
sawitsetara.co – JAKARTA — Limbah perkebunan kelapa sawit mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku biochar melalui inisiatif IndoChar. Program yang digagas David Nathaniel Chung, siswa Jakarta Intercultural School (JIS), itu menggandeng petani sawit swadaya di Lampung untuk mengolah pelepah daun dan tandan kosong kelapa sawit.
Implementasi perdana di sektor perkebunan sawit tersebut dimulai pada 5 Oktober 2026. IndoChar bekerja sama dengan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dan salah satu koperasi di bawah jaringan organisasi tersebut.
Langkah ini memperluas penerapan teknologi pengolahan limbah biomassa yang dikembangkan IndoChar. Sebelumnya, inisiatif tersebut memulai proyek pertamanya di Desa Kepayang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Juni 2026.
Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui pemanasan biomassa dalam kondisi minim oksigen. Dalam sektor pertanian, material ini berpotensi membantu memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
David mengatakan, kolaborasi dengan petani menjadi kesempatan bagi IndoChar untuk mengembangkan solusi berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Bagi kami, kolaborasi ini bukan hanya tentang biochar, tetapi bagaimana sebuah solusi dapat dikembangkan bersama komunitas dan benar-benar relevan dengan kondisi mereka,” ujar David dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (12/10/2026).
Berawal dari Pengalaman Melihat Pembakaran Limbah
Gagasan IndoChar muncul ketika David menjalani program magang di perusahaan konservasi Forest Carbon pada 2025. Saat itu, ia masih berusia 15 tahun dan menyaksikan praktik pembakaran limbah biomassa di sejumlah desa di Sumatera Selatan.
Pengalaman tersebut mendorongnya mencari cara untuk mengolah limbah pertanian menjadi material yang lebih bermanfaat. Inisiatif ini kemudian berkembang dari proyek percontohan di Sumatera Selatan hingga menjangkau perkebunan kelapa sawit di Lampung.
Perjalanan David juga mendapat dukungan dan apresiasi dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Dukungan tersebut sejalan dengan komitmen keberlanjutan perusahaan dalam mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon serta memberdayakan talenta muda Indonesia yang menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim.
Kerja sama IndoChar dan SPKS bermula dari penandatanganan nota kesepahaman di Bogor pada 22 Agustus 2026. Kesepakatan itu menjadi landasan pengembangan proyek biochar berbasis komunitas, terutama dengan memanfaatkan potensi limbah perkebunan kelapa sawit.
Tahap berikutnya berlangsung pada 25 September 2026. Atas undangan SPKS, David mempresentasikan inisiatif IndoChar di hadapan anggota organisasi tersebut dalam Rapat Koordinasi Nasional 2026 di Hotel 101 Menteng, Jakarta.
Dalam forum itu, Ketua Umum SPKS Sabarudin Sabar mengusulkan Lampung sebagai lokasi penerapan pertama. Usulan tersebut terealisasi kurang dari dua pekan setelah presentasi.
“Saya melihat IndoChar sebagai kumpulan anak muda yang mau peduli terhadap lingkungan dan petani. Inisiatif seperti ini penting karena kita tidak hanya berbicara tentang limbah, tetapi juga bagaimana limbah dan polusi dapat dikurangi, lingkungan diperbaiki, dan pada akhirnya kehidupan komunitas petani dapat ikut meningkat,” ujar Sabarudin.
Pemilihan Lampung menjadi langkah awal untuk menguji penerapan pengolahan limbah yang sesuai dengan kondisi petani sawit swadaya. Pendekatan berbasis komunitas juga membuka ruang bagi petani untuk terlibat langsung dalam pengembangan dan penerapan teknologi tersebut.
Biochar Berpotensi Tingkatkan Efisiensi Pemupukan
Pemanfaatan residu perkebunan dinilai relevan bagi petani yang menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses listrik. Limbah yang sebelumnya berpotensi dibakar dapat diolah kembali untuk mendukung sistem pertanian.
Penggunaan biochar bersama pupuk juga berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan. Material ini dapat membantu menahan unsur hara di dalam tanah sehingga mengurangi kehilangan unsur hara akibat pencucian atau leaching.
Meski demikian, manfaatnya bergantung pada karakteristik biochar, kondisi tanah, jenis tanaman, serta cara penggunaannya. Penerapan di lapangan menjadi kesempatan untuk mempelajari kesesuaian teknologi dengan kebutuhan kebun rakyat.
Ketua SPKS Lampung Y. Bambang Wijonarko mengapresiasi pendekatan David yang dinilai tidak sekadar berorientasi pada penerapan teori.
“Saya melihat ia sangat serius dalam mempelajari kebutuhan petani dan kendala yang mereka hadapi saat ini. Ia banyak bertanya dan bertukar pikiran agar dapat memberikan solusi yang tepat dan berkelanjutan bagi komunitas petani. Jadi, dia tidak hanya menjalankan teori begitu saja. Saya mengapresiasi hal ini dari David N. Chung,” ujarnya.
Setelah implementasi perdana di Lampung, IndoChar berencana memperluas program ke koperasi lain di bawah jaringan SPKS. Sebelumnya, inisiatif tersebut menargetkan ekspansi ke tiga hingga lima lokasi baru di berbagai wilayah Indonesia dalam satu tahun.
Perluasan ini diharapkan memperbanyak pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sekaligus memperkuat keterlibatan petani dalam pengembangan solusi rendah karbon.
“Kemajuan yang kami capai sejauh ini sangat menggembirakan. Kami sudah bergerak dari membangun gagasan dan mencari mitra menjadi mulai melakukan implementasi bersama komunitas. Kami berharap dapat segera melakukan roll-out ke lebih banyak lokasi dan terus belajar dari setiap proses di lapangan,” kata David.
Bagi IndoChar, Lampung bukan menjadi tujuan akhir. Implementasi tersebut merupakan tahap lanjutan untuk menguji gagasan, membangun kolaborasi dengan petani, dan memperluas pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan.
Keberhasilan program selanjutnya akan bergantung pada kesesuaian teknologi dengan kondisi kebun, keterlibatan koperasi, serta manfaat yang dapat dirasakan petani. Jika penerapan berjalan baik, model pengolahan limbah berbasis komunitas ini berpeluang direplikasi di sentra perkebunan kelapa sawit lainnya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *