KONSULTASI
Logo

Premium Price, Premium Quality, Ini Alasan Harga TBS Malaysia Bisa Lebih Tinggi

1 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
 Premium Price, Premium Quality, Ini Alasan Harga TBS Malaysia Bisa Lebih Tinggi

sawitsetara.co - NUSANTARA — Mekanisme penetapan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Malaysia menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Presiden Persatuan Kebangsaan Pekebun-Pekebun Kecil Malaysia (PKPKM) atau National Association of Smallholders Malaysia (NASH), Tuan Haji Adzmi bin Hassan, menjelaskan bahwa harga TBS bagi pekebun kecil di Malaysia berkaitan erat dengan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), harga palm kernel, tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER), serta sejumlah biaya dalam rantai pemasaran.

Dalam paparannya mengenai FFB Pricing Mechanism in Malaysia, Adzmi menunjukkan bahwa formula harga TBS mengacu pada formula Malaysian Palm Oil Board (MPOB), dengan memperhitungkan harga CPO, export charge, biaya transportasi CPO, OER, harga palm kernel, kernel extraction rate serta biaya pengolahan di pabrik.

“Penetapan harga TBS harus melihat nilai yang dihasilkan dari buah sawit, terutama melalui kualitas dan tingkat ekstraksi minyak. Karena itu, pekebun kecil perlu memahami bagaimana harga tersebut dihitung agar dapat mengetahui nilai sebenarnya dari TBS yang mereka hasilkan,” kata Adzmi saat sesi sharing bersama narasumber dari berbagai negara, Kamis (27/8/2026).

apkasindo

Ia mencontohkan simulasi penghitungan harga berdasarkan formula MPOB. Dengan harga CPO local delivery sebesar RM4.000 per ton, export charge RM16 per ton dan biaya transportasi CPO RM80 per ton, sementara OER berada pada 18 persen, nilai dari komponen minyak mencapai RM702,72 per ton TBS.

Pada saat yang sama, dengan harga palm kernel sebesar RM3.500 per ton dan kernel extraction rate 5 persen, nilai kernel mencapai RM175 per ton. Setelah ditambahkan dan dikurangi biaya pengolahan sebesar RM95 per ton, diperoleh harga bersih indikatif sebesar RM782,72 per ton TBS.

Menurut Adzmi, angka tersebut merupakan harga indikatif atau harga acuan berdasarkan formula MPOB. Harga aktual yang diterima pekebun dapat berbeda karena dipengaruhi kualitas buah, hasil grading, jarak, logistik dan ketentuan penyerahan TBS.

“Yang penting bagi pekebun adalah memahami bahwa harga TBS bukan sekadar angka yang ditetapkan di tingkat pembeli. Ada formula, ada kualitas buah, ada OER, ada biaya pemasaran dan logistik yang semuanya berpengaruh terhadap nilai yang diterima pekebun,” ujarnya.

apkasindo

Adzmi juga menekankan pentingnya meningkatkan nilai produksi sekaligus menekan biaya produksi dan pemasaran. Dalam presentasinya, konsep tersebut dirumuskan melalui Production Value (PV), Production Cost (PC), Marketing Value (MV) dan Marketing Cost (MC).

Menurut dia, pendapatan pekebun akan semakin baik ketika nilai produksi dan nilai pemasaran meningkat, sementara biaya produksi dan pemasaran dapat ditekan. Dengan demikian, peningkatan produktivitas dan kualitas TBS harus berjalan beriringan dengan efisiensi biaya.

“Pendapatan yang lebih baik tidak hanya datang dari menghasilkan lebih banyak TBS, tetapi juga dari menghasilkan TBS dengan kualitas yang lebih tinggi, meningkatkan nilai OER dan mengelola biaya produksi serta biaya pemasaran secara efisien. Prinsipnya adalah menciptakan nilai yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih rendah,” tutur Adzmi.

Dalam sesi tersebut, PKPKM juga menyoroti pentingnya integrasi yang lebih kuat di antara para pelaku rantai nilai kelapa sawit. Transparansi informasi, digitalisasi dan pencegahan manipulasi biaya dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih efisien.

apkasindo

PKPKM menekankan perlunya stronger integration antar-pelaku rantai nilai, menghindari penundaan dan manipulasi biaya, serta memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi data dan pengambilan keputusan. Selain itu, kualitas dan informasi yang jelas serta konsisten di sepanjang rantai nilai dinilai penting untuk mendukung penerapan prinsip premium price, premium quality.

PKPKM sendiri merupakan organisasi pekebun kecil Malaysia yang berdiri sejak 1975. Organisasi tersebut memiliki sekitar 150.000 anggota terdaftar, termasuk 47.000 anggota aktif, dengan dukungan 66 cabang di Semenanjung Malaysia. PKPKM juga berperan dalam advokasi kepentingan pekebun kecil, peningkatan kapasitas, pertanian berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan dan daya saing pekebun.

Kehadiran PKPKM dalam IOPS Forum 2026 memberikan perspektif mengenai bagaimana mekanisme harga TBS dan pengelolaan nilai di tingkat pekebun dapat dibangun berdasarkan formula, kualitas produksi, efisiensi biaya dan transparansi rantai pasok.

Bagi forum yang mempertemukan pekebun sawit dari berbagai negara, pengalaman Malaysia tersebut menjadi salah satu bahan perbandingan dalam membahas penguatan posisi pekebun kecil, khususnya dalam memperoleh harga TBS yang lebih transparan dan mencerminkan nilai produksi yang dihasilkan.

Tags:

IOPSInternational Oil Palm Smallholder ForumAPKASINDOharga TBS

Berita Sebelumnya
Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui pengelolaan lahan yang lebih produktif, termasuk pengembangan tanaman pangan seperti jagung dan singkong melalui pola tumpangsari, serta pemanfaatan lahan secara berkelanjutan untuk peternakan dan hortikultura.

31 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *