
sawitsetara.co - NUSANTARA — Petani kelapa sawit Ghana memiliki mekanisme harga minimum untuk tandan buah segar (TBS) atau Fresh Fruit Bunches (FFB) atau Buah Tandan Segar (TBS) yang ditetapkan pemerintah melalui Tree Crops Development Authority (TCDA).
Mekanisme tersebut dipaparkan President Oil Palm Development Association of Ghana (OPDAG), Paul Amaning, dalam rangkaian sesi sharing International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
Dalam presentasinya, Paul menjelaskan bahwa Minimum Producer Price (MPP) merupakan harga minimum yang diumumkan TCDA untuk FFB kelapa sawit. Namun, harga tersebut bukan berarti menjadi satu harga transaksi yang sama untuk seluruh petani.
Menurut dia, harga transaksi aktual masih dapat dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kualitas buah, lokasi, biaya logistik, pengaturan kontrak, dan kondisi pasar.
“MPP adalah harga minimum, bukan harga transaksi tetap tunggal,” kata Paul dalam sesi tersebut.
Ia menjelaskan, kebijakan harga tersebut menjadi penting karena pendapatan petani sangat dipengaruhi nilai FFB serta perkembangan pasar produk hilir, terutama crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO).
“Penetapan harga yang transparan dan dapat diprediksi mendukung insentif petani, keberlanjutan pengolah, dan investasi berkelanjutan di seluruh rantai nilai,” ujarnya.
Diatur melalui regulasi pemerintah
Paul mengatakan mekanisme harga minimum FFB di Ghana berada di bawah pengawasan TCDA. Lembaga tersebut dibentuk berdasarkan Tree Crops Development Authority Act, 2019 (Act 1010) untuk mengatur, mengembangkan, dan mempromosikan subsektor tanaman perkebunan yang menjadi kewenangannya, termasuk kelapa sawit.
Ketentuan mengenai harga minimum FFB kemudian diatur lebih rinci dalam Tree Crops Regulations, 2023 (L.I. 2471). Regulasi tersebut mencakup formula penetapan harga minimum, musim pembelian, hingga ketentuan perdagangan.
Dalam Regulation 47, kata Paul, terdapat pembedaan antara hasil perkebunan (produce) dan produk olahan (product). FFB sebagai hasil perkebunan mendapatkan harga minimum, sementara produk seperti CPO dan PKO ditentukan berdasarkan mekanisme pasar.
“Produk pertanian, seperti FFB (Fresh Fruit Bunch), mendapatkan harga minimum produsen, sedangkan produk seperti CPO (Carbon Coconut Oil) dan PKO (Purple Knockout Oil) ditentukan oleh kekuatan pasar,” jelasnya.
Harga dihitung berdasarkan CPO dan PKO
Paul menjelaskan, harga minimum FFB di Ghana dihitung setiap bulan menggunakan formula yang menghubungkan harga produk sawit dengan harga yang diterima petani.
Dalam formula tersebut, komponen yang diperhitungkan mencakup 18 persen dari nilai landed value CPO dan 0,79 persen dari nilai landed value PKO dalam mata uang Ghana. Nilai tersebut kemudian dikurangi biaya pengolahan dan margin pabrik, margin agregator, pungutan TCDA, serta biaya transportasi untuk menghasilkan harga minimum FFB.
Sebagai ilustrasi, untuk periode referensi 26 Juni hingga 25 Juli 2026, harga referensi CPO tercatat US$1.069,20 per ton, sedangkan CPKO US$2.149,47 per ton. Dengan nilai tukar Bank of Ghana sebesar GH₵11,44783 per US$, formula tersebut menghasilkan harga minimum FFB sebesar GH₵1.699,70 per ton atau sekitar GH₵1,70 per kilogram.
Paul menegaskan angka tersebut merupakan gambaran untuk satu periode dan bukan harga tetap sepanjang tahun.
Transparansi menjadi kunci
Menurut Paul, mekanisme harga minimum memberikan sejumlah manfaat potensial bagi rantai nilai kelapa sawit Ghana. Di antaranya memberikan kepastian yang lebih besar bagi petani, membantu perencanaan biaya bahan baku bagi pabrik, memperkuat posisi tawar produsen, serta meningkatkan transparansi harga FFB.
Mekanisme tersebut juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investasi dan koordinasi antara petani, agregator, pabrik, pengolah, hingga pasar. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada efektivitas implementasi di seluruh rantai nilai.
Di sisi lain, Paul mengakui mekanisme tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Fluktuasi harga pasar global, perubahan nilai tukar mata uang Ghana, perbedaan kualitas dan pengukuran FFB, penyebaran informasi harga, penegakan aturan, hingga keberlanjutan margin pengolah menjadi sejumlah persoalan yang perlu diatasi.
Persaingan dengan perdagangan informal dan penyelundupan juga dapat memengaruhi daya saing produk yang dihasilkan secara domestik.
Petani diminta memperkuat posisi tawar
Untuk memperkuat sistem tersebut, OPDAG mendorong kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, petani, dan industri pengolahan.
Pemerintah dan TCDA didorong memperkuat pengawasan dan penegakan mekanisme harga minimum, mempercepat penyebaran informasi harga resmi, serta memperbaiki sistem penimbangan, pengukuran, dan pemantauan pasar.
Sementara itu, petani didorong menerapkan Best Management Practices (BMP), meningkatkan produktivitas tanpa perlu memperluas lahan secara berlebihan, memperkuat organisasi produsen dan kemampuan tawar kolektif, serta meningkatkan kualitas dan ketepatan waktu panen.
Paul menilai transparansi harga tidak dapat berdiri sendiri. Sistem tersebut harus didukung informasi pasar yang baik, komunikasi harga secara digital, ketertelusuran, akses pembiayaan, peningkatan produktivitas, serta hubungan yang lebih kuat antara petani dan pengolah.
“Penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang efektif dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani dan pembangunan ekonomi pedesaan jika didukung oleh produktivitas, akses pasar, dan pengembangan rantai nilai yang berkelanjutan,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Paul menekankan bahwa petani kecil tidak semata membutuhkan bantuan, tetapi membutuhkan sistem yang memastikan mereka memperoleh bagian yang adil dari nilai ekonomi yang telah mereka ciptakan.
“Petani kecil tidak menunggu sedekah. Ia menunggu bagian yang adil dari nilai yang telah ia ciptakan,” kata Paul.
Ia menambahkan, ketika petani mendapatkan identitas yang terverifikasi, penimbangan yang jujur, harga yang transparan, dan rekam jejak produksi yang jelas, petani akan mampu terus menopang rantai pasok industri sawit global. “Ketika petani kecil berhasil, dunia pun berhasil,” tutupnya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *