses menuju sertifikasi.

Meski demikian, Dr. Mulono mengakui saat ini lembaganya belum memiliki kewenangan resmi untuk menyelenggarakan pelatihan ISPO secara langsung.
“Kami belum terdaftar sebagai lembaga pelatihan ISPO, walaupun tenaga pelatih kami sudah memiliki sertifikasi. Ke depan itu menjadi target kami,” katanya.
Terkait lolosnya Pusat Perkebunan BESTARI dalam program BPDP, Dr. Mulono menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak, khususnya BPDP sebagai penyelenggara.
Ia menilai program pelatihan SDM perkebunan sangat penting, namun perlu ditingkatkan dari sisi efektivitas. Salah satu kelemahan yang masih sering ditemui adalah tidak adanya pendampingan pasca-pelatihan.
“Sering kali pelatihan hanya berhenti di kegiatan kelas. Tidak ada pendampingan lanjutan, sehingga dampaknya ke kebun tidak maksimal. Di sinilah kami ingin berbeda, kami akan mendampingi petani setelah pelatihan,” tegasnya.

Menurutnya, pendampingan tersebut penting untuk memastikan petani benar-benar menerapkan ilmu yang didapat, sekaligus mengidentifikasi kendala di lapangan. Namun, ia juga mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program, di antaranya keterbatasan waktu dan belum diketahuinya lokasi serta identitas peserta pelatihan.
“Peserta dan lokasi ditentukan oleh BPDP, sehingga itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam mempersiapkan pelaksanaan,” katanya.
Ke depan, Pusat Perkebunan BESTARI berharap dapat terus dipercaya BPDP untuk menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan lainnya, tidak hanya di bidang budidaya, tetapi juga kelembagaan, ISPO, dan Internal Control System (ICS).



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *