
sawitsetara.co - NUSANTARA — Ada “karyawan” di perkebunan kelapa sawit yang bekerja setiap hari tanpa mengenal hari libur. Tidak meminta upah, tidak membutuhkan ruang kantor, tetapi keberadaannya berkaitan dengan salah satu proses penting dalam produksi buah sawit.
“Karyawan” itu adalah kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.
Peran serangga penyerbuk tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026 melalui sesi bertajuk “Unlocking Yield Potential Through Pollination” yang digelar di Nusantara, Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
Materi yang disampaikan Ismy Agustin, S.P., M.I.Kom dari PT. Prasetia Dwidharma menempatkan proses penyerbukan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk membuka potensi hasil tanaman kelapa sawit. Dalam presentasi tersebut, Elaeidobius kamerunicus diperkenalkan sebagai serangga penyerbuk kelapa sawit.
Menariknya, peran kumbang tersebut digambarkan menggunakan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari di perkebunan. Elaeidobius kamerunicus disebut sebagai “karyawan” yang bekerja terus-menerus di areal perkebunan.
“Di setiap hektar kebun, Elaeidobius kamerunicus bekerja setiap hari, tanpa libur, dan tanpa sepeser pun gaji,” katanya.
Dengan jumlah dan aktivitas serangga penyerbuk yang berada di kebun, keberadaannya menjadi bagian dari proses alami yang mendukung penyerbukan tanaman kelapa sawit. Karena itu, perhatian terhadap populasi serangga penyerbuk menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan perkebunan.
Membuka Potensi Hasil
Judul sesi, Unlocking Yield Potential Through Pollination, secara langsung mengangkat gagasan untuk membuka potensi hasil melalui optimalisasi proses penyerbukan.
Bagi perkebunan kelapa sawit, produktivitas tidak hanya berkaitan dengan tanaman, pemeliharaan kebun, atau input produksi. Proses penyerbukan juga menjadi bagian dari rangkaian yang menentukan keberhasilan pembentukan buah.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Elaeidobius kamerunicus menjadi penting untuk diperhatikan. Serangga tersebut bekerja secara alami di lingkungan perkebunan dan menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung proses penyerbukan.
Materi Ismy kemudian tidak berhenti pada penjelasan mengenai keberadaan serangga penyerbuk. Dalam sesi tersebut juga diperkenalkan inovasi yang ditujukan untuk membantu mengundang dan meratakan populasi kumbang penyerbuk di areal perkebunan.
Inovasi itu adalah SYNOMON ARTECH.
Ismy menjelaskan SYNOMON ARTECH sebagai produk atraktan yang dapat mengeluarkan aroma menyerupai bunga kelapa sawit. Aroma tersebut ditujukan untuk mengundang sekaligus membantu meratakan populasi kumbang penyerbuk Elaeidobius spp.
“SYNOMON ARTECH adalah produk atraktan yang dapat mengeluarkan aroma menyerupai bunga kelapa sawit untuk mengundang dan meratakan populasi kumbang penyerbuk Elaeidobius spp,” katanya.
Produk tersebut menggunakan bahan aktif berbasis minyak atsiri alami. Selain itu, materi menyebut komponen yang digunakan dapat terdegradasi oleh lingkungan. Dari sisi aplikasi, SYNOMON ARTECH dirancang praktis dan mudah diaplikasikan dalam berbagai kondisi lapangan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *