KONSULTASI
Logo

Produksi Sawit Menurun, Didiek Goenadi Soroti Tanah Tidak Sehat hingga Benih Bermutu

16 Oktober 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Produksi Sawit Menurun, Didiek Goenadi Soroti Tanah Tidak Sehat hingga Benih Bermutu

sawitsetara.co - Penurunan produksi kelapa sawit tidak semata-mata disebabkan perubahan iklim dan kemarau panjang. Kondisi tanah yang kurang sehat, penggunaan benih yang tidak bermutu, hingga pengelolaan kebun yang belum sesuai standar operasional prosedur (SOP) turut menjadi faktor yang memengaruhi produktivitas perkebunan.

Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII), Prof. (Ris). Ir. H. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, PhD, INV, menegaskan bahwa keberhasilan perkebunan kelapa sawit sangat ditentukan oleh dua aset utama, yakni tanah dan tanaman. Keduanya membutuhkan pengelolaan yang tepat agar mampu mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.

“Kalau kita bicara penurunan produksi, itu kembali kepada aset awalnya. Dalam perkebunan kelapa sawit terdapat dua faktor utama yaitu tanah dan tanaman,” ujarnya, seperti dikutip dari Sawit Indonesia.

Menurut Didiek, persoalan kesuburan tanah menjadi perhatian penting karena banyak perkebunan kelapa sawit dikembangkan di lahan marginal yang memiliki tingkat kesuburan relatif rendah. Tanpa pengelolaan yang memadai, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman sekaligus menurunkan efektivitas pemupukan.

Karena itu, penyehatan tanah perlu menjadi bagian utama dalam strategi peningkatan produktivitas sawit, bukan sekadar tindakan tambahan ketika hasil panen mulai menurun.

“Efisiensi pemupukan hanya bisa dicapai kalau kita menyehatkan tanah. Kalau tanahnya masih sakit, masih lelah, diberi pupuk berapa pun tidak akan efektif,” tegasnya.

Didiek menjelaskan, salah satu langkah untuk memperbaiki kondisi tanah adalah mengembalikan biomassa yang tidak terbawa saat panen ke dalam tanah. Upaya ini dapat membantu mempertahankan kandungan bahan organik sekaligus menjaga stok karbon.

DPP

Selain itu, penanaman cover crop atau tanaman penutup tanah sejak awal pembangunan perkebunan perlu mendapat perhatian lebih besar.

Praktik tersebut masih kerap diabaikan, antara lain karena keterbatasan tenaga kerja. Padahal, tanaman penutup tanah berperan mengurangi erosi, menjaga kelembapan, dan menambah bahan organik yang mendukung kesehatan tanah.

Perbaikan kondisi tanah juga perlu diiringi penggunaan benih unggul dari sumber yang terjamin. Menurut Didiek, benih bermutu merupakan investasi awal yang menentukan potensi produktivitas tanaman selama masa pengusahaan kebun.

Dengan demikian, peningkatan hasil panen tidak cukup dilakukan melalui penambahan pupuk, tetapi harus dimulai dari perbaikan kualitas tanah, pemilihan bahan tanam, dan pemeliharaan yang konsisten.

Selain faktor tanah dan tanaman, kekeringan, termasuk yang berkaitan dengan fenomena El Nino, dapat memperparah penurunan produksi kelapa sawit.

Ketersediaan air yang terbatas mengganggu metabolisme tanaman dan menghambat penyerapan unsur hara. Dalam kondisi tersebut, pemberian pupuk tambahan belum tentu memberikan hasil optimal karena tanaman tidak memperoleh air yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhannya.

Didiek menilai, perkebunan perlu memiliki strategi konservasi tanah dan air untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Pengelolaan bahan organik menjadi salah satu langkah yang dapat mendukung upaya tersebut.

DPP

Menurutnya, persiapan menghadapi kekeringan harus dilakukan jauh sebelum dampaknya terlihat pada tanaman. Perbaikan kondisi tanah dan pemulihan tanaman membutuhkan waktu sehingga tidak bisa diselesaikan secara instan ketika produksi sudah terlanjur merosot.

“Ketika kekeringan sudah muncul, kita baru panik. Padahal, tidak mungkin memperbaiki tanah dalam waktu singkat lalu langsung memperbaiki kondisi tanamannya,” ujar Didiek, yang juga merupakan Komite Litbang Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Di sisi lain, serangan hama dan penyakit juga perlu diantisipasi melalui pemantauan rutin dan deteksi dini. Langkah ini penting agar gangguan terhadap tanaman dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih luas dan berdampak pada hasil panen.

Didiek menyoroti pola pengelolaan perkebunan yang masih cenderung reaktif, yakni baru mengambil tindakan setelah muncul gejala kerusakan atau penurunan produksi.

Padahal, kelapa sawit merupakan tanaman tahunan yang membutuhkan waktu untuk merespons perubahan lingkungan maupun tindakan pemeliharaan. Karena itu, keterlambatan penanganan dapat memperbesar risiko kehilangan produksi dan meningkatkan biaya pemulihan.

Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen antisipatif yang menitikberatkan pada pencegahan. Pendekatan ini mencakup pemantauan kondisi tanah dan tanaman, pengelolaan air, pemupukan sesuai kebutuhan, penggunaan benih bermutu, serta penerapan SOP budidaya secara konsisten.

Penyehatan tanah, menurutnya, juga harus ditempatkan sebagai program jangka panjang. Pengelola kebun tidak seharusnya baru melakukan perbaikan ketika produktivitas mulai menurun, tetapi perlu membangun kondisi kebun yang lebih tangguh sejak awal.

DPP

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi biaya pemeliharaan, memperkuat ketahanan tanaman terhadap perubahan iklim, dan menjaga produktivitas perkebunan secara berkelanjutan.

“Yang diperlukan adalah manajemen yang antisipatif, bukan reaktif, dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit agar dapat mencapai tingkat keberlanjutan,” pungkasnya.


Berita Sebelumnya
Masih Berstatus Siswa, David Chung Kembangkan Biochar dari Limbah Sawit

Masih Berstatus Siswa, David Chung Kembangkan Biochar dari Limbah Sawit

Limbah perkebunan kelapa sawit mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku biochar melalui inisiatif IndoChar. Program yang digagas David Nathaniel Chung, siswa Jakarta Intercultural School (JIS), itu menggandeng petani sawit swadaya di Lampung untuk mengolah pelepah daun dan tandan kosong kelapa sawit.

15 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *