
sawitsetara.co - PALEMBANG — Pemerintah menargetkan percepatan implementasi biodiesel B50 sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional. Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Perekonomian Dida Gardera mengatakan program ini direncanakan mulai berjalan pada 1 Juli 2026.
Pernyataan itu disampaikan dalam Andalas Forum VI yang digelar GAPKI di Hotel Aryaduta Palembang. Menurut Dida, percepatan B50 merupakan respons atas tekanan global, termasuk lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
“Sektor sawit kembali menjadi salah satu jawaban untuk menghadapi krisis,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia mengakui terdapat kekhawatiran bahwa peningkatan konsumsi domestik melalui program biodiesel akan menekan ekspor. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan hal berbeda. Pada saat penerapan B35 dan B40, kebutuhan dalam negeri meningkat signifikan, tetapi ekspor tetap tumbuh.
“Ketika konsumsi naik, produksi juga terdorong meningkat,” kata dia.
Dida menjelaskan, implementasi B50 diperkirakan mampu menghemat sekitar 2 juta kiloliter bahan bakar minyak (BBM) dengan nilai sekitar Rp24 triliun. Dalam skenario optimal, penghematan bahkan dapat mencapai Rp48 triliun.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor agar industri tetap berkelanjutan.
Dengan kontribusi besar terhadap ekonomi nasional, Dida menyebut sektor sawit sebagai salah satu “pahlawan ekonomi” Indonesia.
“Industri ini sudah terbukti menjadi tulang punggung ekonomi kita,” ujarnya.
Ia berharap percepatan program biodiesel dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan industri sawit nasional di tengah tekanan global.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *